Sanusi Dorong ICMI Malang Gerakkan Ekonomi Rakyat, Bukan Sekadar Bantuan
CITILIVE,MALANG — Bupati Malang HM Sanusi mendorong Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Kabupaten Malang ikut menggerakkan ekonomi masyarakat melalui ilmu pengetahuan, kepakaran, dan pendampingan. Menurutnya, persoalan kemiskinan tidak cukup diatasi dengan bantuan, tetapi membutuhkan kemampuan agar masyarakat dapat mandiri.
Pesan tersebut disampaikan Sanusi saat pelantikan Pengurus ICMI Kabupaten Malang periode 2026–2031.
Sanusi menyebut angka kemiskinan di Kabupaten Malang masih berada di kisaran 8,6 persen atau sekitar 236 ribu penduduk. Kondisi tersebut, menurutnya, membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk kalangan cendekiawan.
“Tidak hanya memberi bantuan, tetapi bagaimana memberi kail supaya mereka bisa keluar,” ujar Sanusi.
Karena itu, Sanusi meminta ICMI memanfaatkan kepakaran anggotanya untuk membantu masyarakat mengembangkan potensi ekonomi. Kolaborasi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lain dinilai diperlukan agar pengetahuan dan tenaga ahli tidak berhenti di lingkungan akademik.
Ia juga mengingatkan pengurus ICMI untuk memegang prinsip khairunnas anfa’uhum linnas, yakni memberikan manfaat bagi orang lain.
“Ini arahnya bagaimana kita memberikan manfaat kepada orang lain, bukan memanfaatkan orang lain,” tegasnya.
Tiga Agenda ICMI Kabupaten Malang

Ketua ICMI Kabupaten Malang Makrus Sholeh mengatakan kepengurusan periode 2026–2031 menyiapkan tiga agenda utama untuk menerjemahkan kepakaran cendekiawan menjadi program yang berdampak.
Agenda pertama adalah membumikan ilmu pengetahuan melalui riset untuk sektor unggulan Kabupaten Malang. ICMI akan mendorong pemanfaatan riset dan data dalam pengembangan pertanian, hortikultura, perkebunan, lingkungan, desa wisata, hingga pariwisata.
“ICMI Kabupaten Malang harus hadir sebagai brand trust bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan publik berbasis data dan riset,” kata Makrus.
Salah satu potensi yang disoroti adalah pengembangan komoditas durian. Menurut Makrus, komoditas tersebut dapat dikembangkan tidak hanya sebagai produk pertanian, tetapi juga terintegrasi dengan pemberdayaan masyarakat dan wisata.
Ia mencontohkan rencana pemberian bibit durian kepada warga di sekitar kawasan kebun di Bululawang. Lahan di sekitar rumah warga diarahkan untuk ditanami durian sehingga dalam jangka panjang dapat berkembang menjadi kawasan wisata berbasis komoditas.
“Kita kasih bibit durian sehingga nanti jadi kampung wisata durian,” ujarnya.
Agenda kedua adalah penguatan sumber daya manusia dan literasi teknologi. ICMI akan mendorong pemetaan potensi peserta didik sejak jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi agar pengembangan pendidikan dan keterampilan lebih sesuai dengan kemampuan masing-masing.
“Kita akan mencari, menemukan kekuatan dari anak didik kita, sehingga kita temukan kekuatannya dan kita inspirasi supaya mereka tahu kekuatannya,” kata Makrus.
Agenda ketiga adalah membangun kolaborasi strategis untuk memperkuat ekonomi kerakyatan. ICMI akan melibatkan akademisi, rektor, kiai, pengusaha, dan cendekiawan untuk merumuskan program yang dapat diterapkan di masyarakat.
Makrus mengatakan hasil kajian ICMI juga akan dikomunikasikan secara berkala kepada Pemkab Malang. Rapat koordinasi internal direncanakan sedikitnya setiap enam bulan untuk mengevaluasi persoalan dan menyusun rekomendasi.
“Setiap enam bulan kita sampaikan kepada Pak Bupati nanti hasil dari analisa kita,” ujarnya.
ICMI Diminta Ubah Kepakaran Jadi Dampak

Ketua ICMI Organisasi Wilayah Jawa Timur Pitono Nugroho mengatakan kepakaran anggota harus diterjemahkan menjadi dampak nyata bagi masyarakat.
Ia menyebut ICMI tidak cukup hanya menjadi ruang diskusi bagi profesor, dokter, kiai, akademisi, maupun profesional. Pengetahuan yang dimiliki harus mengalir ke masyarakat dalam bentuk kajian, rekomendasi, pendampingan, dan solusi.
“Kita ingin ada shifting dari yang tadi sekadar menara gading menjadi menara air,” ujar Pitono.
Menurutnya, ICMI juga perlu memperkuat peran sebagai think tank dengan menjadikan kepakaran sebagai modal utama organisasi.
“Yang pertama adalah kita ini, ICMI ini, adalah lembaga institusi think tank. Kenapa? Karena modal kita itu kepakaran,” katanya.
Dengan tiga agenda tersebut, ICMI Kabupaten Malang menargetkan peran cendekiawan tidak berhenti pada gagasan, tetapi diterjemahkan menjadi riset, penguatan SDM, dan program pemberdayaan yang dapat membantu masyarakat meningkatkan kesejahteraan.
