Netwriter can get reward Join NowDaftar / Login Netwriter
09/09/2026
CITILIVE

Museum Keliling Luruskan Sejarah Singhasari Kepada Siswa di Malang

rifamahmudah
  • September 9, 2026
  • 5 min read
Museum Keliling Luruskan Sejarah Singhasari Kepada Siswa di Malang

CITILIVE,MALANG – Sejarah kerajaan yang pernah berkembang di wilayah Malang dikenalkan langsung kepada siswa SDN Mergosono 2, Kecamatan Kedungkandang, melalui program Museum Keliling Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang, Selasa (9/9/2026).

Dalam kegiatan tersebut, tim Museum Keliling tidak hanya menyampaikan materi sejarah, tetapi juga membawa arca sebagai media pembelajaran. Siswa diajak melihat langsung benda peninggalan budaya sekaligus memahami konteks sejarah yang melatarbelakanginya. Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kota Malang, Juli Handayani, mengatakan program tersebut menjadi salah satu upaya mengenalkan sejarah lokal kepada siswa sejak usia sekolah dasar.

Menurutnya, masih terdapat siswa yang belum mengetahui bahwa wilayah Malang memiliki jejak sejarah panjang dan pernah menjadi bagian dari perkembangan kerajaan besar pada masa Hindu-Buddha. “Selama ini banyak para siswa tidak tahu bahwa ada kerajaan besar di Malang, yaitu Kanjuruhan dan Singhasari. Di sini kita perkenalkan, sekaligus kita bawa arca sebagai pembelajaran,” kata Juli.

Penggunaan benda bersejarah sebagai media pembelajaran diharapkan membuat siswa lebih mudah memahami materi. Anak-anak tidak hanya memperoleh penjelasan mengenai kerajaan dari buku, tetapi dapat melihat langsung salah satu bentuk tinggalan budaya dari masa lampau.

Kenalkan Sejarah Kerajaan Singhasari

Penanggung jawab Museum Keliling Disdikbud Kota Malang, Rakai Hino Galeswangi, mengatakan siswa SDN Mergosono 2 menunjukkan antusiasme selama mengikuti kegiatan. Untuk pelaksanaan program Museum Keliling di jenjang sekolah dasar di Kecamatan Kedungkandang tahun ini, SDN Mergosono 2 menjadi salah satu sekolah yang mendapatkan kunjungan. “Pembelajaran hari ini anak-anak cukup antusias, cukup aktif, terutama di wilayah Kecamatan Kedungkandang. Untuk SD tahun ini, di Kedungkandang kita hanya mengunjungi Mergosono 2,” ujarnya.

Materi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut lebih banyak mengangkat sejarah Kerajaan Singhasari, termasuk pengenalan tokoh serta perkembangan sejarah kerajaan yang memiliki keterkaitan dengan wilayah Malang. Menurut Rakai, pada kegiatan Museum Keliling sebelumnya, siswa lebih banyak diperkenalkan mengenai konsep cagar budaya dan benda bersejarah. Kali ini, materi diperluas dengan pengenalan tokoh dan sejarah kerajaan. “Karena kemarin di sekolah-sekolah lain kita munculkan apa itu cagar budaya, apa itu kebendaan. Kali ini kita ulik juga tentang ketokohan,” jelasnya.

Baca Juga:  Proyek Jembatan Kyai Malik Dalam Rampung 100 Persen, Dibuka untuk Umum Mulai Jumat

Salah satu materi yang ditekankan adalah perbedaan antara Singhasari sebagai nama kerajaan dan Singosari sebagai nama wilayah administratif yang dikenal saat ini. “Yang selama ini mereka sebut dengan nama Singosari itu adalah nama kecamatan. Kalau kerajaan itu Singhasari,” tegas Rakai. Menurutnya, pemahaman dasar tersebut penting agar siswa memiliki fondasi yang tepat ketika mempelajari sejarah pada jenjang pendidikan berikutnya.

“Model-model seperti ini adalah pembelajaran dasar yang bisa digunakan sebagai fondasi, sehingga besok minimal penyebutan nama kerajaan itu tidak keliru,” katanya. Sejarah Lokal Dikaitkan dengan Museum Mpu Purwa. Rakai mengatakan pembelajaran sejarah lokal tidak cukup hanya dilakukan dengan mengenalkan nama kerajaan dan tokoh. Siswa juga perlu memahami hubungan antara sejarah tersebut dengan wilayah tempat mereka tinggal.

“Minimal adik-adik tahu dulu bahwa wilayah Kota Malang itu dahulunya masuk di regional Kerajaan Singhasari,” ujarnya. Materi sejarah tersebut juga dikaitkan dengan keberadaan dan koleksi Museum Mpu Purwa. Dengan pendekatan itu, siswa diharapkan memahami bahwa arca dan benda-benda koleksi museum memiliki hubungan dengan perjalanan sejarah masyarakat Malang.

“Yang coba kita masukkan ke adik-adik di Mergosono 2 ini adalah mengenalkan sejarah Kerajaan Singhasari secara lebih kompleks karena berkaitan dengan nama Museum Mpu Purwa,” jelasnya. Program Museum Keliling, kata dia, menjadi sarana untuk membawa museum lebih dekat ke lingkungan pendidikan sekaligus menumbuhkan rasa ingin tahu siswa terhadap sejarah daerah.

Sekolah Apresiasi Pembelajaran dengan Arca

Kepala SDN Mergosono 2 Kota Malang, Joko Yuniarto, mengapresiasi pelaksanaan Museum Keliling di sekolahnya. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan pengalaman berbeda bagi siswa karena pembelajaran tidak hanya dilakukan melalui materi tertulis, tetapi juga dengan menghadirkan langsung benda yang berkaitan dengan sejarah. “Kami apresiatif terkait dengan kegiatan yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dalam mengenalkan koleksi yang ada di Museum Mpu Purwa, terutama untuk di level dasar. Kebetulan hari ini kegiatannya ada di SDN Mergosono 2,” ujarnya.

Baca Juga:  Warga Kota Batu Diimbau Untuk Waspada Demam Berdarah Saat Musim Pancaroba

Joko menilai pengenalan benda bersejarah dapat memancing rasa ingin tahu siswa mengenai asal-usul, fungsi, dan cerita yang berada di balik sebuah koleksi. “Kalau selama ini mungkin anak-anak hanya sekadar tahu bendanya, tetapi justru yang menarik adalah di balik kisah benda itu sendiri. Artinya, ini asalnya apa, sehingga mereka tentu akan bertanya-tanya,” katanya. Ia berharap kegiatan tersebut dapat menumbuhkan kecintaan siswa terhadap sejarah dan kebudayaan, khususnya warisan budaya yang berkembang di Kota Malang. “Paling tidak menumbuhkan kecintaan kepada budaya dan sejarah. Secara umum adalah Indonesia, secara khusus adalah dalam lingkup perkembangan kehidupan masyarakat di Kota Malang itu sendiri,” tuturnya.

Selain mengikuti pembelajaran melalui Museum Keliling, Joko berharap siswa dapat melanjutkan pengalaman tersebut dengan mengunjungi Museum Mpu Purwa secara langsung. “Dengan adanya edukasi terkait koleksi Museum Mpu Purwa ini, sedikit banyak anak-anak bisa paham dan tinggal dilanjutkan dengan berkunjung ke Museum Mpu Purwa,” imbuhnya.

Bangun Fondasi Sejarah Sejak Dini

Joko berharap pembelajaran sejarah dan budaya melalui program Museum Keliling dapat memberikan gambaran lebih utuh kepada siswa mengenai perkembangan masyarakat Malang pada masa lampau. “Semoga dengan adanya edukasi ini anak-anak bisa punya gambaran terkait dengan sejarah kebudayaan serta perkembangan kehidupan masyarakat di Kota Malang, terutama pada masa lampau, pada masa Hindu-Buddha,” pungkasnya. Melalui program tersebut, Disdikbud Kota Malang berupaya mendekatkan museum dan warisan budaya kepada generasi muda. Pembelajaran sejarah tidak lagi hanya bertumpu pada hafalan nama tokoh dan kerajaan, tetapi juga diarahkan untuk membangun pemahaman melalui benda dan cerita sejarah yang dapat dilihat secara langsung. Pengenalan sejarah Kanjuruhan dan Singhasari sejak tingkat sekolah dasar diharapkan dapat memperkuat pemahaman siswa bahwa jejak masa lalu tersebut merupakan bagian dari perjalanan sejarah dan kebudayaan Malang yang perlu dikenal serta dilestarikan. (Shin)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *