Netwriter can get reward Join NowDaftar / Login Netwriter
04/10/2026
SMARTLIVE

ISS FTIK UIN Malang 2026

rifamahmudah
  • Oktober 4, 2026
  • 4 min read
ISS FTIK UIN Malang 2026

SMARTLIVE – Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun jejaring akademik internasional melalui penyelenggaraan International Students Summit (ISS) 2026. Kegiatan yang digelar oleh International Office and Student Affairs (IOSA) bersama Himpunan Mahasiswa International Class Program (ICP) ini mengangkat tema “Connecting Minds about Eco-Theological Perspectives in Education and Culture”.

Pelaksanaan hari pertama ISS pada 2 Oktober 2026 menjadi momentum penting yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai negara dan latar belakang budaya dalam satu forum akademik. Tidak hanya diikuti mahasiswa FTIK UIN Malang, kegiatan ini juga menghadirkan sekitar 30 mahasiswa internasional yang sedang menempuh studi di sejumlah perguruan tinggi di Malang, seperti Universitas Brawijaya (UB), Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Islam Malang (UNISMA), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), serta UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Keberagaman peserta menjadi salah satu kekuatan utama dalam penyelenggaraan ISS 2026. Para mahasiswa yang hadir berasal dari berbagai negara, mulai dari India, Pakistan, Thailand, Gambia, Sudan, Comoros, Afghanistan, Mozambique, Cambodia, Tajikistan, Myanmar, Yemen, Timor-Leste, hingga Madagascar. Perbedaan latar belakang budaya, bahasa, dan pengalaman hidup tersebut menciptakan suasana diskusi yang kaya perspektif dan penuh pembelajaran.

ISS 2026 tidak hanya dirancang sebagai forum akademik biasa. Kegiatan ini menjadi wadah bagi mahasiswa Indonesia dan mahasiswa internasional untuk saling mengenal lebih dekat, membangun jejaring, serta berbagi gagasan mengenai isu-isu global yang menjadi perhatian bersama. Melalui interaksi yang terbangun selama kegiatan, para peserta diajak memahami bahwa tantangan dunia saat ini membutuhkan kolaborasi lintas negara dan lintas budaya.

Ketua pelaksana dari unsur mahasiswa, Andarini Ranu, menjelaskan bahwa ISS hadir sebagai ruang dialog yang memungkinkan mahasiswa dari berbagai negara bertukar pemikiran dan pengalaman. Menurutnya, kegiatan ini menjadi sarana untuk mempererat hubungan antar mahasiswa sekaligus menumbuhkan kesadaran bersama terhadap isu-isu yang memiliki dampak global, termasuk persoalan lingkungan dan keberlanjutan.

Baca Juga:  Kisah Sukses Kevin Gumilang: Alumni STIKI Malang yang Menginspirasi di Dunia IT

Pembukaan kegiatan dilakukan oleh Dekan FTIK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. H. Muhammad Walid, M.A. Dalam sambutannya, beliau menyoroti pentingnya melihat persoalan lingkungan dari sudut pandang yang lebih luas. Menurutnya, isu lingkungan tidak cukup dipahami hanya melalui pendekatan sains dan teknologi semata. Nilai-nilai pendidikan, budaya, keyakinan, serta cara manusia memaknai hubungannya dengan alam juga memiliki peran penting dalam membangun kesadaran ekologis.

Beliau menegaskan bahwa keberagaman peserta ISS harus menjadi sumber pengetahuan dan refleksi bersama. Dengan latar belakang yang berbeda-beda, setiap peserta memiliki kesempatan untuk belajar dari pengalaman negara lain sekaligus memperluas pemahaman tentang tanggung jawab sebagai warga dunia yang peduli terhadap keberlanjutan lingkungan.

Salah satu agenda utama pada hari pertama adalah sesi pemaparan materi oleh Nanang Zubaidi. Dalam sesi tersebut, pembahasan mengenai perspektif eco-theology dalam pendidikan dan budaya dikemas secara interaktif dan dialogis. Para peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga dilibatkan secara aktif dalam diskusi dan pertukaran pandangan.

Melalui forum tersebut, mahasiswa diajak menghubungkan konsep eco-theology dengan pengalaman hidup, nilai spiritual, tradisi budaya, serta kearifan lokal yang berkembang di negara masing-masing. Berbagai pandangan yang muncul menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan alam sering kali dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya dan keyakinan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Diskusi lintas negara ini membuka wawasan baru bagi peserta tentang bagaimana pendidikan dan budaya dapat menjadi sarana untuk membangun kepedulian terhadap lingkungan. Selain itu, peserta juga memperoleh kesempatan untuk memahami praktik-praktik baik yang telah diterapkan di berbagai negara dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Ketua IOSA FTIK UIN Malang, Nur Hidayah Hanifah, M.Pd., menyampaikan bahwa konsep “Connecting Minds” yang diusung dalam ISS bukan sekadar mempertemukan mahasiswa dari berbagai negara. Lebih dari itu, kegiatan ini dirancang untuk menciptakan ruang dialog yang memungkinkan peserta saling mendengarkan, berdiskusi, bertanya, dan belajar dari perspektif yang berbeda.

Baca Juga:  Ini Organisasi Yang Bisa Diikuti Jika Sukses Menjadi Mahasiswa UIN Maliki Malang

Menjelang penutupan hari pertama, seluruh peserta mengikuti kegiatan reflektif bertajuk Wall of Commitment. Dalam sesi ini, setiap mahasiswa diminta menuliskan komitmen pribadi terkait langkah nyata yang akan dilakukan untuk menjaga kelestarian bumi. Berbagai pesan dan harapan yang ditulis peserta kemudian dipajang bersama sebagai simbol persatuan dalam keberagaman.

Wall of Commitment menjadi bukti bahwa ISS 2026 tidak hanya berfokus pada diskusi teoritis, tetapi juga mendorong lahirnya kesadaran dan tindakan nyata. Perbedaan negara, bahasa, budaya, dan tradisi tidak menjadi penghalang untuk membangun komitmen bersama dalam menjaga lingkungan. Semangat untuk menghubungkan pemikiran, mempererat hubungan antarbudaya, dan menerjemahkan nilai-nilai bersama ke dalam aksi nyata menjadi fondasi utama kegiatan ini.

Rangkaian kegiatan hari pertama pun menjadi jembatan menuju agenda berikutnya, di mana para peserta akan melanjutkan pengalaman belajar melalui interaksi langsung dengan alam serta mengenal lebih dekat kekayaan budaya Indonesia. Dengan semangat kolaborasi global, ISS FTIK UIN Malang 2026 diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan sekaligus mampu membangun kerja sama lintas budaya untuk masa depan yang lebih berkelanjutan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *