Netwriter can get reward Join NowDaftar / Login Netwriter
20/09/2026
SMARTLIVE

Mahasiswa PAI UIN Malang Raih Juara 1 Hifdzil Quran di JAWARA

rifamahmudah
  • September 20, 2026
  • 5 min read
Mahasiswa PAI UIN Malang Raih Juara 1 Hifdzil Quran di JAWARA

SMARTLIVE – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Muh. Farhan Athallah, mahasiswa semester 7 Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FTIK), berhasil meraih Juara 1 Musabaqah Hifdzil Qur’an 30 Juz Putra dalam ajang PORSI JAWARA II. Kompetisi tersebut digelar di Gedung Laboratorium Terpadu Lantai 6 UIN KH. Abdurrahman Wahid pada 11 September 2026. Prestasi yang diraih Farhan bukanlah hasil dari persiapan singkat. Di balik keberhasilannya, terdapat proses panjang berupa menjaga hafalan, melakukan murajaah secara rutin, mengikuti seleksi, menjalani latihan, memperoleh bimbingan, hingga mempersiapkan mental sebelum tampil di hadapan dewan juri.

Bagi Farhan, menjadi seorang penghafal Al-Qur’an bukan hanya tentang mampu mengingat dan melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an. Lebih dari itu, seorang hafiz dituntut untuk terus menjaga hafalan agar tetap kuat dan tidak mudah terlupakan. Karena itu, murajaah menjadi bagian penting dalam kesehariannya, baik ketika sedang mengikuti perlombaan maupun di luar kompetisi. Mengulang hafalan secara rutin menjadi salah satu prinsip yang terus dipegang Farhan. Menurutnya, hafalan Al-Qur’an harus senantiasa dijaga melalui pengulangan. Kebiasaan tersebut kemudian menjadi bekal penting ketika dirinya memutuskan untuk mengikuti PORSI JAWARA II. Persiapan khusus menghadapi perlombaan dilakukan selama kurang lebih dua bulan. Perjalanan menuju kompetisi dimulai dengan mengikuti seleksi internal di lingkungan kampus. Farhan harus melewati dua sesi seleksi untuk mendapatkan kesempatan menjadi perwakilan UIN Malang dalam ajang tersebut. Setelah berhasil lolos seleksi dan dipercaya membawa nama kampus, tanggung jawab yang diembannya pun semakin besar.

Ia menyadari bahwa tampil sebagai perwakilan universitas membutuhkan persiapan yang lebih matang. Hafalan yang selama ini dijaga kembali diperkuat agar semakin siap menghadapi berbagai kemungkinan selama perlombaan. Selama masa persiapan, Farhan meningkatkan intensitas murajaah sekaligus berlatih mengerjakan soal-soal ayat. Latihan tersebut dilakukan untuk membangun kemampuan mengingat hafalan dengan lebih baik sekaligus meningkatkan kesiapan ketika menghadapi pertanyaan dalam musabaqah. Dalam proses tersebut, Farhan memperoleh bimbingan dari Ust. Awwaludin Fithroh, M.Pd. dan Ust. Manzilur Rahman Romadhon, M.Kom. melalui Hai’ah Tahfizh Al-Qur’an UIN Maliki Malang.

Baca Juga:  Peran Guru Dalam Mengatasi Tindak Kekerasan Di Sekolah

Kehadiran para pembimbing menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan persiapannya.Bimbingan yang diterima tidak hanya membantu memperkuat hafalan, tetapi juga memberikan kesiapan dalam menghadapi suasana perlombaan. Sebab, kemampuan menghafal saja belum cukup. Seorang peserta juga perlu memiliki ketenangan, konsentrasi, dan kesiapan mental ketika berada di atas panggung. Menjelang hari perlombaan, strategi persiapan Farhan pun mulai diarahkan pada penguatan mental. Sekitar dua hari sebelum tampil, ia memilih untuk lebih fokus mengulang hafalan secara berurutan. Langkah tersebut dilakukan agar pikirannya lebih tenang dan hafalan tetap terjaga ketika memasuki hari perlombaan.

Pada tahap ini, perjuangan Farhan tidak lagi hanya berkaitan dengan kemampuan menghafal 30 juz Al-Qur’an. Ia juga harus mampu menjaga ketenangan dan kepercayaan diri. Setelah menjalani latihan dan persiapan selama berbulan-bulan, seluruh usaha tersebut kemudian diserahkan kepada Allah SWT. Doa menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjuangannya. Farhan memperbanyak doa kepada Allah SWT dan memohon doa dari orang tua serta para guru. Dukungan tersebut menjadi sumber kekuatan tersendiri dalam menghadapi kompetisi. Di balik keberanian seorang peserta ketika berdiri di panggung, terdapat banyak pihak yang ikut memberikan dukungan. Ada orang tua yang senantiasa mendoakan, guru yang memberikan bimbingan, serta lingkungan yang membantu proses persiapan. Semua menjadi bagian dari perjalanan yang akhirnya mengantarkan Farhan menuju prestasi. Setelah seluruh proses persiapan dilalui, tibalah saatnya Farhan tampil dalam ajang PORSI JAWARA II.

Dengan hafalan yang telah dijaga, latihan yang dilakukan secara konsisten, bimbingan dari para pembina, serta doa yang terus dipanjatkan, Farhan mampu memberikan penampilan terbaik.Atas izin dan ridha Allah SWT, perjuangan tersebut akhirnya membuahkan hasil. Muh. Farhan Athallah berhasil meraih Juara 1 Musabaqah Hifdzil Qur’an 30 Juz Putra. Prestasi tersebut menjadi pencapaian yang membanggakan sekaligus buah dari proses panjang yang telah dijalani selama kurang lebih dua bulan. Namun, kemenangan tersebut bukan berarti perjalanan seorang penghafal Al-Qur’an telah selesai. Justru, prestasi itu menjadi pengingat agar hafalan terus dijaga dan ilmu yang dimiliki dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Kisah Farhan menunjukkan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan seseorang. Ada kedisiplinan dalam menjaga proses, kesungguhan dalam berlatih, keterbukaan menerima bimbingan, serta doa yang terus menyertai setiap langkah.

Baca Juga:  Perkembangan Prodi Baru UIN Malang Menunjukkan Optimisme

Murajaah yang dilakukan berulang kali mungkin terlihat sederhana. Begitu pula dengan latihan menjawab soal-soal ayat yang dilakukan setiap hari. Namun, ketika semua proses tersebut dijalani secara konsisten, hasilnya dapat membawa seseorang menuju pencapaian yang membanggakan. Lebih dari sekadar piala dan gelar juara, perjalanan Farhan menyimpan pesan penting tentang makna menjadi seorang penghafal Al-Qur’an. Al-Qur’an tidak semata-mata dihafalkan untuk mengikuti perlombaan, tetapi harus terus dijaga dan menjadi bagian dari kehidupan. Dua bulan persiapan menjadi bukti bahwa sebuah prestasi membutuhkan proses. Di balik Juara 1 terdapat hafalan yang terus diulang, latihan yang dilakukan dengan tekun, bimbingan dari para guru, serta doa dari orang tua.

Kisah mahasiswa PAI FTIK UIN Malang tersebut menjadi inspirasi bahwa keberhasilan tidak lahir secara instan. Ketekunan dalam menjalani proses, kesediaan menerima arahan, serta keyakinan kepada Allah SWT menjadi bagian penting dalam perjalanan menuju sebuah pencapaian. Dari murajaah tumbuh keteguhan, dari bimbingan lahir kesiapan, dan dari doa hadir kekuatan. Pada akhirnya, seluruh ikhtiar tersebut menjadi jalan bagi Muh. Farhan Athallah untuk meraih prestasi di PORSI JAWARA II sekaligus terus menjaga amanah sebagai seorang penghafal Al-Qur’an. (Shin)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *