Tujuh Mahasiswa PBA FTIK UIN Malang Ikuti Magang BIPA di Bogor
SMARTLIVE – Pengalaman praktik di lingkungan profesional menjadi salah satu bekal penting bagi mahasiswa untuk menghadapi tantangan dunia kerja. Menyadari hal tersebut, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang terus membuka peluang pengembangan kompetensi mahasiswa melalui program magang di berbagai lembaga.
Salah satu upaya tersebut diwujudkan oleh Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) dengan mengirimkan tujuh mahasiswa untuk mengikuti program magang Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Pusat Pemberdayaan Bahasa dan Sastra (Pusdaya), Bogor. Penyerahan mahasiswa dilaksanakan pada Kamis (29/10/2026) sebagai tanda dimulainya kegiatan pembelajaran dan praktik profesional selama satu bulan. Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam memberikan pengalaman nyata kepada mahasiswa, khususnya dalam bidang pengajaran bahasa dan pengelolaan program kebahasaan.
Melalui keterlibatan langsung di lembaga penyelenggara BIPA, mahasiswa diharapkan dapat memahami berbagai aspek pembelajaran bahasa Indonesia bagi warga negara asing, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pengelolaan kegiatan pendukung. Prosesi penyerahan mahasiswa tersebut dihadiri oleh Dr. Hj. Dewi Chamidah, M.Pd., dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Arab FTIK sekaligus Kepala Pusat Studi Integrasi dan Moderasi Beragama UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Sementara itu, dari pihak Pusat Pemberdayaan Bahasa dan Sastra hadir Dony Setiawan, S.S., M.Pd., selaku Kepala Pusat Pemberdayaan Bahasa dan Sastra, serta Dr. Phil. Luh Anik Mayani, S.S., M.Hum., yang menjabat sebagai Kepala Bidang Kemitraan dan Diplomasi Bahasa dan Sastra.

Kolaborasi antara FTIK UIN Malang dan Pusdaya ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar secara langsung dari lingkungan kerja yang memiliki fokus pada pengembangan bahasa dan sastra. Dengan demikian, kegiatan magang tidak hanya menjadi pelengkap proses perkuliahan, tetapi juga sarana untuk menghubungkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan praktik di lapangan.
Selama satu bulan pelaksanaan, ketujuh mahasiswa akan terlibat dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan penyelenggaraan program BIPA. Salah satu bidang yang menjadi perhatian adalah pengelolaan kelembagaan, termasuk aktivitas manajerial dan administrasi. Melalui pengalaman tersebut, mahasiswa dapat mengenal bagaimana sebuah lembaga mengatur program, menjalankan kegiatan, serta memastikan proses pembelajaran berlangsung secara terstruktur.
Selain memperoleh pengalaman dalam bidang pengelolaan lembaga, mahasiswa juga mendapatkan kesempatan untuk terlibat langsung dalam kegiatan pengajaran BIPA. Aktivitas pembelajaran akan dilaksanakan melalui dua metode, yakni secara tatap muka atau luring dan secara daring. Keterlibatan dalam proses pengajaran tersebut menjadi kesempatan berharga bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan pedagogis. Mereka dapat mengenal karakteristik peserta didik dari berbagai latar belakang negara, memahami kebutuhan pembelajaran penutur asing, serta mempelajari strategi penyampaian materi bahasa Indonesia yang efektif dan komunikatif.
Pengalaman mengajar dalam lingkungan multibahasa dan multikultural juga dapat melatih mahasiswa agar lebih fleksibel dalam memilih pendekatan pembelajaran. Sebab, mengajarkan bahasa kepada penutur asing tentu memiliki tantangan tersendiri. Perbedaan bahasa ibu, kebiasaan berkomunikasi, hingga latar belakang budaya peserta didik menjadi faktor yang perlu diperhatikan oleh seorang pengajar BIPA. Tidak berhenti pada kegiatan pengajaran, para mahasiswa juga akan dilibatkan dalam aktivitas pengenalan dan pemahaman lintas budaya bagi mahasiswa asing yang sedang mengikuti pembelajaran BIPA di Pusat Pemberdayaan Bahasa dan Sastra.
Kegiatan ini memiliki peran penting karena pembelajaran bahasa pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dari budaya masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut. Melalui interaksi secara langsung dengan mahasiswa asing, peserta magang dapat memahami bahwa bahasa bukan sekadar kumpulan kosakata dan aturan tata bahasa. Bahasa juga menjadi sarana untuk mengenalkan nilai-nilai sosial, kebiasaan masyarakat, tradisi, serta cara pandang suatu bangsa. Pemahaman lintas budaya tersebut diharapkan mampu membentuk kepekaan mahasiswa dalam menghadapi lingkungan pembelajaran yang beragam.
Beragam aktivitas yang dijalani selama program magang akan memberikan gambaran menyeluruh mengenai penyelenggaraan BIPA. Mahasiswa tidak hanya mempelajari konsep dan teori yang diperoleh di bangku kuliah, tetapi juga menyaksikan secara langsung bagaimana program pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing dirancang dan dilaksanakan dalam lingkungan profesional. Bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, pengalaman ini sekaligus menjadi peluang untuk memperluas kompetensi di luar bidang keilmuan utama. Kemampuan memahami bahasa, mengelola pembelajaran, serta berkomunikasi dengan individu dari latar belakang budaya berbeda merupakan keterampilan yang relevan dalam menghadapi perkembangan dunia pendidikan dan kebahasaan saat ini.
Program magang BIPA juga membuka wawasan mahasiswa mengenai peluang profesi di bidang pengajaran bahasa asing dan bahasa Indonesia bagi penutur asing. Dengan pengalaman tersebut, mahasiswa dapat mengenali berbagai kemungkinan pengembangan karier yang berkaitan dengan pendidikan, kebahasaan, diplomasi budaya, hingga kerja sama internasional. Melalui pengiriman tujuh mahasiswa PBA dalam program magang ini, FTIK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual dan berorientasi pada penguatan keterampilan profesional.
Pengalaman langsung di lembaga kebahasaan diharapkan mampu membekali mahasiswa dengan kemampuan adaptasi, keterampilan mengajar, serta pemahaman lintas budaya. Ke depan, kegiatan semacam ini diharapkan dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas lulusan. Tidak hanya unggul secara akademik, mahasiswa juga diharapkan memiliki pengalaman praktis, wawasan global, dan kesiapan untuk berkontribusi dalam dunia pendidikan yang semakin terbuka terhadap interaksi lintas negara dan budaya.
