SMKN 4 Malang Nonaktifkan Sementara Guru Usai Polemik Penertiban Siswa
MALANG — SMK Negeri 4 Malang menonaktifkan sementara seorang guru dari tugas ketertiban dan kegiatan mengajar menyusul polemik penertiban siswa yang informasinya beredar di media sosial. Sekolah juga telah melakukan mediasi bersama perwakilan siswa dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).
Wakil Kepala Urusan Hubungan Masyarakat SMKN 4 Malang, Triyudi Yudawan, mengatakan langkah tersebut dilakukan untuk meredakan situasi sekaligus menjaga kenyamanan psikologis peserta didik. Dalam klarifikasi pada Kamis (5/11/2026), Triyudi menjelaskan peristiwa bermula dari kegiatan pembinaan kedisiplinan dan sarapan bersama pada Jumat (30/10/2026).

Kegiatan rutin tersebut diisi dengan pembiasaan positif, pengajian atau Yasinan, serta pemeriksaan atribut dan kedisiplinan siswa oleh Tim Ketertiban (Tatib) sekolah. Menurut Triyudi, saat kegiatan berlangsung, koordinator tata tertib menyampaikan imbauan kepada siswa mengenai kepatuhan terhadap aturan berpakaian dan tata tertib sekolah.
Namun, sebagian informasi yang kemudian beredar di media sosial dinilai tidak menggambarkan kejadian secara utuh sehingga memunculkan persepsi adanya intimidasi terhadap siswa. “Kami menegaskan bahwa tidak ada unsur intimidasi sama sekali. Pertemuan dan dialog langsung telah kami lakukan bersama siswa yang bersangkutan, orang tua, perwakilan OSIS, pihak Bimbingan Konseling (BK), manajemen sekolah, hingga pendampingan dari teman-teman siswa,” ujar Triyudi.
Setelah polemik tersebut muncul, pihak sekolah menggelar forum diskusi terbuka bertajuk Grafika Bersuara di gedung teater sekolah. Forum itu melibatkan unsur pimpinan sekolah, BK, perwakilan OSIS, serta siswa kelas X dan XI untuk menampung aspirasi dan membahas persoalan yang terjadi. Sekolah juga menerima kehadiran KPAI dan instansi terkait untuk melakukan mediasi antara pihak sekolah dan perwakilan siswa.
Triyudi menyatakan manajemen sekolah berkomitmen memperbaiki mekanisme komunikasi internal serta menindaklanjuti rekomendasi hasil mediasi. Selain menonaktifkan sementara guru yang bersangkutan dari tugas ketertiban dan mengajar, sekolah juga menyampaikan permohonan maaf melalui akun media sosial resminya.
Triyudi menyebut peristiwa tersebut menjadi bahan evaluasi bagi sekolah untuk memperbaiki pelayanan pendidikan, terutama dalam penerapan kedisiplinan dan komunikasi dengan peserta didik.Sekolah menyatakan akan mengedepankan pendekatan yang humanis, ramah anak, serta menjaga lingkungan belajar agar tetap aman dan nyaman bagi siswa. (Shin)
