Dies Natalis ke-65 sekaligus Lustrum ke-8 UIN Maliki Malang Berlangsung Meriah
SMARTLIVE – Perayaan Dies Natalis ke-65 sekaligus Lustrum ke-8 Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang berlangsung meriah dengan berbagai kegiatan yang melibatkan seluruh sivitas akademika. Salah satu agenda yang menarik perhatian adalah Lomba Nasyid yang digelar di Gedung Sport Center UIN Malang pada Kamis, 1 Oktober 2026. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga menjadi wadah bagi mahasiswa dan dosen untuk menyalurkan bakat seni sekaligus memperkuat nilai-nilai religius melalui lantunan lagu bernuansa Islami.
Dalam kompetisi tersebut, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FTIK) UIN Malang tampil dengan penuh semangat dan percaya diri. FTIK menunjukkan komitmennya dalam mendukung pengembangan minat dan bakat sivitas akademika dengan mengirimkan peserta pada kategori solo maupun grup. Kehadiran FTIK dalam ajang ini menjadi bukti bahwa dunia akademik dan pengembangan kreativitas dapat berjalan berdampingan secara harmonis. Pada kategori grup, FTIK menghadirkan kolaborasi yang menarik antara dosen dan mahasiswa. MuLara Arlisyah Putri sebagai perwakilan dosen tampil bersama sejumlah mahasiswa FTIK, yakni Salsabila Aulia Rahma, Wulan Andini, Nia AnL Wulan, Elok Nur Faiqoh, dan Zuhri Akbar. Mereka membawakan dua lagu religi yang cukup populer, yaitu “Dengan Menyebut Nama Allah” dan “Assalamualayka” yang dipopulerkan oleh Maher Zain.
Penampilan grup FTIK berhasil mencuri perhatian penonton. Harmoni suara yang padu, penghayatan lagu yang mendalam, serta kekompakan antaranggota menghadirkan suasana yang menginspirasi. Setiap lirik yang dinyanyikan terasa hidup dan mampu menyampaikan pesan spiritual kepada para penonton yang hadir. Kolaborasi antara dosen dan mahasiswa ini juga menunjukkan eratnya hubungan akademik yang tidak hanya terjalin di ruang kelas, tetapi juga dalam berbagai aktivitas pengembangan bakat di lingkungan kampus.
Sementara itu, pada kategori solo, FTIK mempercayakan Ahmad Shidiq Muslim, mahasiswa FTIK, untuk tampil mewakili fakultas. Dengan membawakan lagu berjudul “Q”, Ahmad tampil percaya diri di hadapan para juri dan penonton. Penampilannya menjadi salah satu contoh bagaimana mahasiswa dapat memanfaatkan ajang kampus sebagai sarana untuk mengasah kemampuan sekaligus membangun rasa percaya diri.
Lomba nasyid ini menjadi lebih dari sekadar ajang perebutan juara. Bagi para peserta, kesempatan tampil di panggung Dies Natalis merupakan pengalaman berharga yang dapat memperkaya kemampuan bermusik, meningkatkan keberanian tampil di depan umum, serta mengembangkan kreativitas dalam bidang seni Islami.Suasana semakin meriah dengan hadirnya para pendukung FTIK yang memberikan dukungan penuh kepada peserta.
Sorak-sorai dan yel-yel khas FTIK menggema di seluruh area Gedung Sport Center. Jargon “FTIK UIN Malang GAK EFTIK, NGGAK ASIK!” terdengar berulang kali dan menjadi penyemangat bagi para peserta yang sedang tampil. Dukungan tersebut mencerminkan kuatnya rasa kebersamaan dan solidaritas yang dimiliki keluarga besar FTIK. Dosen, mahasiswa, dan para suporter bersatu memberikan energi positif sehingga menciptakan atmosfer kompetisi yang hangat dan penuh kekeluargaan. Kehadiran para pendukung membuktikan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh mereka yang tampil di atas panggung, tetapi juga oleh dukungan dan semangat dari orang-orang di sekitarnya. Untuk memastikan kompetisi berlangsung secara profesional, panitia menghadirkan dua juri yang memiliki pengalaman panjang dalam dunia nasyid nasional.
Juri pertama adalah Yogie Tri Wicaksono atau yang lebih dikenal sebagai Igoy Azmi. Ia merupakan pengurus Nasyid Nusantara Jawa Timur, seorang solois, sekaligus pencipta lagu nasyid yang telah memiliki berbagai prestasi. Di antaranya adalah Juara 2 Nasyid Nusantara tahun 2004 dan Juara 2 Nasyid se-Jawa tahun 2005. Selain itu, ia juga pernah menjadi additional vocal grup nasyid Edcoustic pada tahun 2013. Adapun juri kedua adalah H. Yuniar Risdiyanto Rizki, S.P., yang dikenal sebagai Pembina Nasyid Nusantara Malang Raya. Pengalamannya di dunia nasyid juga sangat luas. Ia pernah menjadi anggota tim nasyid senior Izzatul Islam dan Suara Persaudaraan. Selain itu, ia juga dikenal sebagai Founder Bogor Nasheed Center (BNC) serta pengembang platform streaming nasyid QAULEE.COM.
Kehadiran kedua juri tersebut memberikan nilai tambah bagi kompetisi. Para peserta tidak hanya memperoleh penilaian yang objektif, tetapi juga mendapatkan kesempatan belajar dari sosok-sosok yang telah lama berkecimpung di dunia nasyid. Pengalaman ini menjadi bekal penting bagi mereka untuk terus berkembang di bidang seni dan dakwah melalui musik. Lomba Nasyid Dies Natalis ke-65 UIN Malang akhirnya menjadi salah satu kegiatan yang berhasil memadukan unsur seni, religi, kreativitas, dan kebersamaan dalam satu panggung yang inspiratif.
Keikutsertaan FTIK melalui kolaborasi dosen dan mahasiswa menunjukkan bahwa kampus tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu, tetapi juga ruang untuk mengembangkan potensi diri secara menyeluruh. Melalui semangat kebersamaan yang ditunjukkan selama kompetisi berlangsung, FTIK kembali membuktikan bahwa setiap momentum kampus dapat menjadi sarana untuk berkarya, mempererat solidaritas, serta menciptakan pengalaman berharga yang akan terus dikenang.
Dengan semangat “FTIK UIN Malang GAK EFTIK, NGGAK ASIK!”, keluarga besar FTIK terus melangkah maju, menumbuhkan kreativitas, dan menghadirkan kontribusi positif bagi lingkungan akademik maupun masyarakat luas.
