BPBD Kota Malang Siapkan 4.000 Siswa Jadi Kader Tangguh Bencana di 43 Sekolah
CITILIVE — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang menyiapkan sekitar 4.000 siswa sebagai kader tangguh bencana melalui program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Program tersebut menyasar 43 satuan pendidikan di Kota Malang.
Sosialisasi sekaligus pembelajaran kebencanaan digelar di SMPN 17 Malang, Jalan Pelabuhan Tanjung Priok, Kelurahan Bakalankrajan, Kamis (3/9/2026).
Program yang berlangsung 31 Agustus hingga 16 September 2026 itu tidak hanya memberikan materi kebencanaan. BPBD juga melakukan pelatihan dan simulasi serta memetakan kondisi setiap sekolah untuk menentukan jalur evakuasi, titik kumpul, lokasi antisipasi kebakaran, dan potensi bencana di lingkungan sekolah.
Perwakilan BPBD Kota Malang mengatakan pendekatan tahun ini dilakukan langsung di masing-masing satuan pendidikan. Langkah tersebut dinilai lebih efektif karena simulasi dapat disesuaikan dengan karakteristik dan kondisi lingkungan sekolah.

“Dengan datang langsung, simulasi bisa lebih efektif dan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah masing-masing,” ujarnya.
Menurutnya, program tersebut merupakan hasil Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) dan ditargetkan dapat memperkuat kesiapsiagaan warga sekolah di seluruh jenjang pendidikan.
“Harapannya, semua tingkatan pendidikan di Kota Malang siap dan waspada terhadap bencana. Anak-anak memahami apa yang harus dilakukan ketika menghadapi bencana,” katanya.
Wali Kota Malang Ali Muthohirin menegaskan kesiapsiagaan perlu dibangun karena bencana tidak dapat dipastikan kapan terjadi. Pengetahuan mengenai prosedur penyelamatan diri, menurutnya, harus dimiliki sejak lingkungan sekolah.

“Bencana ini tidak bisa kita undang, tidak juga bisa kita larang. Tiba-tiba datang tanpa diundang, pulang pun tidak diantar. Itulah bencana,” kata Ali di hadapan siswa.
Ia meminta siswa memahami langkah dasar penyelamatan ketika terjadi bencana, termasuk melindungi diri dan mengikuti jalur evakuasi.
“Kalau ada gempa, segera keluar dengan melindungi kepala. Selamatkan diri sendiri terlebih dahulu. Setelah itu, pastikan orang tua, saudara, dan orang-orang di sekitar juga sudah aman,” ujarnya.
Ali berharap siswa yang mengikuti program tersebut tidak berhenti sebagai peserta sosialisasi. Mereka didorong menjadi kader yang mampu menyebarkan pengetahuan kebencanaan kepada keluarga dan masyarakat.
“Walaupun kita tidak berharap ada bencana di Kota Malang, kita tetap harus waspada dan siap apabila sewaktu-waktu terjadi bencana di sekitar kita,” katanya.
BPBD mencatat angin kencang dan kebakaran menjadi sejumlah kejadian yang perlu diantisipasi di Kota Malang. Risiko kebakaran juga menjadi perhatian di lingkungan sekolah sehingga kesiapan sarana keselamatan, jalur evakuasi, dan pemahaman warga sekolah menjadi bagian dari program.
Selain kesiapsiagaan menghadapi bencana, Ali mengingatkan siswa mengenai pentingnya menjaga lingkungan. Menurutnya, perilaku manusia dapat memperparah dampak bencana, salah satunya banjir akibat penyumbatan saluran air oleh sampah.
“Kalau ada keluarga atau tetangga yang membuang sampah ke selokan, sebaiknya diingatkan. Mengingatkan demi kebaikan masyarakat dan Kota Malang bukan sesuatu yang salah,” ujarnya.
Melalui program SPAB, BPBD Kota Malang menargetkan terbentuknya satuan pendidikan yang memiliki kemampuan mengenali risiko, melakukan evakuasi, dan mengambil langkah tepat saat terjadi bencana.
