Netwriter can get reward Join NowDaftar / Login Netwriter
19/09/2026
CITILIVE

KTNA Gelar Rembug Paripurna di Batu, Ketua Umum Periode 2026–2031 Segera Dipilih

rifamahmudah
  • September 19, 2026
  • 5 min read
KTNA Gelar Rembug Paripurna di Batu, Ketua Umum Periode 2026–2031 Segera Dipilih

CITILIVE,BATU — Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) menggelar Rembug Paripurna KTNA Nasional 2026 di Kota Batu, Jawa Timur, Minggu (20/9/2026). Forum tersebut menjadi agenda utama untuk menentukan arah organisasi sekaligus memilih Ketua Umum KTNA Nasional periode 2026–2031. Rembug Paripurna digelar bersamaan dengan KTNA Agro Expo 2026 yang berlangsung 18–21 September 2026.

Sekitar 2.500 delegasi KTNA dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti rangkaian kegiatan tersebut. Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian (Kementan) Jenderal TNI (Purn.) Dr. Ir. Suwandi, M.Sc. membuka Rembug Paripurna KTNA Nasional dan Agro Expo 2026 di Kota Batu. Dalam sambutannya, Suwandi menyampaikan pemerintah terus mendorong penguatan sektor pertanian untuk mempertahankan swasembada pangan. Menurut beliau, peningkatan produksi pangan dalam setahun terakhir merupakan hasil sinergi pemerintah, penyuluh, dan petani.

Ia menyebut produksi beras nasional meningkat sekitar 4 juta ton atau 12 persen. Pemerintah juga mencatat capaian pada sejumlah komoditas strategis lainnya. “Tidak hanya padi, pencapaian swasembada ini juga mencakup delapan komoditas strategis lainnya yang telah dipidatokan oleh Presiden dalam sidang kenegaraan di DPR,” kata Suwandi.

Komoditas yang disebut antara lain beras, cabai merah, cabai keriting, bawang merah, telur ayam, daging ayam, dan gula. Pemerintah juga mendorong pemenuhan kebutuhan pakan agar tidak lagi bergantung pada impor. Suwandi mengatakan peningkatan produksi pertanian turut berdampak pada sejumlah indikator ekonomi. Produk Domestik Bruto (PDB) sektor pertanian disebut tumbuh 5,7 persen, sedangkan Nilai Tukar Petani (NTP) tanaman pangan mencapai 124 pada 2025.

Pemerintah, lanjutnya, juga telah menerbitkan sejumlah regulasi untuk mendukung sektor pertanian, mulai dari tata kelola pupuk bersubsidi, kelembagaan penyuluh pertanian, hingga penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah dan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras.

Baca Juga:  Polres Malang Gelar Apel Siaga untuk Amankan Malam Natal

Kebijakan harga tersebut diarahkan untuk menjaga posisi petani sekaligus memastikan harga pangan tetap terjangkau bagi konsumen.

Tata Niaga Beras Jadi Perhatian

Suwandi juga menyoroti persoalan tata niaga beras. Ia mengatakan petani masih berada pada posisi sebagai price taker ketika menjual gabah kepada pengepul atau penggilingan. Di sisi lain, konsumen juga menghadapi mekanisme harga di tingkat pasar. Karena itu, pemerintah berkomitmen melakukan pengawasan terhadap rantai pasok untuk mencegah disparitas harga yang merugikan petani maupun konsumen. Suwandi juga mengingatkan masyarakat agar lebih teliti membeli produk pangan, termasuk beras fortifikasi. Hal itu menyusul temuan Kementan mengenai ketidaksesuaian antara label kemasan dan kandungan mutu pada produk tertentu yang beredar di pasaran. “Pemerintah juga mengimbau seluruh jajaran KTNA dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan ketelitian dalam membeli produk pangan,” ujarnya.

Batu Dorong Pertanian Berbasis Teknologi

Sementara itu, Wali Kota Batu Nurochman mengatakan penyelenggaraan Rembug Paripurna KTNA Nasional menjadi momentum penting bagi Kota Batu yang memiliki basis ekonomi pertanian. Menurut Nurochman, sektor pertanian di Kota Batu menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari perubahan iklim, tanaman yang menua, tekanan terhadap lahan pertanian, kualitas tanah, hingga regenerasi petani. “Menjadi seorang petani bukan sekadar pekerjaan, melainkan sebuah pilihan hidup yang penuh risiko, mulai dari ketergantungan pada cuaca, ancaman gagal panen, hingga ketidakpastian pasar,” kata Nurochman.

Pemkot Batu, lanjutnya, mulai mendorong penerapan Smart and Integrated Farming. Pemanfaatan teknologi diarahkan untuk membantu petani meningkatkan efektivitas kerja, produktivitas, serta kualitas hasil pertanian dengan tetap mempertahankan kearifan lokal. Pemkot Batu juga mendorong penguatan kelembagaan dan akses pasar melalui program CooSAE. Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan posisi tawar petani sehingga nilai tambah hasil pertanian dapat kembali kepada petani. Nurochman menegaskan, keberhasilan swasembada pangan tidak cukup hanya dilihat dari peningkatan produksi. “Apakah petaninya sejahtera? Apakah lahannya tetap terjaga? Apakah anak-anak muda mau meneruskan? Dan apakah hasil pertanian memiliki pasar yang memberikan nilai yang layak bagi mereka?” ujarnya.

Baca Juga:  Atria Hotel Malang Hadirkan Ramadan Festival, Tawarkan Paket Menginap hingga Iftar Dinner

Ketua Umum KTNA Periode 2026–2031 Dipilih

Ketua Umum KTNA Nasional periode berjalan, Muhammad Yadi Sofyan Noor, mengatakan penguatan petani dan nelayan harus berjalan bersama dengan penguatan organisasi. Menurutnya, KTNA perlu menjadi wadah komunikasi, pembelajaran, dan kolaborasi bagi petani serta nelayan dalam menghadapi perubahan teknologi, iklim, pasar, dan kebutuhan konsumen. “Rembug Paripurna menjadi momentum penting untuk menyatukan pandangan dan merumuskan langkah organisasi ke depan. Kami ingin KTNA semakin kuat sebagai wadah yang menyuarakan kepentingan petani dan nelayan,” katanya. Dalam agenda Rembug Paripurna, peserta membahas pengesahan agenda dan kuorum, tata tertib, serta musyawarah tiga komisi, yakni Komisi Organisasi, Komisi Program, dan Komisi Rekomendasi.

Forum kemudian dilanjutkan dengan penyampaian laporan pertanggungjawaban pengurus, proses demisioner, serta seleksi bakal calon Ketua Umum KTNA Nasional. Agenda puncaknya adalah pemilihan dan penetapan Ketua Umum KTNA Nasional periode 2026–2031.

Setelah itu dilanjutkan pembentukan tim formatur dan penyusunan kepengurusan baru. Ketua Panitia Pelaksana Rembug Paripurna KTNA Nasional 2026, Otong Wiranata, didampingi Direktur PT Fery Agung Corindotama (Feraco) selaku penyelenggara, Ruslim mengatakan rangkaian kegiatan di Kota Batu dirancang tidak hanya untuk menjalankan agenda organisasi, tetapi juga mempertemukan berbagai unsur yang berkaitan dengan sektor pertanian dan perikanan.

Menurutnya, sinergi lintas sektor tersebut diharapkan dapat memperkuat hasil Rembug Paripurna, khususnya dalam merumuskan rekomendasi bagi kepentingan petani dan nelayan Indonesia hingga 2031. “Melalui sinergi lintas sektor yang terbangun di Kota Batu, hasil Rembug Paripurna diharapkan tidak sekadar menghasilkan pergantian kepemimpinan, melainkan melahirkan rekomendasi konkret demi memperkuat posisi bargaining petani dan nelayan Indonesia menuju 2031,” ujar Otong.

Agro Expo Libatkan Pelaku Agribisnis

Bersamaan dengan Rembug Paripurna, KTNA Agro Expo 2026 menjadi ruang pertemuan antara petani dan nelayan dengan pemerintah, dunia usaha, lembaga penelitian, perguruan tinggi, dan pelaku industri agribisnis. Pameran tersebut menghadirkan 40 stan yang terdiri dari 30 perusahaan dan 10 UMKM. Produk yang ditampilkan meliputi hasil olahan pertanian, perikanan dan kehutanan, benih, pupuk, pakan, alat dan mesin pertanian, hasil riset, teknologi tepat guna, hingga layanan jasa keuangan. Sejumlah perusahaan dan lembaga turut berpartisipasi, termasuk Perum Bulog dan Pupuk Indonesia. Rangkaian Agro Expo juga diisi dengan talk show, demonstrasi teknologi, presentasi produk, perlombaan, pagelaran seni budaya, serta Festival Pangan Lokal. Rangkaian kegiatan KTNA di Kota Batu dijadwalkan berlangsung hingga Senin (21/9/2026). Penutupan akan dirangkai dengan pengumuman hasil penilaian Agro Expo dan penyampaian sambutan dari Ketua Umum KTNA Nasional serta Wali Kota Batu. Hasil Rembug Paripurna diharapkan tidak hanya menghasilkan kepengurusan baru, tetapi juga rekomendasi organisasi untuk memperkuat posisi petani dan nelayan menghadapi perubahan teknologi, iklim, pasar, dan tantangan agribisnis nasional. (Shin)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *