Netwriter can get reward Join NowDaftar / Login Netwriter
08/08/2026
CITILIVE

Pustakawan UM: Era AI Justru Membuat Profesi Pustakawan Semakin Penting

Shinta lubis
  • Agustus 8, 2026
  • 3 min read
Pustakawan UM: Era AI Justru Membuat Profesi Pustakawan Semakin Penting

SMARTLIVE – Kemajuan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) tidak membuat profesi pustakawan kehilangan relevansinya. Sebaliknya, derasnya arus informasi justru meningkatkan kebutuhan terhadap pustakawan sebagai penjaga kualitas dan kredibilitas informasi.

Pustakawan Universitas Negeri Malang (UM) Teguh Yudi Cahyono, S.I.Pust., M.M. mengatakan perubahan teknologi telah menggeser peran pustakawan. Jika sebelumnya pustakawan identik dengan pengelolaan koleksi dan layanan peminjaman buku, kini perannya berkembang menjadi pengelola, kurator, sekaligus pendamping dalam pemanfaatan informasi.

Menurut Teguh, persoalan utama di era digital bukan lagi keterbatasan informasi, melainkan sulitnya memilah informasi yang benar di tengah jumlah konten yang terus bertambah.

“Di era ketika siapa pun dapat memproduksi informasi, tantangan terbesar bukan lagi kekurangan sumber bacaan, melainkan banjir informasi yang sulit dibedakan antara fakta, opini, dan disinformasi,” tegas Teguh.

Mesin pencari dan aplikasi berbasis AI memang mampu memberikan informasi dalam hitungan detik. Namun, kecepatan tersebut tidak otomatis menjamin akurasi, kredibilitas, maupun relevansi informasi yang diperoleh.

Kondisi tersebut membuat pustakawan memiliki peran strategis sebagai kurator informasi. Di lingkungan perguruan tinggi, peran itu semakin penting karena mahasiswa, dosen, dan peneliti membutuhkan sumber ilmiah yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pustakawan tidak hanya membantu penelusuran literatur, tetapi juga mendampingi pengelolaan referensi, pemahaman etika akademik, hingga membantu pengguna mengenali jurnal predator.

“Pustakawan bekerja di balik layar, tetapi dampaknya sangat nyata terhadap mutu pendidikan dan penelitian,” ujar Teguh saat diwawancarai Tim Humas UM, Senin (3/8/2026).

AI Bukan Pengganti Pustakawan

Kehadiran AI memunculkan kekhawatiran bahwa teknologi tersebut akan menggantikan sejumlah profesi, termasuk pustakawan. Namun, Teguh menilai anggapan tersebut terlalu sederhana.

Menurutnya, AI memang dapat mempercepat proses pencarian dan pengolahan informasi. Namun, kemampuan teknologi tersebut tetap perlu diimbangi dengan penilaian manusia, terutama dalam menilai konteks, kredibilitas, serta aspek etika penggunaan informasi.

Baca Juga:  Polres Malang Tangkap Pengedar Narkoba di Lawang, Sita 60,8 Gram Sabu

“AI memang mampu mempercepat pencarian informasi, tetapi belum mampu menggantikan penilaian kritis, pertimbangan etis, maupun kemampuan memahami konteks akademik secara utuh,” katanya.

Karena itu, pustakawan justru dituntut semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi. Kemampuan literasi data, pengelolaan informasi digital, pemanfaatan AI, hingga komunikasi menjadi kompetensi yang semakin dibutuhkan.

Transformasi tersebut juga membutuhkan dukungan perguruan tinggi. Perpustakaan dinilai perlu ditempatkan sebagai bagian strategis dari ekosistem pendidikan dan penelitian, bukan sekadar unit pelayanan.

Dari Penjaga Buku Menjadi Penjaga Pengetahuan

Perubahan teknologi membuat paradigma terhadap profesi pustakawan perlu diperbarui. Pustakawan tidak lagi hanya bertugas menjaga koleksi dan melayani peminjaman buku, tetapi juga menjadi mitra pembelajaran, pendamping penelitian, serta penggerak literasi digital.

Teguh menilai keberadaan pustakawan akan semakin penting ketika masyarakat menghadapi volume informasi yang semakin besar dan teknologi yang semakin mudah menghasilkan konten.

Dengan demikian, tantangan pustakawan ke depan bukan mempertahankan peran lama, melainkan beradaptasi dengan kebutuhan baru.

Pustakawan bukan sekadar penjaga koleksi, tetapi penjaga kualitas pengetahuan di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan AI.