Rangkaian HUT Ke-112 Kota Malang, Pemkot Bidik Adipura 2027 Lewat Penguatan Pengelolaan Sampah
CITILIVE – Pemerintah Kota Malang optimistis mampu meraih Piala Adipura 2027 setelah terus memperkuat pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir. Optimisme tersebut disampaikan dalam kegiatan bertajuk “Malang Kota Bersih Menuju Adipura untuk Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah)” yang digelar di Malang Creative Center (MCC) Lantai 7, Senin (11/5/2026).
Kegiatan yang menjadi bagian rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-112 Kota Malang itu diselenggarakan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang melalui seminar, pameran lingkungan, awarding, hingga penguatan komitmen bersama menjaga kebersihan kota.
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengatakan tema HUT Kota Malang tahun ini, yakni “Bergerak Tuntas”, diwujudkan melalui langkah konkret penanganan persoalan sampah yang selama ini menjadi tantangan perkotaan.
“Ini bagian dari rangkaian Hari Jadi Kota Malang. Salah satu fokusnya adalah penyelesaian persoalan persampahan sekaligus memberikan apresiasi kepada pihak-pihak yang selama ini berkontribusi menjaga lingkungan Kota Malang,” ujar Wahyu.

Menurutnya, pengelolaan sampah Kota Malang mendapat perhatian positif dari Kementerian Lingkungan Hidup. Bahkan, Kota Malang disebut memiliki peluang besar meraih Adipura pada 2027 apabila konsistensi pengelolaan lingkungan terus dipertahankan.
“Insyaallah apabila tetap mempertahankan dan berkelanjutan seperti ini, Kota Malang akan mendapatkan Piala Adipura di tahun 2027,” katanya.
Wahyu menegaskan penguatan pengelolaan sampah harus dimulai dari tingkat rumah tangga melalui pemilahan sampah organik dan anorganik sejak dari sumbernya. Menurutnya, keberhasilan pengelolaan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sangat bergantung pada kesadaran masyarakat di tingkat hulu.
Ia juga menyebut program RT Berkelas dapat dimanfaatkan untuk mendukung penyediaan sarana pengelolaan sampah seperti bak sampah dan gerobak melalui alokasi anggaran tingkat RT sebesar Rp50 juta.
“Kalau di hulunya sudah sadar memilah sampah, maka di hilir akan jauh lebih ringan. Karena masalah di hilir sangat tergantung bagaimana pengelolaan di hulunya,” tegasnya.
Di sisi lain, Pemkot Malang mengakui masih membutuhkan tambahan armada pengangkut sampah dan sarana pendukung lainnya. Namun karena keterbatasan anggaran daerah, pemerintah akan menggandeng sektor swasta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).
Selain itu, Wahyu mengungkapkan Kota Malang kini masuk 10 besar kabupaten/kota di Indonesia dalam program LSDP, yakni bantuan kerja sama luar negeri dari Jepang bersama Kementerian Keuangan untuk mendukung sistem pengelolaan sampah terpadu.
“Kota Malang sudah masuk 10 besar. Program ini nantinya mencukupi pengelolaan sampah mulai dari hulu sampai hilir,” ujarnya.
Program tersebut dijadwalkan mulai dipersiapkan pada 2026 dan direalisasikan pada 2027 melalui skema reimburse dengan nilai anggaran diperkirakan mencapai Rp150 hingga Rp200 miliar dalam kurun lima tahun.
Sementara itu, Pelaksana Harian Kepala DLH Kota Malang Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang menjelaskan kegiatan tersebut diikuti sekitar 600 peserta yang terdiri dari unsur sekolah, bank sampah, kampung lingkungan, perguruan tinggi, pelaku usaha, hingga komunitas pegiat lingkungan.
Menurutnya, penghargaan diberikan kepada pihak-pihak yang dinilai memiliki kontribusi nyata dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan Kota Malang.
“Penghargaan diberikan kepada sekolah, kampung lingkungan, bank sampah, penggiat lingkungan, sektor usaha, perguruan tinggi, dan unsur masyarakat yang berkontribusi nyata menjaga lingkungan,” jelas Gamaliel.
DLH Kota Malang juga memberikan apresiasi khusus kepada sejumlah komunitas peduli lingkungan, termasuk kelompok pengelola bank sampah dan pegiat Adiwiyata yang menciptakan lagu edukasi lingkungan.
Dalam laporannya, Gamaliel menyebut timbulan sampah di Kota Malang saat ini mencapai lebih dari 800 ton per hari. Karena itu, strategi pengurangan sampah dari sumber, penguatan bank sampah, dan kolaborasi lintas sektor terus diperkuat untuk menekan volume sampah yang masuk ke TPA Supiturang.
Menariknya, plakat penghargaan dalam kegiatan tersebut dibuat dari bahan daur ulang sampah berbentuk Tugu Jam Stadsklok 1926 kawasan Kayutangan. Karya itu menjadi simbol bahwa sampah dapat diolah menjadi produk bernilai guna sekaligus bernilai seni. (Shin)
