Netwriter can get reward Join NowDaftar / Login Netwriter
09/09/2026
SPOOTLIVE

Sejarah Anak Krakatau: Gunung yang Tumbuh dari Dasar Lautan

rifamahmudah
  • September 9, 2026
  • 5 min read
Sejarah Anak Krakatau: Gunung yang Tumbuh dari Dasar Lautan

SPOOTLIVE – Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada Jumat malam, 4 September 2026, sekitar pukul 23.07 WIB. Aktivitas tersebut masih berlanjut hingga Sabtu dini hari, 5 September 2026, sekitar pukul 00.01 WIB. Gunung api ini berada di kawasan Selat Sunda, di antara Pulau Jawa dan Sumatra. Erupsi Anak Krakatau mengingatkan kembali pada tragedi tsunami Selat Sunda yang terjadi pada 22 Desember 2018. Peristiwa tersebut dipicu oleh aktivitas Gunung Anak Krakatau dan melanda wilayah pesisir Banten serta Lampung.

Gelombang tsunami tiba di kawasan pesisir sekitar 24 menit setelah erupsi. Bencana tersebut menelan ratusan korban jiwa dan menimbulkan kerusakan besar, sementara banyak masyarakat tidak sempat menyadari ancaman yang datang. Erupsi pada awal September 2026 bukanlah aktivitas vulkanik pertama Anak Krakatau. Gunung api tersebut telah menunjukkan aktivitas secara berkala sejak kemunculannya dari laut pada dekade 1920-an. Berdasarkan informasi dari laman resmi Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), aktivitas Gunung Anak Krakatau berada pada Level III atau Siaga sejak 2 Juli 2026.

Tsunami Akibat Erupsi Anak Krakatau pada 2018

Sejumlah ahli memperkirakan tsunami yang terjadi pada 2018 berkaitan dengan runtuhnya sebagian besar lereng bagian selatan Gunung Anak Krakatau. Runtuhan tersebut diduga menyebabkan longsoran di bawah laut yang kemudian memindahkan massa air dalam jumlah besar dan menghasilkan gelombang tsunami. Seismolog dari GNS Science, Sam Taylor-Offord, menjelaskan bahwa salah satu teori utama mengenai penyebab tsunami adalah pergerakan material gunung api di bawah permukaan air. Ketika material tersebut bergerak dan mendorong air laut, terjadi perpindahan vertikal permukaan laut yang kemudian menghasilkan gelombang tsunami. Meski demikian, keterbatasan data dan sulitnya akses ke lokasi membuat penyebab tersebut belum dapat dipastikan sepenuhnya.

Baca Juga:  Perjalanan Karier Bryan Domani: Dari Masa Lalu hingga Masa Depan

Pendapat serupa disampaikan Ben van der Pluijm, seorang ahli geologi gempa bumi. Menurutnya, ketidakstabilan lereng pada gunung api yang sedang aktif dapat memicu longsoran batuan dalam jumlah besar. Ketika material tersebut masuk ke laut, air dalam jumlah besar terdorong dan membentuk tsunami lokal yang sangat kuat. Fenomena itu dapat dibayangkan seperti menjatuhkan sekantong pasir secara tiba-tiba ke dalam bak mandi yang penuh air.

Letusan Krakatau Tahun 1883 Menggemparkan Dunia

Anak Krakatau merupakan hasil dari proses vulkanik yang berlangsung bertahun-tahun setelah letusan besar Krakatau pada 1883. Letusan Krakatau pada masa tersebut tercatat sebagai salah satu erupsi gunung api terbesar dan paling mematikan dalam sejarah. Sebelum peristiwa pada tahun 1883, letusan yang telah dikonfirmasi di kawasan kepulauan Krakatau hanya berupa erupsi dengan kekuatan sedang. Aktivitas tersebut terjadi sekitar dua abad sebelumnya, tepatnya pada 1680.Rangkaian letusan besar Krakatau dimulai pada sekitar pukul 13.00 tanggal 26 Agustus 1883.

Ledakan pertama menghasilkan awan abu berwarna hitam yang membumbung hingga sekitar 27 kilometer di atas gunung.Klimaks letusan terjadi pada pagi hari berikutnya, sekitar pukul 10.00. Dentuman ledakan bahkan terdengar hingga wilayah Australia yang berjarak sekitar 3.500 kilometer dari Krakatau.

Material vulkanik terlontar hingga ketinggian sekitar 80 kilometer, sementara tsunami besar menyebar ke berbagai wilayah. Dahsyatnya suara ledakan tersebut membuat peristiwa itu dikenal sebagai salah satu ledakan yang dapat terdengar di berbagai penjuru dunia. Tsunami yang terjadi setelah runtuhnya sebagian gunung api menyebabkan sekitar 36.000 orang meninggal dunia di wilayah Jawa dan Sumatra. Gelombang terbesar dalam bencana tersebut diperkirakan mencapai ketinggian 37 meter.

Ini Proses Terbentuknya Anak Krakatau

Letusan Krakatau pada 1883 melontarkan hampir 21 kilometer kubik material batuan ke atmosfer. Abu vulkanik kemudian tersebar hingga mencakup wilayah sekitar 800.000 kilometer persegi. Tebalnya material vulkanik menyebabkan kawasan di sekitar Krakatau berada dalam kondisi gelap selama lebih dari dua hari. Partikel abu yang berada di atmosfer kemudian menyebar hingga mengelilingi bumi beberapa kali. Dampaknya dapat terlihat pada perubahan warna matahari terbenam menjadi merah dan oranye yang mencolok selama tahun berikutnya.

Baca Juga:  Eksplorasi Budaya Lokal: Tradisi dan Adat Istiadat Malang

Letusan tersebut juga dikaitkan dengan penurunan suhu global. Di kawasan Krakatau, lapisan abu vulkanik yang tebal dan tidak mendukung kehidupan menutupi permukaan pulau. Pemulihan ekosistem berlangsung secara bertahap dan kehidupan tumbuhan serta hewan baru mulai kembali sekitar lima tahun setelah letusan. Krakatau kemudian berada dalam kondisi relatif tenang hingga Desember 1927. Pada tahun tersebut, aktivitas erupsi kembali muncul dari dasar laut di kawasan yang berada pada jalur yang sama dengan pusat aktivitas sebelumnya.

Memasuki awal 1928, sebuah kerucut vulkanik mulai terlihat dan terus tumbuh hingga mencapai permukaan laut. Dua tahun kemudian, tepatnya pada 1930, kerucut tersebut berkembang menjadi sebuah pulau kecil yang kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau. Sejak saat itu, Anak Krakatau terus mengalami pertumbuhan akibat aktivitas vulkaniknya. Pada 2018, ketinggian gunung tersebut diperkirakan mencapai sekitar 318 meter di atas permukaan laut. Namun, erupsi pada tahun yang sama menyebabkan sebagian besar tubuh gunung runtuh. Setelah kejadian tersebut, ketinggiannya berkurang menjadi sekitar 110 hingga 157 meter akibat kombinasi aktivitas erupsi dan proses pembentukan kembali tubuh gunung.

Ancaman Tsunami Masih Perlu Diwaspadai

Peristiwa tsunami 2018 kembali memperlihatkan bahwa aktivitas Anak Krakatau memiliki potensi menimbulkan bahaya bagi kawasan Selat Sunda. Runtuhnya sebagian lereng gunung diduga dapat kembali memicu longsoran bawah laut yang berpotensi menggeser volume air dalam jumlah besar. Meskipun penyebab pasti tsunami 2018 masih menjadi bahan kajian, aktivitas Anak Krakatau hingga kini tetap mendapat perhatian serius dari para ilmuwan dan pihak berwenang. Potensi terjadinya tsunami maupun bencana vulkanik lainnya membuat pemantauan terhadap gunung api tersebut terus dilakukan. Richard Teeuw dari University of Portsmouth menilai bahwa kemungkinan terjadinya tsunami di Selat Sunda tetap perlu diperhatikan selama Anak Krakatau masih berada dalam fase aktif. Menurutnya, aktivitas gunung api dapat memicu longsoran bawah laut tambahan yang berpotensi menghasilkan gelombang tsunami.

Baca Juga:  Cara Memaksimalkan Investasi Properti untuk Keuntungan Optimal

Teeuw juga menekankan pentingnya survei menggunakan sonar untuk mengetahui kondisi dasar laut di sekitar Anak Krakatau. Informasi tersebut diperlukan untuk memetakan wilayah yang berpotensi mengalami longsoran. Namun, pelaksanaan survei bawah laut tidak dapat dilakukan secara cepat karena membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk dipersiapkan dan dilaksanakan. Meski tsunami yang dipicu langsung oleh letusan gunung api merupakan kejadian yang relatif jarang, sejarah menunjukkan bahwa dampaknya dapat sangat mematikan. Salah satu contoh paling terkenal adalah tsunami yang menyusul letusan Krakatau pada 1883, yang menjadi salah satu bencana vulkanik terbesar dalam sejarah.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *