Netwriter can get reward Join NowDaftar / Login Netwriter
24/10/2026
SMARTLIVE

Dies Natalis ke-65 UIN Malang: Menjaga Keunggulan Ekosistem Bahasa Arab

rifamahmudah
  • Oktober 24, 2026
  • 7 min read
Dies Natalis ke-65 UIN Malang: Menjaga Keunggulan Ekosistem Bahasa Arab

Oleh: Prof. Dr. Uril Bahruddin, MAGuru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim MalangAda ungkapan yang cukup populer di kalangan penggiat bahasa Arab di Indonesia: “Jika ingin belajar bahasa Arab dan mengembangkannya, silakan datang ke UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

”Ungkapan tersebut bukan sekadar pujian. Ia merupakan pengakuan atas reputasi akademik yang dibangun melalui proses panjang, kebijakan yang berani, dan komitmen kelembagaan yang berkelanjutan. Di balik reputasi itu, terdapat sesuatu yang lebih mendasar daripada sekadar program unggulan, yakni ekosistem bahasa Arab yang tumbuh dan berkembang di lingkungan kampus.

Pada momentum Dies Natalis ke-65 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, penting untuk merefleksikan kembali peran bahasa Arab dalam membentuk identitas akademik universitas, kontribusinya terhadap pengembangan perguruan tinggi, serta tantangan yang perlu dihadapi agar keunggulan tersebut tetap terjaga.

Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar ProgramSalah satu keunggulan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang terletak pada keberaniannya menempatkan bahasa Arab sebagai bagian penting dari pengalaman akademik mahasiswa. Melalui Program Khusus Perkuliahan Bahasa Arab (PKPBA), mahasiswa baru mengikuti pembelajaran bahasa Arab secara intensif selama satu tahun pada awal masa perkuliahan. Program ini menjadi fondasi bagi mahasiswa untuk memasuki kehidupan akademik dan keislaman yang lebih luas.

Namun, pembelajaran bahasa tidak cukup berlangsung di ruang kelas. Penguasaan bahasa membutuhkan pembiasaan, interaksi, dan lingkungan yang mendukung. Kebutuhan tersebut diakomodasi melalui keberadaan Ma’had Sunan Ampel Al-‘Aly. Dalam kehidupan berasrama, mahasiswa memiliki kesempatan untuk mempraktikkan bahasa Arab, membangun kebiasaan berkomunikasi, serta menghubungkan materi pembelajaran dengan pengalaman sehari-hari.

Ekosistem tersebut diperkuat oleh keberadaan program studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) dan Bahasa dan Sastra Arab (BSA) pada jenjang sarjana, program magister pada kedua bidang tersebut, serta program doktor Pendidikan Bahasa Arab. Rangkaian pendidikan ini membentuk kesinambungan antara pembelajaran dasar, praktik kebahasaan, pengembangan kompetensi akademik, penelitian, dan produksi ilmu pengetahuan.

Karena itu, kekuatan UIN Malang tidak cukup diukur dari keberadaan PKPBA, ma’had, atau program studi tertentu secara terpisah. Keunggulan sesungguhnya terletak pada keterhubungan seluruh unsur tersebut dalam satu sistem yang saling menguatkan. Inilah yang disebut sebagai ekosistem bahasa Arab. Sebagaimana ekosistem dalam ilmu biologi, setiap unsur memiliki fungsi dan saling memengaruhi. Melemahnya satu unsur dapat berdampak pada unsur lainnya. Pembelajaran intensif tanpa dukungan lingkungan praktik berisiko membuat kemampuan mahasiswa berhenti pada penguasaan kaidah. Sebaliknya, lingkungan praktik tanpa pengembangan akademik dapat membuat keterampilan berbahasa kehilangan arah keilmuan.

Baca Juga:  UIN Malang Gelar Asesmen Lapangan Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir

Demikian pula, program studi yang kuat akan lebih mudah berkembang apabila didukung mahasiswa dengan fondasi bahasa Arab yang memadai. Artinya, keberhasilan pengembangan bahasa Arab tidak ditentukan oleh satu program, melainkan oleh kesinambungan seluruh komponen yang menopangnya.

Dari Keunggulan Lokal Menuju Pengaruh Nasional

Model pembelajaran bahasa Arab UIN Malang telah menginspirasi sejumlah perguruan tinggi keagamaan Islam di Indonesia. Berbagai institusi mencoba mengadopsi pembelajaran intensif dan kehidupan ma’had sebagai strategi untuk meningkatkan kemampuan bahasa Arab mahasiswa. Namun, pengalaman menunjukkan bahwa mereplikasi struktur program tidak otomatis menghasilkan keberhasilan yang sama. Di sejumlah tempat, keberlanjutan program bahkan menghadapi persoalan serius. Hal ini memberikan pelajaran penting bahwa keberhasilan suatu model tidak hanya ditentukan oleh desain program, tetapi juga oleh visi kelembagaan, konsistensi kebijakan, kualitas sumber daya manusia, dukungan pendanaan, evaluasi, dan budaya akademik yang menopangnya.

Ekosistem tidak dapat dibangun hanya dengan menyalin nama program atau bentuk kelembagaannya. Ia membutuhkan komitmen untuk menjaga agar setiap unsur berfungsi dan berkembang secara berkelanjutan. Reputasi UIN Malang di tingkat nasional maupun internasional juga tidak dapat dilepaskan dari lingkungan akademik yang mendukung penguasaan bahasa Arab. Bahasa ini membuka akses terhadap khazanah keilmuan Islam, memperluas peluang kerja sama internasional, dan memperkuat kepercayaan mitra luar negeri.

Pengalaman kelembagaan dalam memperoleh dukungan pendanaan dari Islamic Development Bank (IDB) dan Saudi Fund for Development (SFD) merupakan bagian dari sejarah pengembangan kampus yang patut menjadi bahan refleksi. Pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya kapasitas kelembagaan dalam membangun kepercayaan dan menjalin hubungan dengan mitra internasional.

Hal serupa terlihat pada kekayaan koleksi perpustakaan berbahasa Arab yang mencakup beragam disiplin ilmu. Berdasarkan pengamatan saya, koleksi tersebut memiliki nilai strategis karena membuka akses bagi sivitas akademika terhadap sumber pengetahuan yang lebih luas, termasuk dalam bidang kesehatan, ekonomi, teknik, dan disiplin ilmu lainnya.Dengan demikian, bahasa Arab di UIN Malang bukan semata-mata mata kuliah atau keterampilan tambahan.

Baca Juga:  Bupati Lumajang Hadir Dalam Edisi Spesial Syi'ar Ramadhan UIN Maliki Malang

Bahasa Arab merupakan salah satu infrastruktur intelektual yang turut menopang reputasi dan pengembangan keilmuan universitas.

Ketika Keunggulan Mulai Memerlukan Evaluasi

Refleksi yang baik tidak cukup hanya merayakan keberhasilan masa lalu. Refleksi juga menuntut keberanian untuk membaca perubahan dan mengidentifikasi persoalan yang berkembang pada masa kini. Secara jujur, saya merasakan adanya indikasi bahwa kualitas ekosistem bahasa Arab di UIN Malang mulai mengalami penurunan pada aspek-aspek tertentu. Salah satu hal yang patut mendapat perhatian ialah kemampuan aktif berbahasa Arab di kalangan lulusan.

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya, pada masa lalu terdapat mahasiswa dari program studi umum, seperti ekonomi dan informatika, yang mampu menulis tugas akhir menggunakan bahasa Arab. Pencapaian tersebut bahkan mendapat apresiasi dari pimpinan universitas.Kini, praktik semacam itu, sejauh yang saya ketahui, semakin jarang terdengar.

Pengamatan ini tentu belum cukup untuk menyimpulkan adanya penurunan secara menyeluruh. Diperlukan data yang sistematis untuk mengukur perubahan kemampuan bahasa Arab mahasiswa dan lulusan dari waktu ke waktu. Meski demikian, kondisi tersebut layak menjadi bahan evaluasi bersama. Sebab, pertanyaan mendasarnya bukan sekadar apakah mahasiswa masih mempelajari bahasa Arab, melainkan apakah mereka benar-benar mampu menggunakannya.

Apakah lulusan program studi umum mampu membaca literatur berbahasa Arab sesuai bidang keilmuannya? Apakah mereka dapat berdiskusi, menulis, dan menyampaikan gagasan dalam bahasa Arab? Apakah pembelajaran intensif selama satu tahun mampu menghasilkan kompetensi yang bertahan hingga akhir masa studi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu dijawab melalui evaluasi yang terukur. Keberhasilan pembelajaran tidak semestinya hanya dinilai dari terselenggaranya program, jumlah jam perkuliahan, atau capaian administratif.

Ukuran yang lebih substantif ialah kemampuan nyata mahasiswa dalam menggunakan bahasa Arab, baik untuk kepentingan akademik maupun komunikasi. Evaluasi juga penting untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan pembelajaran. Dengan demikian, perbaikan yang dilakukan tidak berhenti pada penyesuaian teknis, tetapi menyentuh keseluruhan ekosistem, mulai dari kualitas pengajaran hingga lingkungan praktik dan kesinambungan pembelajaran.

Baca Juga:  UIN Malang Tambah 7 Guru Besar Baru, Bidangnya dari Ekologi hingga Hukum Waris

Menjaga Warisan, Mengembangkan Masa Depan

Pada Dies Natalis ke-65 ini, saya ingin menyampaikan harapan kepada seluruh sivitas akademika dan para pemimpin UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, baik yang mengemban amanah saat ini maupun pada masa mendatang: jangan pernah merasa cukup dengan capaian yang telah diraih. Reputasi adalah amanah, bukan alasan untuk berpuas diri.

Ekosistem bahasa Arab yang telah dibangun perlu diperkuat melalui evaluasi berkala, peningkatan kualitas pengajar, integrasi pembelajaran dengan kebutuhan akademik lintas program studi, serta pengembangan lingkungan berbahasa yang lebih hidup. Kemampuan aktif mahasiswa juga perlu ditempatkan sebagai indikator keberhasilan yang jelas dan terukur. Di era digital, upaya tersebut perlu disertai pemanfaatan teknologi secara cerdas. Kecerdasan buatan, platform pembelajaran digital, sumber literatur elektronik, dan komunitas komunikasi lintas negara dapat memperluas kesempatan mahasiswa untuk membaca, menulis, menyimak, dan berbicara dalam bahasa Arab.

Namun, teknologi seharusnya memperkuat ekosistem yang telah ada, bukan menggantikan interaksi manusia, keteladanan dosen, dan budaya akademik yang menjadi fondasinya. Lebih jauh, bahasa Arab perlu terus dihubungkan dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat. Mahasiswa tidak cukup hanya mampu memahami teks keagamaan, tetapi juga perlu memiliki akses terhadap perkembangan ilmu kontemporer melalui sumber-sumber berbahasa Arab. Dengan pendekatan tersebut, bahasa Arab dapat berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan tradisi keilmuan Islam, ilmu pengetahuan modern, dan pergaulan akademik global. Penguasaannya tidak hanya memperkuat identitas keislaman kampus, tetapi juga memperluas cakrawala intelektual mahasiswa.

Pada akhirnya, keunggulan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tidak hanya terletak pada sejarah keberhasilannya membangun program bahasa Arab, tetapi juga pada kemampuannya menjaga, memperbarui, dan mengembangkan ekosistem tersebut.Membangun keunggulan membutuhkan perjuangan.

Mempertahankannya menuntut kesadaran, konsistensi, dan keberanian untuk terus berbenah.Semoga pada usia ke-65 ini, UIN Malang tidak hanya dikenang sebagai kampus yang pernah unggul dalam pembelajaran bahasa Arab, tetapi terus menjadi rujukan nasional dan internasional dalam pengembangan bahasa Arab yang hidup, produktif, dan berdaya guna bagi kemajuan ilmu pengetahuan serta peradaban.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *