Pasokan Terbatas, Cabai Merah Jadi Penyumbang Inflasi Terbesar Kota Malang
CITILIVE— Kenaikan harga cabai merah menjadi penyumbang terbesar inflasi Kota Malang pada Oktober 2026. Terbatasnya pasokan setelah masa panen raya berakhir serta distribusi yang belum merata menjadi faktor pemicu kenaikan harga komoditas tersebut.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malang Indra Kuspriyadi mengatakan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), cabai merah memberikan andil inflasi sebesar 0,06 persen secara bulanan (month to month/mtm).
Selain cabai merah, kenaikan harga beras turut menyumbang inflasi sebesar 0,03 persen. Sementara tomat dan cabai rawit masing-masing memberikan andil 0,02 persen, serta labu siam atau jipang sebesar 0,01 persen.
“Terbatasnya pasokan membuat ketersediaan cabai merah di pasar tidak sebanding dengan kebutuhan masyarakat. Kondisi tersebut terjadi setelah masa panen raya berakhir, sehingga produksi mulai berkurang,” ujar Indra, Minggu (8/11/2026).
Menurut dia, kenaikan harga cabai merah juga dipengaruhi distribusi dari daerah surplus produksi ke wilayah yang membutuhkan pasokan tambahan yang belum merata.
Sementara itu, kenaikan harga beras dipengaruhi keterbatasan pasokan Gabah Kering Panen (GKP) menjelang berakhirnya musim kemarau. Adapun kenaikan harga tomat berkaitan dengan terbatasnya ketersediaan air di sejumlah sentra produksi yang berdampak pada hasil panen.
Meski sejumlah komoditas pangan mengalami kenaikan harga, tekanan inflasi tertahan oleh penurunan harga beberapa komoditas. Emas perhiasan dan daging ayam ras masing-masing memberikan andil deflasi sebesar 0,03 persen.
Penurunan harga juga terjadi pada semangka sebesar 0,02 persen serta telur ayam ras dan alpukat masing-masing sebesar 0,01 persen.
Indra menjelaskan, turunnya harga daging ayam ras dan telur ayam ras dipengaruhi melimpahnya pasokan di tingkat peternak, sementara permintaan masyarakat kembali normal. Harga emas perhiasan mengikuti pelemahan harga emas dunia, sedangkan semangka dan alpukat turun seiring meningkatnya pasokan selama musim panen.
Secara keseluruhan, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Malang pada Oktober 2026 tercatat sebesar 0,06 persen secara bulanan. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan September 2026 yang mencapai 0,27 persen.
Adapun secara tahunan (year on year/yoy), inflasi Kota Malang mencapai 2,93 persen. Angka ini berada di bawah inflasi Jawa Timur sebesar 3,09 persen dan nasional sebesar 3,23 persen.
Untuk menjaga stabilitas harga, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Malang memperkuat koordinasi melalui strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Upaya tersebut antara lain dilakukan melalui pemantauan harga bahan pangan pokok secara berkala dan penyelenggaraan Gerakan Pangan Murah (GPM) yang menyediakan sejumlah kebutuhan masyarakat, seperti beras, gula, tepung, dan minyak goreng.
