Dosen FITK UIN Malang Turun ke Wilayah 3T, Guru Madrasah Manggarai Barat Dibekali Literasi Kritis
SMARTLIVE – Persoalan pemerataan kualitas pendidikan tidak hanya berkaitan dengan fasilitas sekolah. Akses guru terhadap pelatihan dan pengembangan kompetensi juga menjadi tantangan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Kondisi itu menjadi perhatian dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang turun langsung ke Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, untuk memberikan pelatihan kepada guru madrasah.
Pelatihan berlangsung selama tiga hari, 28–30 Juli 2026, di Desa Golo Bilas, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat. Kegiatan diikuti guru dari empat madrasah, yakni MIS Ar Rahman Merombok, MIS Insan Kamil Nggorang, MIS Al-Ikhtiar Mburak, dan MIS Nurul Imam Benteng.

Bukan sekadar pelatihan administratif, para guru dibekali materi yang berkaitan langsung dengan proses pembelajaran di kelas, mulai dari Kurikulum Berbasis Cinta, evaluasi pembelajaran hingga membaca kritis berbasis kearifan lokal.
Tiga dosen FITK UIN Malang menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut. Dr. Abd Gafur, M.Ag. membawakan materi Kurikulum Berbasis Cinta, Drs. A. Zuhdi, M.A. menyampaikan evaluasi pembelajaran, sedangkan Nuril Nuzulia, M.Pd. memberikan materi membaca kritis berbasis kearifan lokal.
Persoalan Guru 3T Bukan Minim Semangat
Kegiatan tersebut sekaligus menemukan persoalan mendasar yang dihadapi guru di daerah 3T. Bukan minimnya kemauan untuk belajar, melainkan terbatasnya akses terhadap pengembangan kompetensi.
Sejumlah guru mengaku jarang memperoleh kesempatan mengikuti pelatihan secara langsung. Kondisi tersebut diperkuat keterbatasan sarana dan prasarana di sejumlah madrasah.
Meski demikian, keterbatasan fasilitas tidak mengurangi antusiasme peserta. Para guru aktif berdiskusi, bertanya hingga mengikuti praktik selama pelatihan.
Kehadiran dosen FITK UIN Malang juga menjadi pengalaman tersendiri bagi peserta karena pelatihan diberikan langsung di wilayah mereka, bukan mengharuskan guru datang ke kota atau pusat pelatihan.
Kearifan Lokal Bisa Jadi Bahan Ajar
Salah satu materi yang menjadi perhatian adalah pembelajaran membaca kritis berbasis kearifan lokal.
Pendekatan tersebut mendorong guru memanfaatkan lingkungan, budaya dan persoalan yang dekat dengan kehidupan siswa sebagai bahan pembelajaran. Dengan begitu, kemampuan membaca tidak berhenti pada memahami teks, tetapi berkembang menjadi kemampuan menganalisis dan mempertanyakan informasi.
Bagi siswa di Manggarai Barat, lingkungan sekitar dapat menjadi sumber belajar yang relevan dengan kehidupan mereka.
Sementara itu, Kurikulum Berbasis Cinta diarahkan untuk memperkuat pembelajaran yang tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga membangun karakter, penghormatan dan kepedulian terhadap peserta didik.
FITK Dorong Kampus Hadir di Daerah
Pelatihan tersebut memperlihatkan bahwa peran perguruan tinggi tidak berhenti di ruang kuliah maupun menghasilkan lulusan. Pengetahuan dan kompetensi akademik juga perlu dibawa ke wilayah yang memiliki keterbatasan akses.
Bagi FITK UIN Malang, kehadiran di Manggarai Barat menjadi bagian dari upaya memperluas dampak pengabdian sekaligus membangun jejaring dengan madrasah di daerah 3T.
Kolaborasi dengan madrasah di Manggarai Barat diharapkan dapat terus dikembangkan sehingga peningkatan kompetensi guru tidak berhenti setelah pelatihan tiga hari.
Persoalan pendidikan di wilayah 3T bukan karena guru tidak mau berkembang. Tantangannya adalah memastikan akses untuk berkembang juga hadir di tempat mereka mengabdi.
