Netwriter can get reward Join NowDaftar / Login Netwriter
04/10/2026
CITILIVE

90 Pengrajin Batik Tersebar di Kota Malang, Ini yang Didorong APBKM

Shinta lubis
  • Oktober 4, 2026
  • 3 min read
90 Pengrajin Batik Tersebar di Kota Malang, Ini yang Didorong APBKM

CITILIVE— Sekitar 90 pengrajin batik tersebar di berbagai kelurahan di Kota Malang. Asosiasi Perajin Batik Kota Malang (APBKM) mendorong potensi tersebut tidak berhenti sebagai kekayaan budaya, tetapi dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi kreatif melalui pendataan dan kolaborasi lintas sektor.

Ketua APBKM Isa Wahyudi atau Ki Demang mengatakan pendataan pengrajin di tingkat kelurahan dan kecamatan penting dilakukan untuk mengetahui potensi sekaligus kebutuhan pelaku batik.

“Pengrajin batik Kota Malang ada sekitar 90. Mereka tersebar di masing-masing kelurahan,” ujar Ki Demang dalam rangkaian peringatan Hari Batik Nasional di kawasan Alun-Alun Kota Malang, Minggu (4/10/2026).

Menurutnya, data tersebut dapat menjadi dasar pemerintah dalam menyusun program pembinaan, pelatihan, promosi, hingga membuka akses pasar bagi para pengrajin.

Karena itu, ia mendorong pemerintah di tingkat kecamatan dan kelurahan turut melakukan pendataan pengrajin batik yang berada di wilayah masing-masing.

“Ini mohon Pak Camat, Ibu Camat juga bisa mencatat,” katanya.

Ki Demang menilai keberadaan sekitar 90 pengrajin menunjukkan bahwa batik memiliki potensi untuk menjadi salah satu sektor ekonomi kreatif Kota Malang. Namun, potensi tersebut membutuhkan dukungan yang berkelanjutan, mulai dari penguatan kapasitas pengrajin hingga perluasan pasar.

Ia juga mendorong kolaborasi antara pengrajin, komunitas, pemerintah, perguruan tinggi, perbankan, dan pelaku usaha agar pengembangan batik tidak berjalan sendiri-sendiri.

Kolaborasi tersebut salah satunya terlihat dalam rangkaian kegiatan Hari Batik Nasional yang digelar di kawasan Alun-Alun Kota Malang. Kegiatan tidak hanya menghadirkan pameran batik dan UMKM, tetapi juga workshop membatik yang melibatkan sekitar 300 peserta.

Universitas Brawijaya, khususnya Fakultas Ilmu Budaya, turut terlibat dalam kegiatan tersebut. Selain itu, terdapat kegiatan kreatif berbasis permainan Roblox yang menjadi bagian dari upaya memperkenalkan batik melalui pendekatan yang lebih dekat dengan generasi muda.

Baca Juga:  Menteri ESDM Sambut Ramadhan Selenggarakan Tarhib

Pameran juga didukung Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Malang melalui penyediaan 10 stan untuk pelaku UMKM dan pengrajin batik.

Menurut Ki Demang, kegiatan tersebut menjadi contoh bahwa pengembangan batik dapat dilakukan melalui kerja bersama berbagai pihak. APBKM juga mendapat dukungan dari Bank Indonesia dan Bank Jatim dalam berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat dan ekonomi.

“Ini adalah kerja kolaborasi antara Asosiasi Perajin Batik Kota Malang bersama Universitas Brawijaya, utamanya Fakultas Ilmu Budaya, yang kemudian disupport penuh oleh Dekranasda,” jelasnya.

Batik Dibawa ke Ruang Publik

Ki Demang menilai pemilihan Alun-Alun Kota Malang sebagai lokasi kegiatan memberikan keuntungan tersendiri karena batik dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat.

Menurutnya, Hari Batik Nasional tidak cukup hanya diperingati melalui seremoni. Batik perlu hadir di ruang publik agar masyarakat dapat melihat, mengenal, sekaligus terlibat dalam proses kreatifnya.

“Alun-alun sampai dua hari ini, Sabtu dan Minggu, sangat hidup. Ada banyak kegiatan hiburan dan kegiatan masyarakat yang diselenggarakan bersama,” tuturnya.

Rangkaian kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang promosi bagi karya para pengrajin batik dan produk UMKM lokal.

Ki Demang berharap kolaborasi yang telah terbangun tidak berhenti setelah peringatan Hari Batik Nasional. Menurutnya, penguatan ekosistem batik membutuhkan kesinambungan antara pendataan pengrajin, pembinaan, inovasi produk, promosi, dan perluasan akses pasar.

Dengan sekitar 90 pengrajin yang tersebar di berbagai kelurahan, ia melihat batik memiliki peluang untuk berkembang bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai sumber ekonomi bagi masyarakat Kota Malang.

“Batik” dengan demikian tidak hanya dipandang sebagai kain dan motif, tetapi sebagai produk budaya yang memiliki nilai ekonomi dan dapat dikembangkan menjadi bagian dari identitas Kota Malang.