Netwriter can get reward Join NowDaftar / Login Netwriter
06/09/2026
CITILIVE

Mengenal Bantengan Malang Raya, Seni Tradisi yang Tak Pernah Sepi Penonton

Shinta lubis
  • September 6, 2026
  • 3 min read
Mengenal Bantengan Malang Raya, Seni Tradisi yang Tak Pernah Sepi Penonton

SPOOTLIVE – Suara musik tradisional terdengar dari kawasan Klayatan, Kemantren Gang Dua, Kelurahan Bandungrejosari, Kecamatan Sukun. Warga berdatangan, memenuhi sekitar lokasi pertunjukan. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa tampak larut menyaksikan sebuah kesenian tradisional yang masih memiliki tempat tersendiri di tengah masyarakat Malang Raya: Bantengan.

Bukan hanya ramai, pertunjukan Bantengan juga menyuguhkan atraksi yang membuat penonton terpaku. Dalam pertunjukan tersebut, sejumlah pemain mengalami kondisi yang oleh masyarakat dan pelaku kesenian setempat disebut ndadi atau kalap.

Suasana pun semakin menarik perhatian. Ada pemain yang tampak mengalami perubahan perilaku ketika berada dalam rangkaian pertunjukan. Bagi sebagian penonton, momen seperti ini menjadi salah satu bagian yang paling ditunggu.

Namun, Bantengan sejatinya tidak hanya tentang atraksi yang membuat penonton takjub.

Di balik topeng dan gerakan banteng, terdapat kesenian tradisional yang telah menjadi bagian dari kehidupan budaya masyarakat di wilayah Malang Raya.

Dari Pertunjukan Menjadi Identitas Budaya

Bantengan dikenal sebagai kesenian tradisional yang memadukan berbagai unsur pertunjukan. Sosok banteng menjadi salah satu karakter utama yang ditampilkan melalui properti atau topeng, lengkap dengan gerakan yang menjadi ciri khasnya.

Pertunjukan biasanya semakin hidup dengan iringan musik tradisional dan kehadiran sejumlah karakter lain. Interaksi antarpemain membuat Bantengan tidak sekadar menjadi tontonan, tetapi menghadirkan sebuah pertunjukan yang dinamis.

Bagi masyarakat yang telah akrab dengan Bantengan, kesenian ini bukan sesuatu yang asing. Pertunjukannya dapat hadir dalam berbagai kegiatan masyarakat dan menjadi ruang berkumpul bagi warga.

Tak heran jika ketika Bantengan digelar, masyarakat dari berbagai usia ikut datang menyaksikan.

Aria Mulya dan Pengalaman Menjadi Bagian dari Bantengan

Di antara para pemain yang tampil di Klayatan, ada Aria Mulya, salah seorang yang mengaku sangat menggeluti kesenian Bantengan.

Baca Juga:  Hewan Kurban Masjid Al Ihsan SPI RW7 Bebas dari PMK

Kecintaannya terhadap Bantengan membuat Aria tidak sekadar datang sebagai penonton. Ia terlibat langsung dalam pertunjukan dan dipercaya untuk tampil.

Bagi Aria, Bantengan memberikan pengalaman tersendiri. Ia mengaku senang ketika mendapatkan kesempatan untuk ikut tampil dan menjadi bagian dari kesenian yang masih hidup di tengah masyarakat.

Dalam salah satu pertunjukan, Aria juga sempat mengalami kondisi yang disebut masyarakat sebagai ndadi.

Ia menggambarkan pengalaman tersebut sebagai kondisi ketika dirinya seperti tidak sepenuhnya menyadari apa yang dilakukan selama berada dalam keadaan tersebut.

“Kalau sudah seperti itu rasanya seperti tidak merasa apa-apa dan tidak terlalu sadar dengan apa yang dilakukan,” demikian gambaran Aria mengenai pengalamannya.

Pengalaman tersebut menjadi bagian yang cukup mencolok dalam pertunjukan. Penonton pun semakin fokus memperhatikan jalannya atraksi.

Meski demikian, pengalaman ndadi merupakan bagian dari narasi dan pengalaman yang dipercaya atau dirasakan oleh pelaku maupun masyarakat dalam konteks pertunjukan. Hal tersebut tidak serta-merta dapat dijadikan kesimpulan mengenai kondisi seseorang secara medis.

Mengapa Bantengan Selalu Menarik Perhatian?

Salah satu kekuatan Bantengan adalah kemampuannya menghadirkan pertunjukan yang dekat dengan masyarakat.

Bantengan tidak hadir dalam ruang pertunjukan yang terasa jauh dari kehidupan warga. Ketika digelar di lingkungan kampung, masyarakat bisa datang bersama keluarga, berkumpul dengan tetangga, sekaligus menikmati pertunjukan budaya yang sudah mereka kenal.

Gerakan pemain, suara musik, karakter yang muncul, hingga atraksi tertentu membuat penonton tidak hanya duduk diam menyaksikan sebuah pertunjukan dari awal sampai akhir. Suasana di sekitar arena pun dapat berubah mengikuti dinamika pertunjukan.

Itulah sebabnya Bantengan memiliki daya tarik yang berbeda dibandingkan tontonan modern.