Netwriter can get reward Join NowDaftar / Login Netwriter
13/08/2026
CITILIVE

Fasilitas Literasi Terbatas, Siswa Madrasah di Manggarai Barat Tetap Didorong Berpikir Kritis

Shinta lubis
  • Agustus 10, 2026
  • 3 min read
Fasilitas Literasi Terbatas, Siswa Madrasah di Manggarai Barat Tetap Didorong Berpikir Kritis

SMARTLIVE – Keterbatasan fasilitas pembelajaran masih menjadi tantangan bagi siswa madrasah di wilayah pelosok Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Namun, kondisi itu tidak menghentikan upaya membangun kemampuan literasi siswa.

Salah satunya terlihat di MIS Ar Rahman Merombok, Desa Golo Bilas, Kecamatan Komodo. Siswa kelas V di madrasah tersebut mendapat pendampingan membaca kritis dari dosen Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Nuril Nuzulia, M.Pd.I.

Persoalan yang dihadapi siswa bukan sekadar keterbatasan buku bacaan. Media pembelajaran juga belum sepenuhnya tersedia. Untuk menggunakan LCD proyektor dalam kegiatan belajar, sekolah bahkan harus meminjam perangkat dari Kantor Kementerian Agama setempat.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa tantangan pendidikan di daerah 3T tidak hanya soal keberadaan sekolah, tetapi juga akses terhadap pengalaman belajar yang berkualitas.

Di tengah keterbatasan itu, siswa tetap menunjukkan antusiasme saat mengikuti pendampingan. Mereka diajak membaca, berdiskusi, menjawab pertanyaan dan menyampaikan pendapat berdasarkan teks yang dipelajari.

Literasi Tak Berhenti pada Kemampuan Membaca

Pendampingan yang dilakukan Nuril tidak diarahkan sekadar membuat siswa mampu membaca teks. Mereka diperkenalkan pada membaca kritis berbasis kearifan lokal, dengan menghubungkan isi bacaan dengan lingkungan dan pengalaman kehidupan sehari-hari.

Siswa didorong memahami informasi, menemukan gagasan, menganalisis persoalan, menarik kesimpulan hingga menyampaikan pandangan mereka sendiri.

“Kemampuan literasi tidak hanya berarti mampu membaca, tetapi juga mampu memahami, menganalisis, dan berpikir kritis terhadap informasi yang diterima,” ujar Nuril.

Pendekatan tersebut menjadi penting di tengah derasnya arus informasi. Kemampuan membaca tidak cukup jika siswa hanya mampu menerima informasi tanpa memahami dan menguji isinya.

Karena itu, lingkungan sekitar dapat menjadi bahan pembelajaran. Budaya lokal, kehidupan masyarakat maupun persoalan yang mereka temui sehari-hari dapat digunakan untuk melatih siswa mengolah informasi dan membangun argumentasi.

Baca Juga:  Perlindungan Konsumen Jadi Sorotan di Seminar Nasional Ma Chung, OJK: Inovasi Harus Diiringi Tata Kelola

Persoalannya Bukan Semangat Siswa

Kegiatan tersebut juga menunjukkan persoalan yang lebih besar dalam pemerataan pendidikan.

Siswa di wilayah pelosok memiliki semangat belajar, tetapi kesempatan mendapatkan metode pembelajaran dan pendampingan yang beragam belum selalu mudah diperoleh.

Keterbatasan fasilitas tidak semestinya membuat siswa di daerah 3T mendapatkan pengalaman belajar yang lebih sedikit dibandingkan siswa di wilayah dengan akses pendidikan yang lebih lengkap.

Karena itu, keterlibatan perguruan tinggi menjadi salah satu upaya untuk mempersempit kesenjangan tersebut. Dosen tidak hanya menjalankan fungsi akademik di kampus, tetapi membawa pengetahuan dan metode pembelajaran langsung ke sekolah yang membutuhkan.

Bagi PGMI FITK UIN Malang, pendampingan di MIS Ar Rahman Merombok menjadi bagian dari pengabdian sekaligus upaya memperluas dampak pendidikan ke wilayah 3T.

Dari Kelas Sederhana, Bangun Kemampuan Berpikir

Pengalaman di MIS Ar Rahman Merombok menunjukkan bahwa keterbatasan sarana bukan alasan untuk menghentikan inovasi pembelajaran.

Dengan media sederhana dan pendekatan yang dekat dengan kehidupan siswa, ruang kelas tetap dapat menjadi tempat untuk membangun kemampuan berpikir kritis.

Yang dibutuhkan bukan hanya tambahan fasilitas, tetapi juga akses terhadap pengetahuan, metode dan pendampingan yang mampu mengubah cara siswa belajar.

Dari kelas sederhana di Desa Golo Bilas, persoalan literasi akhirnya menunjukkan wajah yang lebih luas: anak-anak di pelosok bukan kekurangan kemauan untuk belajar, tetapi membutuhkan kesempatan yang lebih setara untuk mengembangkan kemampuan mereka.