KPSTI Jatim Dikukuhkan di Malang, Dorong Pencak Silat Tradisi Jadi Warisan Hidup hingga Mendunia
CITILIVE – Pengurus Provinsi Komite Pencak Silat Tradisi Indonesia (KPSTI) Jawa Timur resmi dikukuhkan di Kota Malang, Rabu (26/8/2026). Pengukuhan yang digelar di Ruang Rapat Paripurna Gedung DPRD Kota Malang itu menjadi langkah memperkuat pelestarian pencak silat tradisi sebagai warisan budaya sekaligus mendorong regenerasi pendekar di tengah generasi muda.
Ketua Umum KPSTI Jawa Timur, H. Mahfudz Abdurrahman, menegaskan organisasi tersebut hadir untuk memastikan pencak silat tidak sekadar bertahan sebagai seni bela diri, tetapi tetap hidup dan berkembang sebagai tradisi di tengah masyarakat.
“Tradisi pencak silat, atau pencak silat tradisi. Jadi mentradisikan pencak silat, dan pencak silat itu supaya juga menjadi tradisi. Itu yang kita kembangkan,” ujar Mahfudz.
Menurut dia, pelestarian pencak silat tradisi membutuhkan peran aktif seluruh pengurus dan komunitas pencak silat. Karena itu, pengukuhan kepengurusan KPSTI Jawa Timur diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, melainkan menjadi awal kerja organisasi dalam merawat, mengembangkan, dan mengenalkan tradisi pencak silat secara lebih luas.

Mahfudz juga melihat peluang besar untuk membawa pencak silat tradisi Indonesia ke panggung internasional. Menurutnya, pencak silat telah memiliki penggemar di sejumlah negara, termasuk di Eropa.
Ia bahkan berencana melakukan kunjungan ke Belanda pada Oktober mendatang untuk melihat perkembangan pencak silat di negara tersebut.
“Di sana juga ada pendekar-pendekar yang asli orang Belanda yang memang menekuni dunia pencak silat. Kalau di Eropa, mereka lebih menyukai dimensi seni budaya dan mental spiritual,” jelasnya.
Tegaskan Tidak Tumpang Tindih dengan IPSI
Mahfudz menegaskan keberadaan KPSTI tidak dimaksudkan untuk mengambil peran atau berkompetisi dengan Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI). Kedua organisasi memiliki fokus pengembangan yang berbeda.

Menurutnya, KPSTI lebih diarahkan pada upaya merawat pencak silat sebagai warisan budaya yang hidup di tengah masyarakat. Sementara pembinaan olahraga prestasi dan kompetisi pencak silat telah menjadi bagian dari peran IPSI.
“Kalau kami hadir untuk merawat pengakuan pencak silat sebagai warisan budaya takbenda di Indonesia. Ini yang perlu kita rawat,” katanya.
KPSTI, lanjut Mahfudz, tidak menjadikan pertandingan atau kompetisi tarung sebagai fokus utama. Organisasi tersebut lebih menitikberatkan pada pengembangan dimensi seni, budaya, tradisi, serta nilai mental dan spiritual yang terkandung dalam pencak silat.
“Kalau kami lebih ke seni budayanya di masyarakat supaya hidup kemudian bergairah,” ujarnya.
Selain pelestarian budaya, pencak silat tradisi juga dipandang memiliki peran strategis dalam pembentukan karakter generasi muda.
Mahfudz mengatakan nilai kedisiplinan, pengendalian diri, penghormatan kepada guru, serta pembinaan mental dan spiritual yang berkembang dalam tradisi pencak silat dapat menjadi bagian dari penguatan karakter anak bangsa.
“Bagaimana kemudian nanti pencak silat tradisi itu menjadi wadah untuk pembentukan karakter anak bangsa. Jadi untuk mempersiapkan Indonesia Emas 2045, kita bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan di sekolah-sekolah,” katanya.
KPSTI Jawa Timur juga berencana mendorong penyelenggaraan kegiatan berkala yang mempertemukan para pendekar, perguruan, dan pelaku pencak silat tradisi. Forum tersebut diharapkan menjadi ruang memperkuat silaturahmi sekaligus menjaga keberlanjutan tradisi pencak silat di berbagai daerah.
Wali Kota Malang Soroti Pentingnya Regenerasi
Sementara itu, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menyambut positif pengukuhan Pengurus Provinsi KPSTI Jawa Timur. Ia menilai keberadaan organisasi tersebut dapat menjadi wadah untuk memperkuat upaya pelestarian pencak silat sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia.

Menurut Wahyu, salah satu tantangan terbesar pelestarian budaya adalah memastikan terjadinya regenerasi. Pencak silat tradisi tidak boleh hanya dijaga oleh generasi terdahulu, tetapi harus mampu menarik minat dan melibatkan generasi muda.
“Ini salah satu wadah untuk melestarikan budaya, terutama terkait dengan silat tradisi. Menjadi keinginan kita bersama agar mereka dapat dilatih juga oleh generasi muda, tidak hanya generasi tua,” ujar Wahyu.
Ia menegaskan pencak silat tradisi merupakan bagian dari identitas budaya Indonesia yang harus terus diwariskan. Pelestarian, menurutnya, membutuhkan ruang pembelajaran dan pembinaan agar generasi muda tidak hanya mengenal pencak silat sebagai olahraga bela diri.
Generasi muda juga perlu memahami nilai seni, budaya, karakter, dan filosofi yang melekat dalam setiap tradisi pencak silat.
“Karena terkait dengan pencak silat tradisi ini adalah budaya asli Indonesia yang memang harus kita lestarikan. Dari KPSTI ini kami berharap bisa menjadikan anak-anak muda senang terhadap pencak silat tradisi,” tegasnya.
Pengukuhan Pengurus Provinsi KPSTI Jawa Timur di Kota Malang menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, perguruan pencak silat, para pendekar, lembaga pendidikan, dan masyarakat.
Ke depan, KPSTI Jatim diharapkan mampu menjaga pencak silat tetap hidup sebagai tradisi, memperluas ruang regenerasi, serta membawa kekayaan seni dan nilai budaya pencak silat Indonesia agar semakin dikenal hingga tingkat internasional.
