10 Tahun Menanam, 65 Tahun Menaungi: Refleksi FKIK untuk UIN Malang
Ketika para pendiri UIN Maulana Malik Ibrahim Malang merumuskan “Pohon Ilmu”, kedokteran dan ilmu kesehatan sudah tergambar sebagai salah satu cabangnya. Kala itu, gagasan perguruan tinggi keagamaan Islam menyelenggarakan pendidikan dokter terdengar seperti mimpi yang jauh.
Kini, pada Dies Natalis ke-65 dan Lustrum XIII universitas, sekaligus satu dekade perjalanan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK), mimpi itu telah berbuah. Inilah saat yang tepat untuk menengok akar, mensyukuri buah, dan menyiapkan musim tanam berikutnya. Akar yang Ditanam dengan SabarBenih pertama sesungguhnya ditanam sebelum 2016.
Program Studi Farmasi menerima angkatan pertamanya pada 2013, berbekal izin Dirjen Pendidikan Islam pada akhir 2012. Universitas kemudian menggandeng RS Tingkat II dr. Soepraoen Malang dan Fakultas Kedokteran UNS sebagai pembina, hingga visitasi pendirian Program Studi Pendidikan Dokter digelar pada Januari 2016. Di bawah kepemimpinan dekan pertama, dr. Bambang Pardjianto, Sp.B., Sp.BP-RE(K), fondasi akademik dan budaya fakultas diletakkan. Kami yang datang kemudian hanyalah meneruskan tanaman yang telah ditanam dengan penuh kesabaran.
Buah yang Mulai Dipetik

Perjalanan menuju mutu tidak pernah lurus. Pada 2022, Prodi Pendidikan Dokter meraih akreditasi Baik Sekali dan Prodi Profesi Dokter terakreditasi Baik. Capaian itu kami syukuri, tetapi sekaligus kami jadikan cambuk. Setelah asesmen lapangan LAM-PTKes pada 24–28 Februari 2025, kedua program studi tersebut resmi menyandang Akreditasi Unggul. Delapan tahun sejak berdiri, fakultas kedokteran di bawah naungan Kementerian Agama ini telah berdiri sejajar dengan institusi yang usianya jauh lebih tua.
Namun akreditasi hanyalah cermin; wajah sesungguhnya adalah lulusan. Angkatan pertama Program Profesi Dokter lulus Uji Kompetensi tanpa satu pun mengulang. Tradisi itu terus kami jaga: pada Januari 2026 seluruh peserta kembali lulus 100 persen, dan pada Juli 2026 kami menyaksikan 21 dokter baru mengucapkan Sumpah Dokter Periode XI. Alumni kami pun mulai bersuara di forum nasional, salah satunya meraih presentasi oral terbaik pada Kongres Nasional PABI VII tahun 2025. Kepercayaan dari luar pun tumbuh; pada 2023 FKIK dipercaya menjadi tuan rumah Forum Dekan Asosiasi Fakultas Kedokteran Negeri Indonesia (AFKNI).
Pertumbuhan juga tampak pada struktur kelembagaan. Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker dibuka pada 2022, disusul izin Magister Farmasi dan Magister Ilmu Biomedik pada 2025. Kini FKIK mengasuh enam program studi: Sarjana Farmasi, Profesi Apoteker, Magister Farmasi, Pendidikan Dokter, Profesi Dokter, dan Magister Ilmu Biomedik. Kehadiran Maliki Apotek sebagai apotek pendidikan sejak Juni 2025 menambah wahana belajar yang dekat dengan masyarakat.
Tantangan: Mutu yang Harus Dirawat
Refleksi yang jujur menuntut kita menatap tantangan dengan terbuka. Pertama, mempertahankan mutu jauh lebih sulit daripada meraihnya. Akreditasi Unggul harus menjelma menjadi budaya mutu sehari-hari: kurikulum yang terus dimutakhirkan, dosen yang terus bertumbuh, dan penjaminan mutu yang bekerja meski tanpa visitasi. Kedua, seluruh program studi harus bergerak bersama. Tidak boleh ada yang tertinggal dalam lintasan menuju Unggul, termasuk program profesi apoteker dan program magister yang masih belia.
Ketiga, pendidikan klinik bertumpu pada jejaring rumah sakit pendidikan. Kemitraan dengan RSUD Karsa Husada Batu dan RSUD Kota Malang perlu ditingkatkan menjadi ekosistem akademik yang utuh, bukan sekadar tempat praktik. Keempat, riset dan publikasi harus naik kelas, dari sekadar produktivitas menuju dampak nyata bagi kesehatan masyarakat. Budaya menulis perlu diteladankan. Sepanjang 2025–2026, saya berikhtiar menerbitkan lima buku ber-ISBN dan dua belas buku saku di bidang pencitraan medis; semoga langkah kecil ini menular kepada seluruh dosen FKIK. Kelima, dan barangkali yang paling mendasar, adalah menjaga ruh. Di tengah tuntutan kompetensi dan angka kelulusan, kita tidak boleh kehilangan jati diri lulusan Ulul Albab: dokter dan apoteker yang cerdas, jujur, rendah hati, dan memandang pasien sebagai amanah, bukan sekadar kasus.
Masa Depan: Kedokteran Integratif yang Berbicara kepada Dunia
Saya membayangkan FKIK menjadi rujukan pendidikan kedokteran dan kesehatan integratif, tempat sains dan nilai Islam bertemu bukan sebagai tempelan, melainkan sebagai cara berpikir dan cara merawat manusia. Kekhasan itu sudah kami rintis melalui farmasi halal, kefarmasian dan kesehatan haji, serta Magister Ilmu Biomedik berparadigma ekoteologi dengan keunggulan pada proses penuaan dan penyakit degeneratif.
Indonesia memberangkatkan jemaah haji dalam jumlah sangat besar setiap tahun, banyak di antaranya lanjut usia dengan penyakit kronis. Di sinilah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dapat memberi kontribusi yang khas dan tidak mudah ditiru.Untuk itu, saya menawarkan tiga langkah strategis. Pertama, menapaki akreditasi internasional agar mutu kita diakui lintas batas negara. Kedua, memperluas kolaborasi riset serta mobilitas dosen dan mahasiswa dengan mitra di Malaysia, Singapura, Thailand, Jepang, dan Taiwan. Ketiga, menyiapkan jenjang pendidikan lanjutan, termasuk pendidikan dokter spesialis dan program doktor, sejalan dengan kebutuhan bangsa akan tenaga kesehatan yang unggul dan berakhlak.
Penutup
Al-Qur’an mengumpamakan kalimat yang baik sebagai pohon yang baik: akarnya kokoh menghunjam ke bumi dan cabangnya menjulang ke langit (QS. Ibrahim: 24). Perumpamaan ini terasa begitu dekat dengan nama universitas kita dan dengan Pohon Ilmu yang menjadi pijakannya. Sepuluh tahun FKIK adalah bukti bahwa akar itu mulai kokoh. Tugas kita bersama pada usia ke-65 ini adalah memastikan cabangnya terus tumbuh, buahnya dirasakan masyarakat, dan naungannya meluas hingga ke tingkat dunia.Dirgahayu ke-65 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Semoga senantiasa menjadi pohon ilmu yang memberi manfaat bagi umat dan bangsa.
