702 Mahasiswa Baru S2 UM Ditantang Jadi Ilmuwan Kritis dan Berintegritas
SMARTLIVE – Sebanyak 702 mahasiswa baru program magister (S2) Universitas Negeri Malang (UM) memulai perjalanan akademiknya dengan tuntutan tidak sekadar memperdalam keilmuan, tetapi juga membangun kemampuan berpikir kritis dan integritas sebagai calon ilmuwan.
Pesan tersebut disampaikan Rektor UM Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., saat menyambut mahasiswa baru pascasarjana di Graha Cakrawala UM, Jumat (14/8/2026).
Hariyono menegaskan, memasuki jenjang pascasarjana berarti mahasiswa harus memiliki cara berpikir yang berbeda dibandingkan ketika menempuh pendidikan sarjana. Mereka dituntut mampu melihat persoalan secara lebih luas, mendalam, dan berbasis ilmu pengetahuan.
“Pascasarjana adalah body of scholar. Sehingga, cara berpikir kita harus melampaui teman-teman kita yang sarjana. Saudara harus memiliki wawasan yang lebih luas dan cara berpikir yang lebih mendalam dalam melihat berbagai persoalan,” ujarnya.
702 Mahasiswa Tak Hanya Dibekali Gelar
Menurut Hariyono, pendidikan pascasarjana tidak boleh berhenti pada pencapaian gelar akademik. Mahasiswa S2 harus mampu mengembangkan pengetahuan yang dimiliki untuk membaca sekaligus menjawab persoalan masyarakat.
Tuntutan tersebut menjadi semakin penting karena persoalan yang dihadapi masyarakat terus berkembang. Karena itu, mahasiswa pascasarjana didorong menghubungkan bidang keilmuan yang dipelajari dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan peradaban.
UM berharap lulusan pascasarjana nantinya tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga mampu menghasilkan gagasan, penelitian, dan inovasi yang memberikan manfaat nyata.
Integritas Jadi Bekal Calon Ilmuwan
Di samping kemampuan berpikir kritis, integritas akademik menjadi perhatian utama yang ditekankan kepada mahasiswa baru.
Hariyono mengingatkan mahasiswa untuk menjunjung kejujuran dalam seluruh proses akademik, mulai dari penelitian, penulisan artikel ilmiah hingga penyusunan tugas akhir.
Menurutnya, semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab intelektual, moral, dan sosial yang melekat.
“Saudara sebagai orang yang well educated memiliki tanggung jawab intelektual, moral, dan sosial agar kehidupan di sekitar kita bisa menjadi lebih baik. Salah satunya adalah membangun kejujuran dan berani berbicara apa adanya,” tuturnya.
Pesan tersebut menjadi penting agar aktivitas akademik tidak sekadar mengejar publikasi atau kelulusan, tetapi benar-benar menghasilkan pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pascasarjana UM Didorong Berkontribusi pada SDGs
Penguatan pendidikan pascasarjana UM juga dikaitkan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas.
Pendidikan tinggi pada jenjang magister memiliki posisi strategis dalam memperkuat kompetensi, kemampuan berpikir kritis, budaya riset, dan integritas akademik.
Melalui ekosistem pendidikan dan penelitian, mahasiswa S2 diharapkan mampu menghasilkan pengetahuan serta solusi yang relevan dengan persoalan pembangunan.
Dengan masuknya 702 mahasiswa baru S2, UM menegaskan bahwa pendidikan pascasarjana bukan sekadar jenjang untuk memperoleh gelar lebih tinggi.
Lebih dari itu, mereka dipersiapkan menjadi scholar yang mampu berpikir lebih dalam, bekerja dengan integritas, dan menggunakan keilmuannya untuk memberikan kontribusi bagi masyarakat, bangsa, dan peradaban.
