Netwriter can get reward Join NowDaftar / Login Netwriter
30/09/2026
CITILIVE

Boso Walikan Makin Jarang Dipakai, Malang Dorong Osob Kiwalan Kembali ke Generasi Muda

rifamahmudah
  • September 30, 2026
  • 3 min read
Boso Walikan Makin Jarang Dipakai, Malang Dorong Osob Kiwalan Kembali ke Generasi Muda

CITILIVE,MALANG — Osob Kiwalan atau boso walikan khas Malang didorong kembali digunakan oleh generasi muda. Kekhawatiran terhadap semakin jarangnya penggunaan bahasa yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Malang itu memunculkan gagasan untuk memperluas pemakaian sekaligus mendokumentasikan kosakatanya.

Upaya tersebut dibahas dalam Podcast Ngalam Hebak bertema Dari Osob Kiwalan Menuju Masa Depan Malang Raya di kawasan Kayutangan Heritage, Selasa (29/9/2026) malam. Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Danang Setiyo PS mengatakan, pelestarian Osob Kiwalan tidak cukup hanya dengan mencatat atau mengumpulkan kosakata. Bahasa tersebut harus tetap digunakan agar tidak kehilangan tempat di tengah perubahan generasi. “Osob kiwalan bukan sekadar membalik kata. Di dalamnya ada sejarah dan solidaritas masyarakat Malang,” ujar Danang.

Menurutnya, keberadaan Osob Kiwalan berkaitan dengan sejarah perjalanan masyarakat Malang. Karena itu, menjaga bahasa tersebut berarti mempertahankan salah satu identitas lokal yang berkembang di tengah masyarakat. “Tujuannya bukan sekadar mengingat masa lalu, tetapi memastikan identitas itu tetap hidup. Setelah deklarasi hingga adanya podcast ini, pekerjaan sebenarnya baru dimulai,” tegasnya.

Osob Kiwalan Perlu Masuk ke Generasi Muda

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengatakan Pemerintah Kota Malang mendukung penguatan Osob Kiwalan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat. Salah satu langkah yang didorong adalah dokumentasi kosakata Osob Kiwalan melalui kamus. Namun, dokumentasi tersebut perlu dilanjutkan dengan penggunaan dan pewarisan kepada generasi berikutnya.

“Podcast ini menjadi ruang kolaborasi sekaligus langkah lanjutan setelah deklarasi Ngalam Hebak (Malang Kabeh) untuk menjangkau masyarakat lebih luas dan membuka percakapan mengenai identitas Kota Malang,” kata Wahyu. Dorongan agar Osob Kiwalan tetap relevan juga datang dari kalangan akademisi. Penasihat Ahli Kapolri Prof. Hermawan Sulistyo menilai identitas lokal seharusnya menjadi perekat masyarakat, bukan pembatas.

Baca Juga:  Pemkab Bantul Belajar Inovasi Kota Malang, Bahas Bike to Work hingga Pelayanan Publik

Dekan FISIP Universitas Brawijaya Dr. Ahmad Imron Rozuli mendorong Osob Kiwalan diberi ruang baru yang sesuai dengan perkembangan zaman agar lebih dekat dengan generasi muda. Sementara Pengamat Kepolisian dari ISSES Bambang Rukminto mengaitkan identitas dan solidaritas masyarakat dengan ketahanan sosial. Menurutnya, pelestarian Osob Kiwalan membutuhkan keterlibatan masyarakat secara luas. Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UMM sekaligus jurnalis senior Solihin Bahari juga meminta upaya pengembangan boso walikan tidak berhenti pada kegiatan seremonial.

“Gagasan Kapolresta dan Wali Kota untuk mengembangkan serta meningkatkan budaya asli Malang seperti boso walikan harus didukung terus, tidak boleh berhenti hanya dalam event saja,” ujar Solihin.

Dari Deklarasi Ngalam Hebak ke Gerakan Pelestarian

Podcast Ngalam Hebak merupakan rangkaian lanjutan setelah deklarasi Ngalam Hebak atau Malang Kabeh di Kampung Celaket pada Minggu (27/9/2026). Pesan yang muncul dari forum tersebut adalah penggunaan Osob Kiwalan perlu diperluas agar bahasa khas Malang tidak hanya dikenal sebagai bagian dari sejarah. Dokumentasi kosakata melalui kamus menjadi salah satu langkah awal. Tantangan berikutnya adalah membuat boso walikan tetap digunakan dalam komunikasi masyarakat, terutama oleh generasi muda. Dengan begitu, Osob Kiwalan tidak berhenti sebagai simbol masa lalu, tetapi tetap menjadi bagian dari identitas Malang yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. (Shin)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *