FITK UIN Malang Bidik Pesantren Jadi Laboratorium Riset dan Pemberdayaan Santri
SMARTLIVE – Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mulai menggeser pola kolaborasi dengan pesantren. Pondok Pesantren Al-Ihsan (PPAI) Blambangan, Desa Krebet, Kecamatan Bululawang, dijajaki bukan sekadar sebagai lokasi pengabdian mahasiswa, tetapi sebagai ruang riset, pengembangan pembelajaran hingga pemberdayaan ekonomi santri.
Penjajakan tersebut dilakukan FITK UIN Malang pada Jumat (7/8/2026). Rombongan dipimpin Wakil Dekan Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan FITK, Dr. Muh. Yunus, M.Si., bersama sejumlah ketua dan sekretaris program studi. Mereka diterima Kepala PPAI Al-Ihsan, Gus Ahmad Hamid Latifi.
Langkah ini membuka peluang bagi kampus untuk menjadikan lingkungan pesantren sebagai tempat menguji sekaligus mengembangkan gagasan pendidikan yang lebih dekat dengan persoalan nyata.
Bukan hanya mahasiswa yang belajar di kampus. Pesantren juga diposisikan sebagai ruang belajar bagi mahasiswa dan dosen.
Dr. Muh. Yunus mengatakan penjajakan kerja sama diarahkan untuk memperkuat pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi sekaligus menghasilkan program yang memberikan dampak langsung bagi pesantren dan masyarakat.
Salah satu skema yang disiapkan adalah pemanfaatan PPAI Al-Ihsan sebagai lokasi Kuliah Kerja Nyata (KKN). Namun, mahasiswa tidak hanya diarahkan datang membawa program, melainkan terlebih dahulu membaca kebutuhan dan potensi yang ada di lingkungan pesantren.

“Pesantren bukan hanya mitra pengabdian, tetapi juga ruang belajar dan ruang riset.”
Dari Riset ke Kemandirian Santri
Ruang kolaborasi yang dijajaki FITK juga bergerak ke sektor pemberdayaan. Kampus melihat potensi pengembangan keterampilan dan kemandirian ekonomi santri melalui pelatihan, pendampingan usaha serta pengembangan potensi ekonomi yang dimiliki pesantren.
Arah tersebut sejalan dengan pengembangan ekosistem edupreneurship di FITK UIN Malang. Pendidikan tidak hanya diarahkan menghasilkan lulusan yang menguasai teori, tetapi juga memiliki kemampuan menciptakan inovasi, membaca peluang dan membangun kemandirian.
Dengan pendekatan itu, pesantren dapat menjadi titik temu antara pendidikan, riset dan pemberdayaan masyarakat.
PPAI Al-Ihsan memiliki ekosistem pendidikan yang mendukung pengembangan kolaborasi tersebut. Para santri menjalani pendidikan formal pada pagi hingga siang hari, kemudian melanjutkan pembelajaran melalui sekolah diniyah.
Model pendidikan terintegrasi itu membuka ruang penelitian bagi dosen dan mahasiswa FITK, terutama untuk mengembangkan model pembelajaran yang sesuai dengan karakter pendidikan pesantren.
Kerja sama yang dijajaki mencakup pendidikan, penelitian bersama, pengabdian kepada masyarakat, KKN, pelatihan keterampilan hingga pemberdayaan ekonomi santri.
FITK Tak Ingin Kerja Sama Berhenti di Atas Kertas
Yang menjadi tantangan berikutnya adalah memastikan penjajakan tersebut tidak berhenti sebagai kerja sama seremonial.
FITK UIN Malang mendorong agar komunikasi dengan PPAI Al-Ihsan berlanjut menjadi program konkret yang dapat dirasakan santri, mahasiswa, dosen, pesantren maupun masyarakat sekitar.
Kolaborasi tersebut sekaligus membuka ruang lebih luas bagi mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman langsung menghadapi persoalan masyarakat. Bagi dosen, pesantren dapat menjadi sumber data sekaligus ruang pengembangan penelitian.
Sementara bagi pesantren, kehadiran perguruan tinggi diharapkan memberikan akses terhadap pengetahuan, pendampingan dan inovasi yang dapat memperkuat kualitas pendidikan serta potensi pemberdayaan santri.
Pola kampus–pesantren–masyarakat inilah yang menjadi peluang strategis dari kerja sama tersebut. Kampus membawa kapasitas akademik dan riset, pesantren memiliki pengalaman pendidikan serta potensi lokal, sementara masyarakat menjadi bagian dari proses perubahan.
Dengan demikian, langkah FITK UIN Malang menjajaki kolaborasi dengan PPAI Al-Ihsan tidak sekadar memperluas daftar mitra. Pesantren sedang dibidik menjadi ruang nyata untuk menguji apakah ilmu dari kampus benar-benar mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
