Netwriter can get reward Join NowDaftar / Login Netwriter
24/08/2026
CITILIVE

66 Peserta dari 29 Negara Ikuti UMiCamp 2026, UM Bangun Persahabatan Lintas Budaya

Shinta lubis
  • Agustus 24, 2026
  • 3 min read
66 Peserta dari 29 Negara Ikuti UMiCamp 2026, UM Bangun Persahabatan Lintas Budaya

SMARTLIVE — Sebanyak 66 peserta dari 29 negara mengikuti Universitas Negeri Malang International Camp (UMiCamp) 2026. Program pertukaran budaya yang berlangsung selama sepekan itu resmi ditutup melalui Closing Ceremony di Graha Cakrawala Universitas Negeri Malang (UM), Minggu (23/8/2026).

Selama mengikuti program, peserta dari berbagai negara terlibat dalam serangkaian kegiatan budaya, sosial, dan interaksi bersama masyarakat lokal. UMiCamp tidak hanya menjadi ruang untuk mengenalkan budaya Indonesia dan kehidupan masyarakat Malang, tetapi juga mempertemukan peserta dari berbagai latar belakang untuk membangun jejaring serta persahabatan lintas negara.

Wakil Rektor IV UM, Prof. Dr. Ahmad Munjin Nasih, S.Pd., M.Ag., mengatakan UMiCamp dirancang lebih dari sekadar program musim panas atau kegiatan wisata.

Menurutnya, program tersebut menjadi ruang perjumpaan bagi peserta dari berbagai negara untuk membangun koneksi lintas budaya secara langsung melalui pengalaman bersama.

“UM Summer Camp selalu lebih dari sekadar program musim panas atau pariwisata. Ini adalah ruang untuk membangun koneksi lintas budaya yang nyata,” ujar Prof. Munjin.

Selama sepekan, para peserta tidak hanya mempelajari budaya Indonesia. Mereka juga saling memperkenalkan budaya, kebiasaan, dan perspektif dari negara masing-masing.

Interaksi tersebut membuat keberagaman tidak hanya dipahami sebagai perbedaan, tetapi menjadi pengalaman bersama yang membuka ruang dialog dan memperluas wawasan peserta.

Salah satu peserta, Silsyano Soerianto Modiwirijo asal Suriname, mengaku tertarik mengikuti UMiCamp setelah melihat penyelenggaraan program serupa pada tahun sebelumnya.

Ia menyebut salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah kegiatan beach clean-up. Aktivitas tersebut, menurutnya, memberikan pengalaman tentang pentingnya kerja sama sekaligus mempertemukan peserta dari berbagai negara dalam satu aktivitas bersama.

Bagi Silsyano, perbedaan bahasa dan latar belakang budaya tidak menjadi hambatan untuk membangun kedekatan. Berbagai aktivitas sederhana justru menjadi sarana untuk saling memahami dan membangun kebersamaan.

Baca Juga:  Pemkot Malang Raih Penghargaan UHC 2024 : Layanan Kesehatan Makin Terjangkau

“Kita tidak membutuhkan banyak hal untuk bersenang-senang bersama. Meskipun ada peserta dari Jepang, Tiongkok, negara-negara Arab, dan berbagai negara lainnya, kami tetap bisa memahami satu sama lain, bahkan hanya dengan menari bersama,” ungkapnya.

Pengalaman berbeda dirasakan Moh. Ibrahim, peserta asal Ethiopia. Ia mengaku semula membayangkan UMiCamp sebagai program biasa yang berlangsung selama tujuh hari.

Namun, interaksi intensif dengan peserta dari berbagai negara dan masyarakat lokal membuat pengalaman tersebut melampaui ekspektasinya.

Selain mengikuti berbagai kegiatan budaya, Ibrahim berkesempatan belajar membatik dan mengenal beragam makanan tradisional Indonesia. Ia juga mendapat pengalaman tinggal bersama keluarga masyarakat lokal.

Menurut Ibrahim, pengalaman tersebut memberikan kesempatan untuk melihat kehidupan masyarakat Malang secara lebih dekat, sesuatu yang sulit diperoleh apabila hanya datang sebagai wisatawan.

Ia menilai keterbukaan menjadi kunci utama dalam membangun hubungan antarmanusia di tengah perbedaan bahasa, budaya, dan kebiasaan.

“Bahasa bukanlah penghalang. Yang terpenting adalah keterbukaan untuk belajar dan kesediaan untuk saling memahami. Kami memang tidak memiliki bahasa yang sama, tetapi memiliki ketertarikan dan tujuan yang sama untuk terhubung dengan orang lain,” jelasnya.

UM melalui UMiCamp 2026 mempertemukan peserta dari berbagai latar belakang dalam proses pembelajaran yang bersifat kolaboratif dan inklusif. Pertukaran pengalaman tersebut diharapkan dapat memperkuat pemahaman lintas budaya sekaligus membangun jejaring internasional.

Program tersebut juga menjadi bagian dari upaya UM memperluas pengalaman internasional bagi peserta melalui pendekatan yang tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Interaksi dengan masyarakat, kegiatan budaya, serta aktivitas sosial menjadi bagian penting dari proses pembelajaran selama UMiCamp berlangsung.

UMiCamp 2026 turut dikaitkan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan keempat tentang Pendidikan Berkualitas. Pembelajaran lintas budaya dinilai dapat memperkaya pengalaman dan wawasan peserta.

Baca Juga:  Apel ASRI di Jalan Ijen, Sanusi Tegaskan Integrasi Sampah Malang Raya di Pakis

Selain itu, program tersebut juga mendukung SDGs poin ke-17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui penguatan jejaring, pertukaran budaya, dan kolaborasi antarnegara.

Berakhirnya UMiCamp 2026 menandai selesainya sepekan perjumpaan 66 peserta dari 29 negara di Kota Malang. Meski program telah berakhir, UM berharap jejaring, pengalaman, dan persahabatan yang terbangun selama kegiatan dapat terus berlanjut melampaui batas negara dan budaya.