Netwriter can get reward Join NowDaftar / Login Netwriter
08/08/2026
CITILIVE

Masuk Hari Kelima Bromo Terbakar 176 Hektare, Api Diduga Berawal dari Perapian di Jalur Tradisional

Shinta lubis
  • Agustus 8, 2026
  • 2 min read
Masuk Hari Kelima Bromo Terbakar 176 Hektare, Api Diduga Berawal dari Perapian di Jalur Tradisional

CITILIVE – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Kaldera Gunung Bromo, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), memasuki hari kelima dengan luas area terdampak mencapai sekitar 176 hektare. Titik awal api diduga berasal dari jalur tradisional masyarakat di kawasan perbukitan Blok Bantengan-Jantur.

Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha mengatakan dugaan tersebut berdasarkan pengecekan petugas terhadap lokasi awal munculnya api. Jalur tersebut berada di punggungan perbukitan yang menghubungkan kawasan Bantengan menuju Argosari dan biasa digunakan masyarakat sebagai akses tradisional menuju Ranu Pani.

Menurut Rudijanta, kebakaran diduga dipicu aktivitas manusia. Salah satu kemungkinan, terdapat warga yang berhenti di jalur tersebut saat cuaca dingin untuk membuat perapian atau api unggun, tetapi api tidak sepenuhnya padam sebelum lokasi ditinggalkan.

“Kalau pastinya dari manusia. Bukan dari alam,” tegas Rudijanta.

Ia menjelaskan, kondisi cuaca bukan menjadi sumber munculnya api. Namun, angin kencang dan kondisi vegetasi membuat api lebih cepat membesar dan merambat ke kawasan lain.

Kebakaran yang awalnya terdeteksi sekitar 7,9 hektare kemudian meluas menjadi 44 hektare, 51 hektare, hingga mencapai sekitar 176 hektare.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan perluasan area kebakaran menunjukkan kondisi di lapangan masih harus mendapat penanganan serius.

Tiga Titik Api Jadi Fokus Pemadaman

Medan berupa punggungan, lereng, dan tebing curam menjadi salah satu kendala utama pemadaman. Sejumlah titik api sulit dijangkau personel melalui jalur darat.

Ratusan personel gabungan tetap melakukan penanganan dari darat, terutama penyekatan untuk mencegah api menjalar ke kawasan lain.

Saat ini, sekitar tiga titik api masih menjadi fokus utama penanganan.

“Targetnya tinggal tiga titik. Besok insyaallah kalau satu lagi datang mudah-mudahan bisa lintas dan segera padam semua,” ujar Khofifah.

Baca Juga:  Buntut Penganugerahan Erick Thohir, Jajaran Senat UB Gelar Pres Conference

Angin Kencang Hambat Water Bombing

Operasi pemadaman dari udara belum dapat berjalan maksimal karena kondisi angin kencang di kawasan Bromo dan Malang. Kondisi tersebut membuat jumlah sorti helikopter tidak dapat dipastikan.

Khofifah mengatakan tambahan helikopter BNPB diharapkan memperkuat operasi pemadaman. Sumber air untuk water bombing juga relatif dekat karena helikopter dapat mengambil air dari kawasan Ranupani.

Selain helikopter, penanganan sempat menggunakan drone water spray. Namun, kapasitas air yang dapat dibawa drone hanya sekitar 100–150 liter sehingga lebih efektif untuk pembasahan dibandingkan pemadaman kebakaran dalam skala luas.

Tim gabungan kini terus berupaya memadamkan titik api sekaligus melakukan penyekatan agar kebakaran tidak kembali meluas di kawasan konservasi TNBTS.