Netwriter can get reward Join NowDaftar / Login Netwriter
22/08/2026
CITILIVE

37 Santri di Wajak Dilatih Jadi Wirausaha, Talas dan Petai Diolah Jadi Produk Bernilai Jual

Shinta lubis
  • Agustus 22, 2026
  • 3 min read
37 Santri di Wajak Dilatih Jadi Wirausaha, Talas dan Petai Diolah Jadi Produk Bernilai Jual

CITILIVE – Sebanyak 37 santri kelas XI dan XII Generasi Taqwa Sumber Putih, Wajak, Kabupaten Malang, mendapat pelatihan kewirausahaan berbasis potensi lokal dari Universitas Negeri Malang (UM).

Kegiatan yang digelar Selasa (18/8/2026) tersebut tidak hanya membekali santri dengan keterampilan mengolah pangan, tetapi juga mengenalkan tahapan membangun usaha mulai dari mengenali peluang, menentukan produk, menghitung biaya, membuat merek, mengemas hingga memasarkan produk.

Program bertajuk “Pemberdayaan Kelompok Remaja Pondok Pesantren melalui Inkubasi Kewirausahaan Berbasis Potensi Lokal untuk Mewujudkan Pesantren Mandiri” merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Pendanaan 2026.

Program tersebut didanai melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Tim UM yang terlibat dalam kegiatan tersebut terdiri atas Dian Rachmawati, Rizza Megasari, Raisa Fitri, Sri Handayani, Rizky Dwi Putri, Restu Agus Dwi Kurniawan, dan Herin Fitriani. Generasi Taqwa Sumber Putih menjadi mitra pelaksanaan program.

Talas dan Petai Jadi Produk Kreatif

Salah satu praktik utama dalam kegiatan tersebut adalah mengolah bahan pangan lokal menjadi produk yang memiliki nilai tambah.

Santri dikenalkan dengan pemanfaatan talas dan petai sebagai bahan dasar produk pangan inovatif. Talas diolah menjadi tepung yang dapat digunakan sebagai bahan kukis, sedangkan petai dikembangkan menjadi bahan brownies dan muffin.

Praktik tersebut memperkenalkan konsep bahwa bahan pangan lokal tidak harus dijual sebagai komoditas mentah. Dengan inovasi pengolahan, kemasan dan strategi pemasaran, bahan lokal dapat dikembangkan menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

Santri juga diarahkan memahami proses pengembangan produk secara utuh, mulai dari membuat, menguji, memberikan merek, mengemas hingga menjual.

Baca Juga:  Kemacetan Libur Hari Raya Idul fitri Jadi Perhatian Khusus Pemkot

Santri Belajar Memahami Pasar

Pelatihan tidak berhenti pada kemampuan memproduksi makanan. Para santri juga diajak memahami kebutuhan konsumen sebelum menentukan produk yang akan dijual.

Penilaian produk dilakukan dengan melihat sejumlah aspek, seperti penampilan, aroma, rasa, tekstur, tingkat kesukaan hingga minat konsumen untuk membeli.

Santri kemudian diperkenalkan pada sejumlah pertanyaan dasar dalam menjalankan usaha. Di antaranya siapa calon pembeli, kebutuhan apa yang hendak dipenuhi, berapa harga yang sesuai, lokasi penjualan dan strategi promosi yang tepat.

Mereka juga mendapat materi mengenai penghitungan biaya produksi, biaya per unit, margin keuntungan dan penentuan harga jual.

Selain itu, identitas produk menjadi bagian penting dalam pelatihan. Santri dikenalkan dengan pembuatan nama dan merek, desain kemasan, informasi produk serta strategi pemasaran melalui foto, video, storytelling, bundling, sampling dan testimoni konsumen.

Dorong Kemandirian Ekonomi Pesantren

Kegiatan tersebut diharapkan menjadi langkah awal pembentukan ekosistem kewirausahaan di lingkungan Generasi Taqwa Sumber Putih.

Produk berbasis talas dan petai menjadi contoh bahwa potensi yang berada di sekitar pesantren dapat dikembangkan menjadi produk kreatif sekaligus peluang usaha.

Ke depan, keterampilan tersebut dapat dilanjutkan melalui produksi rutin, penyempurnaan resep, peningkatan kualitas, penguatan merek dan kemasan, pencatatan keuangan serta uji pasar.

Pendampingan berkelanjutan diharapkan dapat mendorong kegiatan tersebut berkembang dari sekadar pembelajaran menjadi embrio usaha produktif pesantren.

Program ini sekaligus memperlihatkan peran perguruan tinggi dalam menerapkan pengetahuan untuk menjawab kebutuhan masyarakat, khususnya dalam pengembangan potensi lokal dan peningkatan keterampilan generasi muda.

Bagi para santri, kewirausahaan tidak hanya dikenalkan sebagai aktivitas mencari keuntungan. Keterampilan tersebut juga diarahkan untuk membangun kreativitas, keberanian mengambil peluang, kemandirian dan kemampuan memecahkan persoalan.

Baca Juga:  Langkah Nyata Menuju Bhayangkara 79: Polresta Malang Kota Tumbuhkan Kepercayaan Lewat Aksi Humanis dan Prestasi

Melalui pelatihan tersebut, 37 santri diajak melihat bahan pangan di sekitar dengan perspektif berbeda. Talas dan petai yang selama ini dikenal sebagai bahan makanan dapat dikembangkan menjadi produk baru dengan nilai jual.

Program pemberdayaan ini juga mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) 4 tentang Pendidikan Bermutu melalui pembelajaran berbasis pengalaman, sekaligus SDGs 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui penguatan keterampilan kewirausahaan dan penciptaan peluang ekonomi bagi generasi muda.

Dari potensi lokal, para santri diharapkan mampu menciptakan produk. Dari produk tersebut, tumbuh peluang usaha yang pada akhirnya dapat memperkuat kemandirian ekonomi pesantren.