Netwriter can get reward Join NowDaftar / Login Netwriter
18/09/2026
CITILIVE

BRIN Kembangkan Bioetanol dari Limbah Pertanian dan Glutathione dari Yeast Lokal

rifamahmudah
  • September 18, 2026
  • 4 min read
BRIN Kembangkan Bioetanol dari Limbah Pertanian dan Glutathione dari Yeast Lokal

CITILIVE,MALANG — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan pemanfaatan mikroorganisme untuk mengubah limbah pertanian dan biomassa hasil fermentasi menjadi produk bernilai tambah. Riset tersebut mencakup pengembangan bioetanol dari limbah pertanian serta produksi glutathione menggunakan yeast atau ragi lokal Indonesia.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Rekayasa Genetika BRIN, Farida Rahayu, mengatakan pengembangan tersebut menggunakan pendekatan bioproses terintegrasi, mulai dari pemanfaatan bahan baku, pengolahan biomassa hingga ekstraksi produk.

“Konsep yang kami gunakan adalah bioproses terintegrasi. Beberapa tahapan proses biologis dan teknologi, mulai dari pemanfaatan bahan baku, perlakuan biomassa hingga ekstraksi, dirancang sebagai satu rangkaian yang terhubung untuk meminimalkan limbah,” ujar Farida.

Yeast Lokal Dikembangkan untuk Glutathione

Salah satu riset yang dikembangkan sejak 2025 adalah produksi glutathione, senyawa yang berperan dalam sistem pertahanan antioksidan sel.

Farida memanfaatkan yeast sebagai salah satu sumber produksi glutathione. Timnya juga melakukan isolasi yeast lokal Indonesia untuk mencari mikroorganisme yang memiliki kemampuan menghasilkan glutathione dalam jumlah tinggi. Sumber yeast yang diteliti antara lain bunga sepatu, bunga kertas dan sari tebu.

“Jadi kita mengisolasi yeast dari kembang-kembangan, ada kembang sepatu, kembang kertas, terus sari tebu. Kita cari yeast-nya, kemudian kita coba mana yang mempunyai kemampuan untuk memproduksi glutathione tinggi,” jelasnya.

Pengembangan juga diarahkan pada pemanfaatan yeast bekas proses fermentasi. Limbah dari industri yang menggunakan ragi, termasuk proses produksi bioetanol, dinilai masih memiliki potensi untuk diolah kembali guna memperoleh senyawa bernilai tambah.

Menurut Farida, pendekatan tersebut dapat menerapkan prinsip ekonomi sirkular karena biomassa yang sebelumnya menjadi limbah diarahkan menjadi bahan baku produk lain.

“Di Indonesia masih belum, makanya karena masih belum melihat potensinya. Kalau di luar sudah mulai diproduksi dari beer, jadi limbah beer. Raginya sudah digunakan untuk diambil glutathione-nya,” ujarnya.

Baca Juga:  Pernyataan Kadiv Humas Polri Atas Tragedi Kanjuruhan Dinilai Defensif Dan Tak Berempati

Limbah Pertanian Jadi Bahan Baku Bioetanol

Selain glutathione, Farida sejak 2023 mengembangkan bakteri rekombinan termofilik asetogen asal Indonesia untuk mendukung produksi bioetanol berbasis biomassa.

Mikroorganisme tersebut direkayasa secara genetik dan memiliki kemampuan bertahan pada suhu tinggi. Pengembangannya diarahkan untuk memanfaatkan bahan lignoselulosa, termasuk ranting dan bagian tanaman yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Farida menilai Indonesia memiliki sumber biomassa yang besar untuk dikembangkan sebagai bahan baku bioetanol. Pemanfaatan limbah pertanian dinilai dapat membuka alternatif bahan baku energi sekaligus mengurangi biomassa yang terbuang.

“Bahan baku di Indonesia itu banyak, berbeda dengan di Jepang. Kalau tidak kamu mulai dari sekarang, pada saat memang fosil benar-benar sudah habis, nanti negaramu ketinggalan,” kata Farida.

Menurutnya, pengembangan bioetanol tidak cukup hanya melihat hasil akhir berupa bahan bakar. Aspek ketersediaan bahan baku, proses produksi, efisiensi energi dan keberlanjutan juga perlu diperhitungkan dalam pengembangan industrinya.

Mikroorganisme untuk Pemulihan Lahan dan Limbah

Riset Farida juga diarahkan pada persoalan pertanian dan lingkungan. Salah satunya pengembangan microbial biostimulant untuk membantu pemulihan lahan perkebunan pisang yang terdampak penyakit layu Fusarium.

Pendekatan tersebut menggunakan teknologi metagenomik dan metabolomik untuk memetakan mikroorganisme serta senyawa biologis yang terdapat dalam tanah. Dengan demikian, pemulihan lahan diarahkan untuk memanfaatkan aktivitas mikroorganisme, bukan hanya melalui pemberian pupuk.

“Metagenomik membantu melihat potensi genetik mikroorganisme yang ada di tanah, sementara metabolomik menganalisis senyawa biologis yang dihasilkan. Pendekatan ini bukan sekadar memberi pupuk, melainkan memanfaatkan aktivitas biologis mikroorganisme untuk memulihkan lahan,” jelasnya.

Teknologi mikroorganisme juga dikembangkan untuk menangani pencemaran. Salah satunya melalui pemanfaatan bakteri ligninolitik yang berpotensi membantu mendegradasi senyawa kompleks, termasuk dalam upaya reduksi logam berat dan penghilangan warna limbah cair.

Baca Juga:  STIKI Student Competition XII: Lahirkan Inovator Muda Masa Depan

Riset tersebut menyasar berbagai jenis limbah, mulai dari industri tekstil, farmasi, rumah sakit hingga limbah domestik.

Farida mengatakan pengembangan berbagai riset tersebut menunjukkan luasnya pemanfaatan mikroorganisme dalam bioteknologi, mulai dari pengolahan biomassa menjadi energi, produksi senyawa bernilai tambah, pemulihan lahan hingga pengolahan limbah.

“Secara keseluruhan, riset kami berfokus pada bagaimana mikroorganisme, rekayasa genetika serta teknologi bioproses dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan produk bernilai tambah sekaligus memberikan solusi nyata terhadap persoalan lingkungan,” pungkasnya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *