AFRASIA Ditutup di UM, Kemdiktisaintek Dorong Riset Asia-Afrika Tembus Industri dan Berdampak Nyata
SMARTLIVE – Workshop internasional AFRASIA (Asia-Africa Collaboration in Science, Technology and Innovation) resmi ditutup di Aula Graha Rektorat Lantai 9 Universitas Negeri Malang (UM), Jumat (7/5/2026). Forum internasional tersebut menjadi momentum penguatan kolaborasi negara-negara Asia dan Afrika di bidang riset, teknologi, inovasi, hingga pendidikan tinggi.
Direktur Hilirisasi dan Kemitraan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Prof. Yos Sunitiyoso, menegaskan program AFRASIA kini mulai bergerak menuju implementasi konkret yang berdampak langsung bagi masyarakat dan sektor industri.
“Tujuan utama program ini bukan sekadar kerja sama di atas kertas, tetapi menghasilkan dampak nyata bagi pembangunan ekonomi dan masyarakat di negara-negara Asia dan Afrika,” ujar Prof. Yos dalam sambutan penutupan.

Ia menyebut selama tiga hari pelaksanaan workshop, berbagai delegasi internasional berhasil merumuskan sejumlah poin strategis terkait pengembangan riset kolaboratif, penguatan kemitraan industri, serta inovasi berkelanjutan lintas negara.
Menurutnya, penguatan jejaring internasional menjadi langkah penting untuk mempercepat hilirisasi hasil penelitian agar tidak berhenti pada publikasi ilmiah semata.
“Kami ingin memastikan ada keterhubungan kuat antara dunia riset dan industri sehingga inovasi yang lahir benar-benar bisa menjawab tantangan global,” katanya.
Workshop AFRASIA turut dihadiri sejumlah tokoh dan delegasi internasional, di antaranya Profesor Muhammad Basharuddin Abdullah Rahman dari International Science Technology Innovation Center, Profesor Muhammad Makhubesha Hadi dari National Research Foundation Afrika Selatan, serta Madam Liva Saman dari Academy of Sciences Malaysia.
Selain perguruan tinggi, forum tersebut juga melibatkan unsur industri, lembaga riset, dan pemerintah dari berbagai negara mitra Asia dan Afrika.
Prof. Yos menekankan pentingnya pendekatan kolaborasi “quadruple helix” yang melibatkan pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat sebagai fondasi utama pengembangan inovasi berkelanjutan.
Menurutnya, sinergi lintas sektor menjadi kunci agar hasil penelitian mampu diterapkan menjadi solusi konkret bagi kebutuhan masyarakat.
Sebagai bentuk dukungan pemerintah, Kemdiktisaintek terus memperkuat program kemitraan riset melalui berbagai skema strategis seperti technology pool, kolaborasi industri, serta sinergi universitas dengan dunia usaha untuk mempercepat proses hilirisasi inovasi nasional.
Di akhir kegiatan, Prof. Yos menyampaikan optimismenya bahwa AFRASIA dapat berkembang menjadi platform kolaborasi internasional jangka panjang yang mampu memperkuat posisi negara-negara Asia dan Afrika dalam ekosistem sains dan teknologi global.
“Dengan komunikasi yang terbuka, komitmen bersama, dan kolaborasi lintas sektor, AFRASIA diharapkan menjadi gerakan kerja sama yang berkelanjutan dan memberi manfaat luas bagi seluruh negara peserta,” pungkasnya.
