Netwriter can get reward Join NowDaftar / Login Netwriter
21/07/2026
CITILIVE

Rektor UM Dorong Mahasiswa Berani Bertanya, Kampus Tak Boleh Membungkam Nalar Kritis

Shinta lubis
  • Juli 21, 2026
  • 3 min read
Rektor UM Dorong Mahasiswa Berani Bertanya, Kampus Tak Boleh Membungkam Nalar Kritis

SMARTLIVE – Rektor Universitas Negeri Malang (UM) Prof. Dr. Hariyono, M.Pd. menegaskan perguruan tinggi harus menjadi ruang yang melahirkan budaya berpikir kritis dan keberanian bertanya. Menurutnya, kampus tidak boleh menjadi tempat yang membungkam perbedaan pendapat, melainkan harus mendorong lahirnya gagasan-gagasan baru melalui tradisi akademik yang sehat.

Pesan tersebut disampaikan Hariyono saat membuka bedah buku Berpikir Kritis demi Kehidupan yang Lebih Demokratis di Du Xiu Shu Fang UPT Perpustakaan UM, Kamis (9/7). Kegiatan menghadirkan Profesor Emeritus Monash University Ariel Heryanto, dosen UM Ronal Ridhoi, S.Hum., M.A., serta Yuventia Prisca sebagai narasumber.

Hariyono menilai kemampuan berpikir kritis menjadi fondasi utama bagi perguruan tinggi untuk melahirkan intelektual yang mampu menjawab berbagai persoalan bangsa.

“Saya berharap pikiran Pak Ariel menjadi salah satu ‘virus’ yang tumbuh di UM. Sejak menjadi mahasiswa saya sudah terpapar virus itu melalui tulisan-tulisannya,” ujar Hariyono.

Ia menegaskan ilmu pengetahuan tidak akan berkembang tanpa keberanian mempertanyakan sesuatu yang selama ini dianggap benar.

Mengutip filsuf Yunani Plato, Hariyono mengatakan bahwa pertanyaan merupakan mesin utama perkembangan ilmu pengetahuan.

“Mesin ilmu pengetahuan adalah pertanyaan. Harapan saya, di UM mereka yang suka bertanya tidak dianggap seperti Socrates yang harus minum racun. Justru kampus harus melahirkan semakin banyak intelektual yang kritis sekaligus produktif,” tegasnya.

Menurut Hariyono, budaya akademik yang sehat harus memberikan ruang bagi mahasiswa maupun dosen untuk berdialog, mengkritisi, dan mengembangkan gagasan tanpa rasa takut.

Sementara itu, dosen UM Ronal Ridhoi menjelaskan buku yang dibedah menghimpun sekitar 100 tulisan pilihan Ariel Heryanto yang membahas beragam isu strategis, mulai dari pendidikan, budaya, media, politik hingga demokrasi.

Baca Juga:  UIN Maliki–PWNU Jatim Sepakati Penguatan Beasiswa, Riset, dan Pengabdian Masyarakat

Ia menilai konsistensi Ariel Heryanto menyuarakan pemikiran kritis selama lebih dari empat dekade menjadi teladan bagi kalangan akademisi.

“Pak Ariel sejak era Orde Baru sudah kritis. Memasuki masa reformasi hingga sekarang, beliau tetap konsisten menyampaikan gagasan-gagasan yang mendorong masyarakat berpikir lebih terbuka,” ujarnya.

Ronal juga mengingatkan bahwa tugas akademisi tidak berhenti pada ruang kuliah maupun publikasi ilmiah. Menurutnya, pemikiran ilmiah harus hadir di ruang publik agar mampu memperkaya diskursus masyarakat.

“Karya ilmiah tidak boleh hanya berhenti di jurnal. Akademisi juga harus aktif menyampaikan gagasan kepada publik agar literasi masyarakat semakin berkembang,” katanya.

Melalui forum tersebut, UM menegaskan komitmennya membangun ekosistem akademik yang menjunjung tinggi kebebasan berpikir, dialog ilmiah, dan keberanian menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab.

Bagi UM, penguatan budaya berpikir kritis dinilai menjadi modal penting untuk mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, kemampuan analisis, serta kepedulian terhadap persoalan sosial dan demokrasi di tengah dinamika global.