FAST UB Ubah Arah Pendidikan Peternakan, 102 Inovasi Mahasiswa Langsung Diterapkan di Masyarakat
SMARTLIVE – Fakultas Sains dan Teknologi Peternakan (FAST) Universitas Brawijaya (UB) mengubah orientasi pendidikan dan riset peternakan dengan mendorong hasil penelitian tidak berhenti di publikasi. Setiap inovasi diarahkan agar dapat menjawab persoalan nyata di masyarakat, pemerintah maupun industri.
Dekan FAST UB Prof. Dr. Ir. M. Halim Natsir, S.Pt., M.P., IPM., ASEAN Eng., mengatakan perubahan tersebut menjadi bagian dari transformasi FAST setelah sebelumnya bernama Fakultas Peternakan.
“Kami ingin sekarang itu lebih berdampak. Artinya, semua penelitian dosen kita arahkan harus berdampak ke masyarakat, berdampak ke pemerintah, berdampak ke industri,” ujar Halim di sela PKKMB PASUPALA 2026, Kamis (13/8/2026).
Menurut Halim, paradigma tersebut juga diterapkan kepada mahasiswa. Mereka tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi harus mampu membaca persoalan di lapangan dan menerjemahkan pengetahuan menjadi solusi.

102 Inovasi Lahir dari KKN
Salah satu penerapannya terlihat dalam program KKN FAST UB di Kabupaten Bojonegoro. Mahasiswa diwajibkan menghasilkan inovasi berdasarkan persoalan yang ditemukan selama berada di tengah masyarakat.
Hasilnya, sebanyak 102 inovasi dihasilkan mahasiswa dan diterapkan untuk menjawab berbagai kebutuhan masyarakat.
“Tidak hanya dosen, mahasiswa pun kita dorong ke sana. Makanya pada saat setiap KKN kita wajibkan ada inovasi yang dihasilkan. Kemarin di Bojonegoro itu dihasilkan 102 inovasi yang langsung diterapkan ke masyarakat,” jelasnya.
Inovasi tersebut tidak selalu berupa teknologi dengan biaya besar. Sejumlah solusi justru dikembangkan menggunakan bahan sederhana untuk menjawab persoalan peternakan.

Salah satunya teknologi perangkap lalat di kandang menggunakan botol bekas dan umpan tertentu. Teknologi sederhana tersebut diarahkan untuk mengurangi keberadaan lalat yang berpotensi membawa penyakit ke lingkungan peternakan.
“Ini kan untuk mencegah supaya penyakit itu tidak masuk,” kata Halim.
Menurutnya, pendekatan tersebut menunjukkan bahwa inovasi tidak harus mahal. Yang terpenting, teknologi mampu menyelesaikan masalah secara efektif dan dapat digunakan masyarakat.
FAST Bukan Sekadar Ganti Nama
Transformasi FAST UB juga ditandai dengan perubahan nama dari Fakultas Peternakan menjadi Fakultas Sains dan Teknologi Peternakan.
Halim menegaskan perubahan tersebut bukan sekadar pergantian identitas kelembagaan. FAST ingin memperkuat integrasi antara ilmu peternakan dengan perkembangan teknologi.
“Perubahan ini nafasnya adalah kita ingin berubah, karena kita tidak hanya bicara tentang keilmuan, tetapi juga teknologi. Makanya Fakultas Sains dan Teknologi Peternakan,” ujarnya.
Transformasi itu diperkuat dengan hadirnya Program Studi Industri Peternakan Cerdas jenjang S1 dan Program Profesi Keinsinyuran Peternakan.
Kedua program tersebut disiapkan untuk merespons kebutuhan sektor peternakan yang semakin membutuhkan penguasaan teknologi, rekayasa, sistem cerdas dan kemampuan pemecahan masalah.
AI Masuk Peternakan, Ilmu Dasar Tetap Jadi Fondasi
Artificial Intelligence (AI) juga mulai menjadi bagian dari pengembangan teknologi di FAST UB.
Namun, Halim mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak pada penggunaan teknologi tanpa memahami dasar keilmuan.
“Kemarin di pembukaan saya sampaikan, ilmu dasar kuasai dulu. Kalau ilmu dasar sudah dikuasai, nalar itu akan jalan, maka inovasi mudah dicari. Tetapi kalau ilmu dasarnya sudah tidak tahu, untuk bernalar, logika tidak muncul,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi penting di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat. AI diposisikan sebagai alat untuk memperkuat kemampuan mahasiswa, bukan menggantikan proses berpikir dan penguasaan ilmu dasar.
819 Mahasiswa Baru Masuk Era Baru FAST
Paradigma baru tersebut mulai diperkenalkan kepada 819 mahasiswa baru FAST UB melalui PKKMB PASUPALA 2026 yang berlangsung 13–14 Agustus 2026.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 735 mahasiswa merupakan mahasiswa Program Studi Peternakan dan 84 mahasiswa berasal dari Program Studi Industri Peternakan Cerdas.
Mahasiswa baru juga dipertemukan dengan alumni, pemerintah daerah, pelaku industri dan praktisi peternakan untuk mengenali lebih dekat tantangan dunia profesional.
Pada hari kedua, materi antara lain disampaikan Ir. Didiek Purwanto, IPU., alumni FAST UB sekaligus Ketua Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) dan Direktur Utama PT Karunia Alam Sentosa Abadi; Dr. Ir. Indyah Aryani, M.M., alumni FAST UB yang menjabat Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur; serta Evi Zainal Abidin, B.Com., Ketua Koperasi Usaha Tani Ternak (KUTT) Suka Makmur, Grati, Pasuruan.
Bagi Halim, keberhasilan transformasi FAST UB pada akhirnya tidak diukur dari perubahan nama fakultas maupun kurikulum, tetapi dari kemampuan lulusannya menghasilkan dampak.
“Harapannya tidak hanya ada perubahan sekadar nama. Kurikulum kita pun kita rubah. Artificial Intelligence ini menjadi bagian kehidupan dalam mengembangkan peternakan. Sehingga mulai mahasiswa baru, inovasi itu harus muncul,” pungkasnya.
Dengan arah tersebut, FAST UB ingin menggeser pendidikan peternakan dari sekadar penguasaan teori menuju pendidikan berbasis solusi. Mahasiswa dipersiapkan menjadi lulusan yang mampu menguasai ilmu dasar, memanfaatkan teknologi, membaca kebutuhan lapangan dan menghasilkan inovasi yang dapat digunakan masyarakat.
