Netwriter can get reward Join NowDaftar / Login Netwriter
07/09/2026
CITILIVE

22 Tahun Munir Wafat, Konferensi Internasional Mahasiswa di Malang Soroti Masa Depan Ruang Sipil

rifamahmudah
  • September 7, 2026
  • 4 min read
22 Tahun Munir Wafat, Konferensi Internasional Mahasiswa di Malang Soroti Masa Depan Ruang Sipil

CITILIVE,MALANG – Tepat 22 tahun setelah wafatnya pejuang hak asasi manusia (HAM) Munir Said Thalib, mahasiswa dari sejumlah negara berkumpul di Malang untuk membahas tantangan HAM di tengah perubahan ekonomi, politik, lingkungan hingga masa depan ruang sipil.

Momentum tersebut menjadi salah satu alasan Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (FH UB) menggelar 2nd International Student Conference on Human Rights (ISCHR) 2026 pada 7–8 September 2026.

Konferensi internasional mahasiswa itu mengangkat tema “Human Rights in a Changing World: Economy, Politics, Environment, and the Future of Civic Space”.Ketua Panitia ISCHR 2026, Cyndiarnis Cahyaning Putri, S.H., M.Kn., mengatakan pemilihan 7 September sebagai hari pembukaan konferensi bukan tanpa alasan.Tanggal tersebut bertepatan dengan hari wafat Munir pada 7 September 2004.

“Pada hari ini, tanggal 7 September, ini merupakan hari kematiannya almarhum Munir. Jadi memang kami selenggarakan konferensi ini pada tanggal ini untuk memperingati juga kematian dari tokoh HAM tersebut,” ujar Cyndiarnis.

Menurutnya, konferensi tersebut tidak sekadar menjadi forum akademik mahasiswa, tetapi juga ruang refleksi terhadap perjalanan perjuangan HAM di Indonesia dan tantangan yang masih dihadapi hingga saat ini.

Hampir 60 Peserta dari Asia dan Afrika

ISCHR 2026 diikuti hampir 60 peserta dari berbagai negara.Peserta masih didominasi mahasiswa dari kawasan Asia Tenggara, khususnya Indonesia dan Filipina. Namun, konferensi tersebut juga diikuti peserta dari sejumlah negara lain dengan keterlibatan yang berasal dari kawasan Asia dan Afrika.

Cyndiarnis mengatakan perbedaan latar belakang negara membuat peserta membawa persoalan dan perspektif HAM yang beragam ke dalam forum. “Harapannya nanti tahun depan outreach-nya bisa semakin tinggi lagi,” katanya. Penyelenggaraan konferensi tahun ini juga menghadapi kendala perjalanan. Sejumlah narasumber mengalami perubahan jadwal penerbangan akibat kondisi force majeure sehingga tidak seluruhnya dapat hadir secara langsung. Beberapa pembicara akhirnya mengikuti konferensi secara daring.

Baca Juga:  Tren “Rumpas” di Kota Malang Mulai Lesu, Pedagang Kawasan Kampus Ikut Terdampak

“Kemarin sempat ada terkendala beberapa narasumber, akhirnya harus mengisi online karena ada beberapa flights yang harus di-reschedule,” ujarnya. Meski demikian, penyelenggara tetap mempertahankan konsep utama konferensi secara luring. “Kami menyediakan hanya untuk luring saja. Karena kami di sini inginnya memang ada perbedaan kalau kita bertemu secara langsung dan kalau dilaksanakan dengan daring,” kata Cyndiarnis.

Ruang Sipil Jadi Sorotan

Tema ISCHR 2026 menempatkan masa depan ruang sipil sebagai salah satu isu utama.Perubahan ekonomi, dinamika politik, persoalan lingkungan dan perkembangan kehidupan sosial dinilai terus melahirkan tantangan baru terhadap penghormatan hak dan martabat manusia. Cyndiarnis mengatakan kesadaran terhadap HAM tidak dapat hanya dibebankan kepada kalangan akademisi atau lembaga tertentu.

“Kami di sini menyediakan sebuah wadah, harapannya semakin banyak orang yang aware dengan isu-isu terkait dengan hak asasi manusia,” ujarnya. Menurutnya, penghormatan terhadap HAM harus berlaku tanpa membedakan latar belakang manusia. “We believe all human beings are being born with rights and dignity, despite of the ethnicity, race, and its nationality,” katanya.

Konferensi tersebut diharapkan menjadi salah satu ruang untuk memperluas kesadaran sekaligus memperkuat kontribusi akademik terhadap persoalan HAM. “Kami tidak ingin lagi adanya kejahatan-kejahatan hak asasi manusia. Diharapkan dengan konferensi ini setidaknya dapat mengurangi dan memberikan sumbangsih, kontribusi terhadap keilmuan hak asasi manusia,” tegasnya.

Mahasiswa Disebut Punya Peran Strategis

Wakil Rektor III Universitas Brawijaya Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kewirausahaan Mahasiswa, Dr. Setiawan Noerdayasakti, menilai mahasiswa memiliki posisi strategis dalam memperluas pemahaman masyarakat mengenai HAM. Menurutnya, persoalan HAM tidak hanya berkaitan dengan hukum, tetapi juga bersinggungan dengan kehidupan sosial, ekonomi dan politik.

“Human rights itu merupakan suatu hal yang penting untuk dipahami oleh semua masyarakat. Dalam arti berbagai aspek, sosial, ekonomi, politik dan sebagainya. Warga masyarakat itu harus melek terhadap human rights,” ujar Setiawan. Ia menilai mahasiswa memiliki modal akademik dan kemampuan berpikir kritis yang dapat digunakan untuk menyebarluaskan kesadaran mengenai HAM.

Baca Juga:  32 Pramuka Kabupaten Malang Dikirim ke Jamnas XII, Sanusi Tekankan Misi Ketahanan Pangan

“Siapa yang dapat diandalkan untuk menyosialisasikan human rights itu? Tentunya adalah para mahasiswa. Karena mahasiswa sebagai insan-insan akademis yang berpengetahuan tentunya bisa diharapkan memberikan pengetahuan tentang human rights itu sendiri,” katanya. Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kewirausahaan Mahasiswa FH UB, Dr. Muktiono, S.H., M.Phil., mengatakan konferensi internasional memberikan ruang bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang untuk menguji gagasan dan perspektif masing-masing.

“Menghadapi tantangan yang berbeda, mereka juga punya resource yang berbeda, kompetensi yang berbeda. Sehingga konferensi juga memberikan wadah bagi mereka untuk menyampaikan aspirasi, pandangan, ide, kemudian pendapat-pendapat mereka, perspektif mereka,” ujar Muktiono. Ia berharap gagasan dan perdebatan yang muncul selama konferensi tidak berhenti setelah kegiatan berakhir. Menurutnya, hasil diskusi dan tulisan mahasiswa dapat menjadi bahan bacaan untuk memahami tantangan HAM yang semakin kompleks dan multidimensi.

K“Harapan kami dari hasil konferensi ini, misalkan melalui tulisan-tulisan, kemudian perdebatan mereka di ruang-ruang chamber nanti, kemudian akan menjadi salah satu bacaan kita bersama dalam menghadapi tantangan hak asasi manusia yang semakin kuat dan semakin multidimensi,” katanya. ISCHR 2026 pun menjadi ruang pertemuan antara refleksi perjuangan HAM masa lalu dan tantangan yang dihadapi generasi muda hari ini. Di tengah perubahan politik, ekonomi, lingkungan dan dinamika ruang sipil, mahasiswa dari berbagai negara didorong tidak hanya menjadi peserta diskusi, tetapi ikut mengambil posisi dalam menjaga penghormatan terhadap hak dan martabat manusia.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *