Netwriter can get reward Join NowDaftar / Login Netwriter
20/09/2026
SMARTLIVE

Tim Debat Bahasa Arab UIN Malang Raih Juara 2 JAWARA II

rifamahmudah
  • September 20, 2026
  • 7 min read
Tim Debat Bahasa Arab UIN Malang Raih Juara 2 JAWARA II

SMARTLIVE – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Dalam ajang JAWARA II (Jawara Debat Bahasa Arab), tim perwakilan UIN Malang berhasil melaju hingga babak final dan meraih posisi runner-up setelah melalui serangkaian pertandingan yang penuh tantangan. Capaian ini terasa semakin istimewa karena tim yang bertanding merupakan tim baru yang belum pernah tampil bersama dalam kompetisi sebelumnya. Di balik medali perak yang berhasil diraih, terdapat kisah perjuangan, kerja sama, serta kemampuan beradaptasi yang luar biasa.

Tim yang terdiri dari Rizal Rafid Ariqoh, Siti Najahatul Imtihan, dan Nasruddin Rafa’i harus melalui berbagai proses untuk menyatukan kemampuan dan strategi demi membawa nama UIN Malang bersaing dengan perguruan tinggi lain dari berbagai daerah.

Berawal dari Seleksi Individu

Perjalanan menuju kompetisi dimulai dari proses seleksi internal cabang Debat Bahasa Arab yang diselenggarakan di lingkungan kampus. Menariknya, seleksi dilakukan secara individu sehingga setiap peserta harus menunjukkan kemampuan terbaiknya secara personal sebelum akhirnya dipilih menjadi wakil universitas. Dari proses tersebut, Rizal berhasil lolos dan terpilih menjadi salah satu peserta yang akan mewakili UIN Malang. Bersama dua peserta lainnya, yaitu Najaha dan Rafa’i, terbentuklah satu tim yang akan berlaga dalam kompetisi tingkat nasional tersebut.

Meski sama-sama membawa nama UIN Malang, ketiganya berasal dari latar belakang akademik yang berbeda. Rizal merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, sedangkan Najaha dan Rafa’i berasal dari Program Studi Bahasa dan Sastra Arab. Selain itu, mereka juga belum pernah mengikuti perlombaan dalam satu tim sebelumnya. Kondisi ini membuat persiapan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada materi debat, tetapi juga pada proses membangun kekompakan tim. Mereka harus belajar memahami karakter masing-masing, menyatukan pola pikir, serta membangun komunikasi yang efektif agar mampu tampil sebagai satu kesatuan yang solid.

Menyatukan Tiga Individu Menjadi Satu Tim

Membangun tim debat yang kuat tentu tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Perbedaan program studi dan lokasi perkuliahan yang berada di kampus berbeda menjadi tantangan tersendiri dalam menyusun jadwal latihan. Meski demikian, keterbatasan tersebut tidak menyurutkan semangat mereka. Berbekal pengalaman yang dimiliki masing-masing dalam dunia debat Bahasa Arab, ketiganya mulai menyusun strategi latihan yang intensif. Berbagai sesi diskusi dilakukan untuk menyamakan visi dan memahami pola permainan satu sama lain. Mereka juga membagi peran sesuai kemampuan masing-masing agar setiap anggota dapat memberikan kontribusi maksimal saat pertandingan berlangsung. Sedikit demi sedikit, tim yang awalnya terdiri dari tiga individu berbeda mulai menemukan ritme kerja sama yang baik. Kekompakan yang terbangun selama masa persiapan inilah yang kemudian menjadi modal penting dalam menghadapi persaingan di arena kompetisi.

Baca Juga:  Tutup Rangkaian Peringatan Harlah ke-60, Ini Target UIN Malang Berikutnya

Persiapan Matang Menjelang Pertandingan

Memasuki masa perlombaan, intensitas persiapan semakin meningkat. Setiap mosi yang diberikan panitia harus dipelajari secara mendalam karena menjadi dasar dalam membangun argumentasi saat debat berlangsung. Bahkan pada malam sebelum pertandingan, tim UIN Malang menghabiskan waktu berjam-jam untuk membedah mosi yang diberikan. Sejak pukul 18.30 hingga 22.00 WIB, mereka berdiskusi, memetakan kemungkinan argumentasi lawan, menyusun strategi, serta menyiapkan berbagai respons yang mungkin diperlukan saat debat berlangsung. Dalam kompetisi debat, kemampuan berbicara bukanlah satu-satunya faktor penentu kemenangan. Peserta juga dituntut mampu memahami isu secara mendalam, berpikir kritis, membaca arah serangan lawan, serta memberikan tanggapan secara cepat dan tepat. Karena itulah, malam-malam persiapan menjadi bagian penting yang membantu tim membangun kesiapan mental dan strategi sebelum memasuki arena pertandingan.

Berhasil Menembus Babak Perempat Final

Hari pertama kompetisi diawali dengan pembukaan resmi, pengenalan dewan juri, serta penjelasan teknis perlombaan. Sebanyak 16 tim dari berbagai perguruan tinggi turut berpartisipasi dan dibagi ke dalam delapan pertandingan pada babak penyisihan. Tim UIN Malang mendapatkan jadwal bertanding pada babak kedua dan langsung menghadapi tim tuan rumah. Pertandingan berlangsung ketat karena masing-masing tim berusaha menunjukkan kemampuan terbaiknya. Setelah seluruh pertandingan penyisihan selesai, hasil perolehan poin diumumkan pada sore hari. Kabar menggembirakan pun datang ketika tim UIN Malang berhasil menempati posisi kedua klasemen sementara, berada tepat di bawah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Hasil tersebut memastikan langkah mereka menuju babak perempat final dan membuka peluang lebih besar untuk melangkah ke tahap berikutnya.

Strategi dan Mental Menjadi Kunci

Memasuki hari kedua, tantangan semakin berat. Tim harus menghadapi babak perempat final dengan sistem yang mengharuskan peserta mengetahui posisi pro atau kontra hanya 30 menit sebelum pertandingan dimulai. Situasi tersebut menuntut kesiapan strategi yang matang serta kemampuan berpikir cepat. Beruntung, persiapan yang dilakukan sejak malam sebelumnya membantu tim menghadapi kondisi tersebut dengan lebih percaya diri. Pada babak perempat final, UIN Malang berhadapan dengan UIN Bandung. Pertandingan berlangsung sengit dan penuh adu argumentasi.

Baca Juga:  UIN Maliki Malang Gelar Vaksinasi Massal, Gelontorkan 5.000 Dosis Vaksin AstraZeneca

Namun berkat kerja sama tim dan strategi yang telah disusun, mereka berhasil melewati babak tersebut. Keberhasilan itu membawa tim UIN Malang melangkah ke semifinal sekaligus memperbesar peluang menuju partai puncak.

Bangkit dan Menang di Semifinal

Semifinal menjadi salah satu momen paling menentukan dalam perjalanan tim. Hasil undian kembali mempertemukan UIN Malang dengan UIN Bandung, tim yang sebelumnya memiliki perolehan poin lebih tinggi. Menghadapi lawan yang sudah dikenal tentu menghadirkan tekanan tersendiri. Namun, kondisi tersebut justru mendorong tim untuk melakukan evaluasi dan perubahan strategi. Salah satu langkah penting yang dilakukan adalah melakukan rotasi peran antar anggota. Rizal yang sebelumnya menjadi pembicara ketiga kembali ditempatkan sebagai pembicara pertama, sementara Najaha mengambil peran sebagai pembicara ketiga. Keputusan tersebut terbukti efektif. Dengan strategi baru dan semangat untuk memperbaiki performa, tim UIN Malang berhasil mengungguli lawannya dan memastikan tiket menuju babak final. Pencapaian ini menjadi bukti bahwa kemampuan beradaptasi dan keberanian melakukan perubahan dapat menjadi faktor penting dalam meraih keberhasilan.

Perjuangan Hingga Partai Final

Babak final mempertemukan UIN Malang dengan UIN Jakarta, salah satu tim terbaik dalam kompetisi tersebut. Pertandingan dilaksanakan setelah waktu Magrib dan menjadi laga penentuan bagi kedua tim. Setelah melewati serangkaian pertandingan yang menguras energi dan konsentrasi, kondisi fisik serta mental peserta tentu tidak lagi sepenuhnya prima. Namun demikian, semangat untuk memberikan penampilan terbaik tetap terjaga hingga akhir pertandingan. Debat berlangsung sangat kompetitif. Kedua tim saling mempertahankan argumentasi dan berusaha meyakinkan dewan juri melalui penyampaian yang sistematis serta berbobot. Ketika hasil akhir diumumkan, tim UIN Malang harus menerima kenyataan berada di posisi kedua dengan selisih yang sangat tipis, yakni hanya dua poin dari tim juara. Meski belum berhasil meraih gelar juara pertama, pencapaian sebagai runner-up tetap menjadi prestasi yang membanggakan, terutama mengingat tim ini baru terbentuk dan belum pernah bertanding bersama sebelumnya.

Baca Juga:  Begini Konsep FELA Playmat, Inovasi Mahasiswa UM yang Tembus Kancah Internasional

Lebih dari Sekadar Medali Perak

Bagi Rizal, Najaha, dan Rafa’i, medali perak yang mereka bawa pulang bukan hanya simbol posisi kedua dalam kompetisi. Di balik penghargaan tersebut tersimpan cerita tentang kerja keras, kebersamaan, serta perjuangan yang tidak mudah. Mereka telah membuktikan bahwa perbedaan latar belakang bukanlah penghalang untuk mencapai tujuan bersama. Melalui latihan, komunikasi, dan semangat belajar yang tinggi, mereka mampu tumbuh menjadi tim yang solid dan kompetitif. Perjalanan menuju final juga mengajarkan banyak hal, mulai dari kemampuan bekerja sama, mengelola tekanan, berpikir kritis, hingga keberanian untuk mengevaluasi dan memperbaiki strategi ketika menghadapi tantangan. Prestasi ini sekaligus menjadi bukti bahwa keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh seberapa lama sebuah tim terbentuk. Terkadang, kekuatan terbesar justru lahir dari kemauan untuk belajar bersama dan saling mendukung dalam setiap proses.

Kisah Rizal, Najaha, dan Rafa’i menjadi inspirasi bahwa setiap perjuangan akan selalu memberikan pelajaran berharga. Meski hanya terpaut dua poin dari gelar juara, mereka telah menunjukkan semangat pantang menyerah dan dedikasi luar biasa dalam membawa nama UIN Malang hingga ke panggung final. Sebuah perjalanan yang tidak hanya menghasilkan prestasi, tetapi juga meninggalkan pengalaman berharga yang akan terus dikenang sepanjang perjalanan akademik mereka. (Shin)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *