Netwriter can get reward Join NowDaftar / Login Netwriter
24/10/2026
SMARTLIVE

Insinyur Ulul Albab: Meneguhkan Peran Rekayasa di Usia ke-65 UIN Malang

rifamahmudah
  • Oktober 24, 2026
  • 7 min read
Insinyur Ulul Albab: Meneguhkan Peran Rekayasa di Usia ke-65 UIN Malang

Refleksi Dies Natalis ke-65 dan Lustrum XIII UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Oleh: Dr. Hairur Rahman, M.Si.
Dekan Fakultas Teknik UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Enam puluh lima tahun perjalanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menandai transformasi penting dalam pengembangan pendidikan tinggi Islam. Dari lembaga pendidikan keagamaan, kampus ini berkembang menjadi universitas yang mengintegrasikan kajian keislaman dengan berbagai disiplin ilmu, termasuk teknik dan teknologi.

Perubahan tersebut bukan sekadar perluasan bidang studi. Lebih dari itu, integrasi keilmuan menegaskan bahwa Islam dan teknologi bukanlah dua dunia yang terpisah. Keduanya dapat berjalan beriringan sebagai ikhtiar untuk menjawab persoalan manusia dan memakmurkan bumi.

Pada momentum Dies Natalis ke-65 dan Lustrum XIII ini, muncul pertanyaan mendasar: bagaimana bidang teknik dapat mengambil peran strategis dalam membangun masa depan universitas Islam sekaligus menjawab tantangan masyarakat?

Jawabannya tidak cukup dengan menghasilkan lulusan yang menguasai teknologi. UIN Maulana Malik Ibrahim Malang perlu menyiapkan insinyur yang mampu memadukan kecakapan teknis, tanggung jawab moral, dan kedalaman spiritual. Sosok inilah yang dapat disebut sebagai insinyur ulul albab.

Teknik sebagai Ibadah dan Tanggung Jawab

Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia memperhatikan penciptaan langit, tegaknya gunung, dan terbentangnya bumi. Ayat-ayat tersebut mendorong manusia untuk mengamati, berpikir, dan memahami keteraturan alam. Dalam konteks ilmu pengetahuan modern, semangat itu sejalan dengan upaya mengembangkan sains dan rekayasa untuk menjawab berbagai kebutuhan kehidupan.

Sejarah peradaban Islam juga mencatat kontribusi besar para ilmuwan dalam pengembangan teknologi. Al-Jazari, misalnya, dikenal melalui karya-karyanya di bidang mekanika dan mesin otomatis. Berbagai peradaban Islam juga mengembangkan sistem pengairan, arsitektur, serta tata kota yang menunjukkan perpaduan pengetahuan dan keterampilan rekayasa.

Warisan tersebut memberikan pelajaran bahwa penguasaan ilmu tidak berhenti pada pemahaman teoretis. Ilmu perlu diwujudkan menjadi karya yang bermanfaat bagi kehidupan.

Paradigma pohon ilmu dan cita-cita melahirkan generasi ulul albab yang menjadi ruh UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memberikan landasan penting bagi pendidikan teknik. Seorang insinyur lulusan UIN tidak cukup hanya mampu menghitung kekuatan struktur bangunan, merancang sistem mekanik, atau menulis kode program.

Baca Juga:  Suka Duka Lulus Sarjana Dan Wisuda di Masa Pandemi

Ia juga harus memahami bahwa setiap keputusan teknis membawa konsekuensi sosial, lingkungan, dan moral. Apakah bangunan yang dirancang aman bagi penghuninya? Apakah sistem yang dikembangkan melindungi data dan hak penggunanya? Apakah teknologi yang dihasilkan membantu menyelesaikan persoalan masyarakat atau justru menimbulkan masalah baru?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menempatkan tanggung jawab etis sebagai bagian penting dari kompetensi seorang insinyur.

Inilah esensi insinyur ulul albab: sosok yang cakap secara teknis, matang dalam pertimbangan etis, dan kokoh secara spiritual. Keunggulannya tidak hanya diukur dari kecanggihan teknologi yang dihasilkan, tetapi juga dari kemanfaatan dan tanggung jawab di balik penggunaannya.

Menjawab Tantangan Rekayasa di Era Disrupsi

Dunia teknik dan teknologi berkembang semakin cepat. Kecerdasan buatan, Internet of Things (IoT), energi terbarukan, kota cerdas, dan manufaktur digital mengubah cara manusia bekerja, berproduksi, serta menyelesaikan persoalan.

Perubahan ini menuntut perguruan tinggi untuk terus memperbarui pendekatan pembelajarannya. Kurikulum yang tidak adaptif, fasilitas praktikum yang tertinggal, dan penelitian yang tidak terhubung dengan kebutuhan masyarakat berisiko membatasi daya saing lulusan.

Setidaknya terdapat tiga tantangan yang perlu mendapat perhatian.

Pertama, kesenjangan antara kurikulum dan kebutuhan dunia kerja. Perkembangan teknologi menuntut pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada teori, tetapi juga memberi ruang bagi praktik, pemecahan masalah, dan penguasaan perangkat teknologi yang relevan. Laboratorium dan fasilitas pembelajaran perlu dikembangkan secara berkelanjutan agar mahasiswa siap menghadapi perubahan industri.

Kedua, penguatan riset terapan dan hilirisasi inovasi. Penelitian teknik semestinya tidak berhenti pada laporan akademik atau publikasi ilmiah. Hasil penelitian perlu didorong menjadi prototipe, paten, produk, atau solusi yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Dengan demikian, kampus tidak hanya menjadi tempat produksi pengetahuan, tetapi juga ruang lahirnya inovasi.

Ketiga, tanggung jawab etis dalam pengembangan teknologi. Kecerdasan buatan dapat menghasilkan bias, otomatisasi dapat mengubah kebutuhan tenaga kerja, dan pembangunan fisik yang tidak memperhatikan daya dukung lingkungan dapat menimbulkan kerusakan ekologis.

Tantangan tersebut menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu identik dengan kemajuan peradaban. Teknologi membutuhkan arah dan nilai agar benar-benar membawa manfaat.

Di sinilah perguruan tinggi Islam memiliki peluang untuk memberikan kontribusi khas: mengembangkan teknologi yang tidak hanya efektif dan inovatif, tetapi juga berkeadilan, bertanggung jawab, serta berorientasi pada kemaslahatan manusia.

Baca Juga:  Gen Z Bikin Gebrakan: Aplikasi Parkir Pintar Karya Mahasiswa UM Siap Pecahkan Masalah Macet di Kampus & Tempat Wisata

Empat Agenda Strategis Pengembangan Teknik

Untuk memperkuat peran bidang teknik di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, terdapat empat agenda strategis yang perlu dikembangkan.

Pertama, mengintegrasikan nilai keislaman dalam kurikulum rekayasa.

Integrasi keilmuan perlu diwujudkan dalam proses pembelajaran, bukan berhenti sebagai konsep atau jargon kelembagaan. Etika profesi, tanggung jawab lingkungan, dan etika kecerdasan buatan, misalnya, dapat diintegrasikan dengan mata kuliah inti teknik sesuai bidang keahlian masing-masing.

Mahasiswa perlu dibiasakan untuk tidak hanya bertanya, “Bagaimana teknologi ini dibuat?”, tetapi juga, “Untuk siapa teknologi ini dikembangkan, siapa yang memperoleh manfaat, dan apa dampaknya bagi masyarakat?”

Pendekatan ini akan membantu mahasiswa memahami bahwa kualitas rekayasa tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan teknis, tetapi juga oleh pertimbangan etis dan tanggung jawab sosial.

Kedua, membangun ekosistem inovasi dan teknopreneur.

Universitas perlu memperkuat ekosistem yang menghubungkan laboratorium, dosen, mahasiswa, dunia usaha, industri, dan masyarakat. Hubungan tersebut penting agar penelitian dapat menjawab kebutuhan nyata sekaligus membuka peluang pengembangan usaha berbasis teknologi.

Berbagai inovasi dapat dikembangkan sesuai potensi keilmuan kampus, mulai dari aplikasi layanan keumatan, sistem informasi pesantren, teknologi tepat guna untuk petani dan UMKM, hingga rancangan bangunan hemat energi.

Namun, inovasi tidak cukup hanya menghasilkan ide atau purwarupa. Diperlukan pendampingan, pengujian, perlindungan kekayaan intelektual, dan kemitraan agar hasil penelitian berpeluang diterapkan secara berkelanjutan.

Ketiga, menjadikan kampus sebagai laboratorium cerdas dan hijau.

Kampus sendiri dapat menjadi ruang penerapan sekaligus pengujian teknologi. Pemanfaatan panel surya, pengelolaan air hujan, sistem pengolahan sampah terpadu, dan tata kelola berbasis data merupakan beberapa contoh yang dapat dikembangkan sesuai kebutuhan dan kelayakan.

Pendekatan ini memberikan manfaat ganda. Mahasiswa memperoleh pengalaman belajar melalui persoalan nyata, sedangkan universitas berpeluang meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya dan memperkuat praktik keberlanjutan lingkungan.

Dengan demikian, kampus tidak hanya mengajarkan teknologi di ruang kelas, tetapi juga menunjukkan penerapannya melalui pengelolaan institusi sehari-hari.

Baca Juga:  134 Mahasiswa PBA UIN Malang Ikuti Bimtek Penulisan Karya Ilmiah, Didorong Tembus Jurnal Bereputasi

Keempat, memperkuat kolaborasi lintas disiplin.

Persoalan masyarakat semakin kompleks dan tidak dapat diselesaikan melalui satu bidang ilmu saja. Karena itu, integrasi keilmuan perlu diwujudkan melalui proyek penelitian dan inovasi bersama.

Pengembangan sistem zakat digital, misalnya, membutuhkan kolaborasi antara ahli informatika, ekonomi syariah, dan pakar tata kelola. Sementara itu, perancangan fasilitas kesehatan yang ramah penyandang disabilitas memerlukan keterlibatan ahli teknik, tenaga kesehatan, dan pakar perilaku manusia.

Kolaborasi semacam ini membuka peluang lahirnya solusi yang lebih komprehensif. Sekaligus, pendekatan tersebut menjadikan integrasi ilmu sebagai praktik akademik yang konkret, bukan sekadar identitas universitas.

Dari Kampus Menuju Peradaban

Sejarah menunjukkan bahwa kemajuan peradaban membutuhkan perpaduan pengetahuan, nilai, dan kemampuan mewujudkan gagasan menjadi karya nyata. Arsitektur, sistem pengairan, dan berbagai teknologi yang berkembang dalam peradaban Islam menjadi bagian dari perjalanan panjang tersebut.

Tantangan kita hari ini adalah menghidupkan semangat itu dalam konteks abad ke-21. Perkembangan teknologi harus direspons melalui pendidikan yang adaptif, penelitian yang produktif, dan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Pada usia ke-65, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memiliki modal penting berupa tradisi keilmuan, budaya ma’had yang membentuk karakter, serta sumber daya manusia yang terus berkembang. Modal tersebut perlu dihubungkan dengan penguatan riset, pengembangan teknologi, dan kolaborasi lintas disiplin agar integrasi keilmuan menghasilkan dampak yang semakin nyata.

Fakultas Teknik memiliki peran strategis dalam mewujudkan agenda tersebut. Bukan hanya dengan menghasilkan lulusan yang menguasai teknologi, melainkan juga dengan membangun budaya rekayasa yang menjunjung keselamatan, keadilan, keberlanjutan, dan kemaslahatan.

Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan teknik di lingkungan universitas Islam tidak cukup diukur dari kemampuan menghasilkan insinyur yang kompeten. Ukuran lainnya adalah sejauh mana kompetensi tersebut digunakan untuk menjawab persoalan masyarakat dan menghadirkan kemajuan yang bertanggung jawab.

Dirgahayu ke-65 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Semoga dari kampus ini terus lahir insinyur-insinyur ulul albab yang memadukan ilmu, iman, dan amal untuk membangun negeri serta memberikan kontribusi bagi peradaban.

Tentang Penulis

Dr. Hairur Rahman, M.Si., adalah Dekan Fakultas Teknik sekaligus Anggota Senat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *