Netwriter can get reward Join NowDaftar / Login Netwriter
22/08/2026
CITILIVE

5 Fakta Mural Malang The Glory Land yang Sempat Tertutup Festival Mbois

Shinta lubis
  • Agustus 22, 2026
  • 4 min read
5 Fakta Mural Malang The Glory Land yang Sempat Tertutup Festival Mbois

CITILIVE – Polemik mural Malang The Glory Land di Jalan Arif Rahman Hakim, Kota Malang, menyita perhatian warga dan Aremania dalam beberapa hari terakhir. Mural yang selama hampir satu dekade menjadi bagian dari lanskap visual Kota Malang itu sempat tertutup mural promosi Festival Mbois 11.

Penimpaan mural tersebut memicu gelombang kritik di media sosial. Tidak sedikit warga yang mempertanyakan hilangnya karya yang selama ini dianggap bukan sekadar lukisan dinding, melainkan bagian dari memori kolektif Kota Malang.

Panitia Festival Mbois 11 melalui Malang Creative Fusion (MCF) kemudian menyampaikan permohonan maaf dan klarifikasi atas polemik tersebut. Mural promosi bertuliskan “Malang Menyala Bersama” yang sempat menutup karya lama itu juga telah dihapus.

Berikut sejumlah fakta tentang mural Malang The Glory Land yang kembali menjadi sorotan.

1. Sudah Menjadi Bagian Lanskap Kota Sejak 2016

Mural Malang The Glory Land pertama kali dibuat pada 2016. Selama sekitar 10 tahun, mural tersebut menghiasi dinding di Jalan Arif Rahman Hakim, salah satu kawasan strategis di Kota Malang.

Lokasinya berada di kawasan yang dikelilingi sejumlah bangunan dan titik yang menjadi bagian dari wajah Kota Malang. Karena telah hadir cukup lama, mural tersebut kemudian menjadi salah satu penanda visual yang mudah dikenali masyarakat.

Bagi sebagian warga, keberadaan mural itu bahkan telah menyatu dengan lanskap kawasan dan menjadi bagian dari perjalanan Kota Malang dalam satu dekade terakhir.

2. Digagas Almarhum Hari Sucahyo atau Sam Nyek

Mural Malang The Glory Land merupakan karya yang digagas oleh almarhum Hari Sucahyo, yang dikenal luas dengan sapaan Sam Nyek.

Sam Nyek dikenal sebagai salah satu tokoh Aremania yang kerap menyampaikan pesan melalui simbol, tulisan dan karya di ruang publik. Melalui mural tersebut, ia ingin menghadirkan pesan tentang kebanggaan, harapan dan kejayaan Malang.

Baca Juga:  Kader PKB Kabupaten Malang Siap Kawal Pemenangan Ladub

Karena sosok penciptanya telah meninggal dunia, mural tersebut juga memiliki nilai sentimental tersendiri bagi masyarakat dan komunitas yang mengenalnya.

Karya itu kemudian tidak hanya dipandang sebagai mural biasa, tetapi menjadi jejak pemikiran dan pesan yang ditinggalkan Sam Nyek di ruang publik.

3. Sengaja Tidak Menggunakan Kata Arema

Salah satu fakta yang menarik dari mural tersebut adalah pemilihan kalimat Malang The Glory Land.

Meski digagas oleh salah satu tokoh Aremania, Sam Nyek tidak menggunakan kata Arema dalam karya tersebut. Pemilihan kata Malang dilakukan untuk membawa pesan yang lebih luas dan tidak terbatas pada satu kelompok.

Pesan yang ingin dibangun adalah kebanggaan terhadap Malang secara menyeluruh. Mural tersebut ditujukan untuk seluruh warga, baik Aremania, pecinta sepak bola maupun masyarakat umum.

Karena itu, makna mural tersebut tidak hanya dikaitkan dengan identitas sepak bola, tetapi juga dengan identitas dan kebanggaan warga terhadap Kota Malang.

4. Sempat Tertutup Mural Promosi Festival Mbois

Polemik bermula ketika mural Malang The Glory Land ditutup dengan cat dasar dan kemudian ditimpa mural promosi bertuliskan “Malang Menyala Bersama” untuk mendukung Festival Mbois 11.

Peristiwa tersebut langsung memicu reaksi di media sosial. Sejumlah warga dan Aremania menyayangkan penimpaan karya yang dianggap memiliki nilai sejarah dan sentimental bagi Kota Malang.

Kritik yang muncul tidak hanya berkaitan dengan hilangnya sebuah gambar, tetapi juga menyangkut penghormatan terhadap karya seni yang telah lama menjadi bagian dari ruang publik dan memori kolektif masyarakat.

Polemik tersebut sekaligus membuka kembali diskusi mengenai etika penggunaan ruang publik, terutama ketika sebuah karya baru ditempatkan di atas karya yang telah memiliki nilai sejarah dan makna bagi masyarakat.

Baca Juga:  410 Siswa Baru Ikuti MATA MUDA MTsN 1 Kota Malang, Kemenag Tekankan Pembentukan Karakter Sejak Hari Pertama

5. Mural Promosi Sudah Dihapus

Setelah polemik mencuat, pihak penyelenggara Festival Mbois 11 menyampaikan permohonan maaf dan memberikan klarifikasi.

Mural promosi “Malang Menyala Bersama” yang sempat menutup mural lama kemudian dihapus. Berdasarkan pantauan pada Kamis (20/8/2026) sore, tulisan promosi tersebut telah ditutup kembali dengan cat berwarna biru.

Namun, penghapusan mural promosi belum serta-merta mengembalikan Malang The Glory Land seperti sebelumnya. Mural karya Sam Nyek tersebut telah tertutup dan membutuhkan proses tersendiri apabila akan dikembalikan.

Polemik ini pun menjadi pengingat bahwa sebuah mural dapat memiliki makna lebih dari sekadar karya visual. Setelah bertahun-tahun hadir di tengah masyarakat, karya seni di ruang publik dapat berkembang menjadi bagian dari identitas, sejarah dan memori kolektif sebuah kota.

Bagi warga Malang dan Aremania, Malang The Glory Land bukan hanya tulisan di dinding. Karya tersebut telah menjadi simbol kebanggaan terhadap Malang dan jejak pesan yang ditinggalkan penciptanya untuk terus hidup di ruang publik.