Museum Keliling Disdikbud Kota Malang Ajak Siswa SDN Bandungrejosari 2 Kenali Tinggalan Sejarah di Sekitar
SMARTLIVE — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang mengajak siswa SDN Bandungrejosari 2 mengenali tinggalan sejarah yang berada di lingkungan sekitar mereka. Edukasi tersebut disampaikan melalui program Museum Keliling yang digelar di sekolah tersebut, Rabu (2/9/2026).
Kegiatan tidak hanya mengenalkan koleksi museum, tetapi juga menghubungkannya dengan sejarah kawasan tempat siswa tinggal. Salah satu materi yang disampaikan berkaitan dengan tinggalan arkeologis di sekitar Bandungrejosari, Klayatan, Bakalan Krajan hingga kawasan Sungai Metro.
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kota Malang Juli Handayani mengatakan Museum Keliling merupakan program rutin tahunan untuk mendekatkan pembelajaran museum dan sejarah kepada pelajar.
Menurutnya, program tersebut menjadi alternatif bagi siswa yang belum memiliki kesempatan mengunjungi museum secara langsung.

“Museum Keliling menjadi salah satu upaya membawa pembelajaran museum langsung ke sekolah,” ujar Juli.
Dalam kegiatan tersebut, siswa diperkenalkan dengan koleksi Museum Mpu Purwa Kota Malang, termasuk tinggalan dari masa Hindu-Buddha. Benda-benda tersebut tidak hanya diperlihatkan sebagai artefak, tetapi juga dijelaskan berdasarkan konteks sejarah dan kebudayaan yang melatarbelakanginya.
Tinggalan Sejarah di Sekitar Sungai Metro
Penanggung jawab Museum Keliling Disdikbud Kota Malang, Rakai Hino Galeswangi atau Sam Raka, mengajak siswa melihat kembali lingkungan sekitar melalui peta dan tampilan lokasi.

Siswa diajak mengenali kemungkinan keberadaan benda maupun struktur peninggalan sejarah yang berada di sekitar permukiman dan fasilitas umum.
Menurut Sam Raka, kawasan Bandungrejosari dan sekitarnya memiliki sejumlah tinggalan yang berkaitan dengan perkembangan peradaban masa lalu, termasuk di sepanjang kawasan Sungai Metro.
Ia juga menyampaikan adanya struktur batu berukuran besar yang ditemukan di kawasan sekitar permukiman. Struktur tersebut disebut menyerupai bagian fondasi bangunan.
Namun, Sam Raka menegaskan fungsi struktur tersebut belum dapat dipastikan dan masih membutuhkan kajian serta penelitian arkeologis lebih lanjut.
“Minimal adik-adik mengerti terkait benda-benda cagar budaya yang ada di lingkungan sekitarnya,” katanya.

Ia menekankan bahwa keberadaan peninggalan sejarah tidak hanya dapat ditemukan di museum. Sebagian tinggalan memiliki konteks dengan kawasan tempat masyarakat tinggal saat ini.
“Minimal adik-adik paham terkait peninggalan yang ada di sekitarmu. Oleh sebab itu, teman-teman Bidang Kebudayaan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan memilih sekolahmu untuk dikunjungi,” jelasnya.
Siswa Diajak Belajar dari Artefak
Dalam kegiatan tersebut, siswa juga mengamati secara langsung sejumlah koleksi yang dibawa tim Museum Keliling.

Sam Raka menjelaskan, benda yang secara kasatmata terlihat seperti batu dapat memiliki nilai sejarah dan kebudayaan. Melalui pengamatan langsung, siswa diajak memahami kemampuan masyarakat masa lalu dalam menghasilkan karya serta meninggalkan jejak yang masih dapat dipelajari hingga sekarang.
Pendekatan tersebut sekaligus mengubah pembelajaran sejarah yang selama ini banyak diperoleh melalui buku menjadi pengalaman yang lebih konkret melalui pengamatan benda dan konteks lingkungannya.
Kepala SDN Bandungrejosari 2 Kota Malang Diniarti menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, Museum Keliling memberikan kesempatan kepada siswa untuk mendapatkan pengetahuan secara langsung mengenai benda-benda peninggalan sejarah.
Ia mengingatkan siswa agar tidak melihat artefak yang diperkenalkan sebagai batu biasa karena memiliki nilai sejarah yang perlu dipahami dan dilestarikan.
“Benda yang terlihat seperti batu itu ternyata memiliki usia yang sangat tua. Meskipun sudah sangat lama, benda tersebut masih terlihat kokoh. Ini menjadi bukti bahwa benda-benda tersebut merupakan peninggalan sejarah yang harus kita jaga dan lestarikan,” katanya.
Diniarti berharap pengetahuan yang diperoleh melalui Museum Keliling dapat mendorong siswa lebih mengenal sejarah dan budaya di lingkungan tempat tinggal mereka.
