Netwriter can get reward Join NowDaftar / Login Netwriter
27/04/2026
CITILIVE

Stunting Kota Malang Turun ke 8,1 Persen, Dinkes Perketat Pemantauan 644 Posyandu

rifamahmudah
  • April 27, 2026
  • 2 min read
Stunting Kota Malang Turun ke 8,1 Persen, Dinkes Perketat Pemantauan 644 Posyandu

CITILIVE – Prevalensi stunting di Kota Malang turun menjadi 8,1 persen berdasarkan hasil bulan timbang terbaru. Pemerintah Kota Malang melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) kini mengintensifkan pemantauan di 644 posyandu guna memastikan pengukuran dan intervensi penanganan berjalan tepat sasaran.

Kepala Dinkes Kota Malang Husnul Muarif mengatakan, angka tersebut dihitung dari sekitar 38 ribu anak yang menjadi sasaran pemantauan status gizi balita di Kota Malang.

“Dari jumlah sekitar 38 ribu sekian anak di Kota Malang, prevalensi stunting itu 8,1 persen. Itu berdasarkan bulan timbang,” ujarnya, Senin (27/4/2026).

Menurutnya, pemantauan kondisi gizi balita dilakukan rutin setiap bulan di seluruh posyandu. Langkah itu dinilai penting untuk mengetahui perkembangan kasus stunting secara riil di masing-masing wilayah.

Hasil penimbangan dan pengukuran balita kemudian dicatat melalui sistem elektronik pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat (e-PPGBM). Data dari posyandu selanjutnya dilaporkan ke Dinkes Kota Malang dan diteruskan ke tingkat provinsi.

“Itu yang dilaporkan masing-masing posyandu setelah melakukan pengukuran dan penimbangan balita di wilayahnya ke dinas kesehatan, kemudian kami laporkan ke provinsi,” jelasnya.

Secara tren, angka stunting di Kota Malang menunjukkan penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023 prevalensi stunting tercatat 9,2 persen, turun menjadi 8,1 persen pada 2024, dan sempat naik tipis menjadi 8,48 persen pada 2025.

Meski sempat mengalami kenaikan, kondisi tersebut masih dinilai terkendali dan tetap berada dalam tren positif.

Husnul menegaskan, validitas data menjadi kunci utama dalam penanganan stunting. Karena itu, seluruh posyandu didorong melakukan pengukuran lengkap dan akurat agar intervensi bisa diberikan sesuai kebutuhan.

“Target kami, setiap kali penimbangan dan pengukuran, masing-masing posyandu bisa melakukan sasaran lengkap dan valid ukurannya sehingga bisa kita lihat hasilnya,” katanya.

Baca Juga:  Bersama OJK Pemkot Batu Luncurkan TPKAD

Ia menambahkan, sebaran kasus stunting di lima kecamatan Kota Malang saat ini relatif merata. Fokus penanganan diprioritaskan pada anak usia di bawah dua tahun karena menjadi periode krusial pertumbuhan.

Untuk menekan angka stunting, Pemkot Malang menjalankan berbagai program intervensi, mulai dari Makanan Bergizi Gratis (MBG) hingga Pemberian Makanan Tambahan (PMT). “Kami tidak membedakan. Karena ada MBG, ada juga PMT. Semuanya merupakan intervensi untuk meminimalkan stunting yang ada di Kota Malang,” tegas Husnul. (shin)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *