Netwriter can get reward Join NowDaftar / Login Netwriter
23/10/2026
SMARTLIVE

4000 Mahasantri Bergemuruh Dalam UIN Maliki Bersholawat

rifamahmudah
  • Oktober 23, 2026
  • 6 min read
4000 Mahasantri Bergemuruh Dalam UIN Maliki Bersholawat

SMARTLIVE – Sport Center (SC) Kampus 1 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang bergemuruh oleh lantunan sholawat dari sekitar 4.000 maha santri. Suasana religius berpadu dengan keceriaan ketika Lora Ismail Kholili, cicit Pahlawan Nasional Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan, mengajak para santri meneladani perjuangan ulama sekaligus membangun ketangguhan diri untuk menghadapi tantangan zaman.

Kemeriahan semakin terasa ketika sesi kuis interaktif digelar. Rektor UIN Maliki Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., Lora Ismail Kholili, dan para pimpinan universitas turut memberikan pertanyaan kepada mahasantri. Berbagai hadiah, mulai dari dua sepeda gunung, kipas angin, setrika, dan hadiah menarik lainnya, menambah antusiasme peserta.

Tawa, tepuk tangan, dan sorak bahagia mewarnai kegiatan yang memadukan spiritualitas, pendidikan karakter, dan kebersamaan tersebut. Pesan yang mengemuka sederhana, tetapi mendasar: santri harus kuat dalam prinsip, tangguh menghadapi kesulitan, dan tetap bahagia dalam menjalani proses perjuangan.

UIN Maliki Bersholawat merupakan bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-65 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang jatuh pada 28 Oktober 2026, Lustrum XIII, sekaligus peringatan Hari Santri Nasional.

Kegiatan ini dihadiri Rektor, Dewan Kyai Ma’had, jajaran pimpinan universitas, dan ribuan mahasantri Kampus 1.

Lora Ismail: Santri Harus Melanjutkan Perjuangan Ulama

Dalam tausiyahnya, Lora Ismail Kholili mengingatkan bahwa menjadi santri bukan sekadar menjalani pendidikan agama atau menguasai kitab-kitab keislaman. Santri juga memikul tanggung jawab untuk meneruskan perjuangan para ulama dan kyai yang telah mengabdikan ilmu, tenaga, dan kehidupannya bagi umat, bangsa, dan negara. Menurut pesan yang disampaikannya, generasi muda harus memiliki daya juang yang kuat, tidak mudah patah semangat ketika menghadapi kesulitan, serta tidak kehilangan orientasi hanya karena perjalanan menuju keberhasilan membutuhkan waktu dan pengorbanan.

Pesan agar generasi Z tidak lemah, tidak lekas menyerah, dan tidak kehilangan semangat menjadi pengingat bahwa masa depan tidak dibangun melalui kemudahan semata, melainkan melalui kesungguhan, kedisiplinan, dan kesediaan menjalani proses. Lora Ismail juga menyoroti tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini, termasuk meningkatnya tekanan dan stres di tengah kehidupan yang semakin modern. Kemudahan fasilitas, menurut pesan yang disampaikannya, tidak otomatis membuat seseorang lebih kuat dalam menghadapi persoalan.

Baca Juga:  Tetap Datangi Kampus Saat Positif Covid-19, Begini Klarifikasi Mahasiswa FH UB

Persoalan tersebut menegaskan pentingnya pendidikan yang tidak hanya mengembangkan kecerdasan intelektual, tetapi juga membentuk kematangan emosional, kekuatan spiritual, dan ketahanan mental. Generasi muda perlu dibekali kemampuan untuk mengelola diri, belajar dari kegagalan, serta bangkit ketika menghadapi keadaan yang tidak sesuai dengan harapan. Bagi santri, ketangguhan bukan berarti tidak pernah mengalami kesulitan. Ketangguhan adalah kemampuan untuk tetap belajar ketika menghadapi kegagalan, menjaga prinsip ketika berada dalam tekanan, dan terus berusaha tanpa kehilangan tujuan hidup.

Ma’had, Kekhasan UIN Maliki dalam Membentuk Karakter

Pesan tentang ketangguhan tersebut memiliki relevansi kuat dengan sistem pendidikan UIN Maliki Malang yang mengintegrasikan kehidupan perguruan tinggi dengan tradisi pesantren melalui program Ma’had selama satu tahun bagi mahasiswa baru. Selama menjalani kehidupan ma’had, mahasiswa tidak hanya memperoleh pembelajaran keislaman dan pembiasaan ibadah, tetapi juga pengalaman hidup yang membentuk kedisiplinan, kemandirian, tanggung jawab, serta kemampuan beradaptasi dalam lingkungan kolektif.

Nilai-nilai tersebut tidak cukup diajarkan melalui teori. Mahasiswa perlu mengalaminya dalam rutinitas keseharian: mengatur waktu, menaati aturan, menghormati sesama, menjalani kewajiban, dan belajar menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Inilah salah satu kekhasan UIN Maliki Malang: pendidikan tinggi tidak berhenti pada pencapaian akademik, tetapi berikhtiar membentuk manusia yang berilmu, berakhlak, dan memiliki kedalaman spiritual.

Dalam perspektif pendidikan, perpaduan perguruan tinggi dan pesantren merupakan pendekatan pembentukan karakter melalui integrasi pengetahuan, pembiasaan, keteladanan, dan pengalaman hidup. Mahasiswa tidak hanya dipersiapkan untuk meraih keberhasilan pribadi, tetapi juga untuk menjalankan tanggung jawab sosial. Karena itu, mahasantri diharapkan mampu membawa nilai-nilai pesantren ke dalam kehidupan profesional dan pengabdian di masyarakat. Mereka dapat berkontribusi di berbagai bidang sesuai keahlian masing-masing, dengan tetap menjadikan integritas, tanggung jawab, dan kemaslahatan sebagai orientasi.

Baca Juga:  Atlet Taekwondo ITN Malang Borong Enam Medali di Turnamen Internasional

Sholawat, Kuis, dan Hadiah: Santri Juga Berhak Bahagia

Salah satu daya tarik UIN Maliki Bersholawat adalah suasana akrab yang terbangun antara mahasantri, ulama, dan pimpinan universitas. Sesi kuis yang dipandu Lora Ismail Kholili, Rektor, serta para pimpinan UIN Maliki Malang menjadi ruang interaksi yang menghibur sekaligus mempererat kebersamaan. Dua sepeda gunung, kipas angin, setrika, dan sejumlah hadiah lainnya menambah semarak kegiatan. Hadiah tersebut bukan sekadar pelengkap acara, melainkan bagian dari upaya menghadirkan suasana yang menggembirakan bagi para maha santri setelah menjalani rutinitas pendidikan dan pembinaan di lingkungan kampus.

Di tengah kuatnya penekanan pada disiplin dan pembentukan karakter, kebahagiaan juga merupakan bagian penting dari pengalaman pendidikan. Lingkungan pendidikan yang baik bukan hanya menuntut mahasiswa untuk belajar dan berprestasi, tetapi juga memberi ruang bagi mereka untuk merasakan kebersamaan, dihargai, dan menikmati proses pertumbuhan. Santri yang tangguh bukan berarti harus selalu berada dalam suasana serius. Mereka juga berhak tertawa, bergembira, dan merasakan kebahagiaan dalam kebersamaan.

Justru, lingkungan yang hangat dan penuh penghargaan dapat memperkuat rasa memiliki terhadap institusi serta membangun ikatan emosional antara mahasiswa dan kampus. Suasana tersebut menjadi gambaran bahwa kehidupan mahasantri di UIN Maliki Malang tidak hanya diwarnai pembelajaran dan kedisiplinan, tetapi juga pengalaman spiritual dan sosial yang membentuk karakter secara utuh.

Rektor Apresiasi Panitia dan Semangat Mahasantri

Sebelum tausiyah Lora Ismail Kholili, Rektor UIN Maliki Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., menyampaikan sambutan dan motivasi kepada para mahasantri. Rektor juga memberikan apresiasi kepada panitia dan seluruh pihak yang telah menyukseskan UIN Maliki Bersholawat. Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan sivitas akademika sekaligus menghidupkan tradisi keislaman di lingkungan perguruan tinggi.

Sholawat menjadi ekspresi kecintaan kepada Rasulullah SAW sekaligus pengingat akan pentingnya meneladani akhlak, memperkuat persaudaraan, dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama. Dalam rangkaian Dies Natalis ke-65 dan Lustrum XIII, kegiatan tersebut juga menjadi refleksi bahwa keberhasilan perguruan tinggi tidak hanya diukur melalui capaian akademik, reputasi, dan pembangunan sarana prasarana. Kualitas karakter dan nilai-nilai yang tumbuh dalam diri mahasiswa merupakan bagian penting dari keberhasilan pendidikan.

Baca Juga:  UIN Malang Gandeng Pemkab Sumenep, Siapkan Beasiswa hingga Jalur Kedokteran untuk Daerah Kepulauan

Dies Natalis ke-65: Merawat Tradisi, Menyiapkan Generasi Masa Depan

Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga UIN Maliki Malang, Prof. Dr. M. Abdul Hamid, M.A., selaku person in charge (PIC) Dies Natalis ke-65, menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung kesuksesan UIN Maliki Bersholawat.

Ia memberikan apresiasi khusus kepada Dewan Kyai Ma’had, mudir ma’had Dr. Izzuddin bersama tim, serta Ketua Panitia Dies Natalis, dr. Yossi dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK), beserta seluruh panitia yang terlibat. Menurutnya, keberhasilan kegiatan yang diikuti ribuan mahasantri tersebut merupakan hasil kerja kolektif berbagai unsur universitas.

Sinergi antara Dewan Kyai Ma’had, panitia Dies Natalis, pimpinan, dan sivitas akademika menjadi bagian penting dalam menghadirkan kegiatan yang bukan hanya meriah, tetapi juga sarat nilai spiritual, pendidikan, dan kebersamaan. Memasuki usia ke-65 dan Lustrum XIII, UIN Maliki Malang terus meneguhkan komitmen untuk membangun pendidikan tinggi yang memadukan keunggulan ilmu pengetahuan, kedalaman spiritual, dan pembentukan karakter. Peringatan hari jadi universitas tidak hanya menjadi ruang untuk merayakan perjalanan institusi, tetapi juga kesempatan memperkuat orientasi pendidikan bagi generasi masa depan.

UIN Maliki Bersholawat menghadirkan pesan bahwa menjadi santri berarti bersedia menjalani proses, belajar dari kesulitan, menjaga akhlak, dan mengabdikan ilmu bagi kepentingan yang lebih luas. Pada saat yang sama, santri tetap dapat menjalani kehidupan pendidikan dengan penuh kegembiraan, persaudaraan, dan rasa syukur. Santri yang kuat bukan hanya yang mampu bertahan menghadapi kesulitan, tetapi juga yang tidak kehilangan semangat untuk terus tumbuh. Santri yang berhasil bukan hanya yang mengangkat derajat dirinya, tetapi juga yang menjadikan ilmu dan keberhasilannya bermanfaat bagi umat, bangsa, dan negara. (Shin)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *