Tim PKM UM Kembangkan HUSKIVA BAG, Tas Sabut Kelapa untuk Jaga Kesegaran Ikan hingga 72 Jam
SMARTLIVE — Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Universitas Negeri Malang (UM) mengembangkan HUSKIVA BAG, tas penyimpanan ikan berbasis sabut kelapa dengan teknologi insulasi termal berlapis yang ditujukan untuk membantu pemancing sport fishing menjaga kesegaran hasil tangkapan.
Inovasi tersebut dikembangkan oleh tim yang diketuai Ulfa Nur Azizah dengan dosen pendamping Dyah Palupi Rohmiati, M.Pd. Atas pengembangan produk itu, tim HUSKIVA BAG memperoleh pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2026 dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Pengembangan HUSKIVA BAG berangkat dari persoalan yang dihadapi pemancing saat menyimpan hasil tangkapan selama berada di laut atau perairan.
Tim UM menemukan, pemancing sport fishing rata-rata menghabiskan sekitar lima jam dalam satu perjalanan. Sebagian besar waktu tersebut digunakan untuk memancing sehingga dibutuhkan wadah yang praktis dan mampu menjaga kondisi ikan hingga kembali ke daratan.
Berdasarkan survei terhadap 187 responden dari 10 komunitas memancing, tim menemukan sejumlah kendala utama, mulai dari hasil tangkapan yang kurang segar, munculnya bau amis, hingga wadah penyimpanan yang dinilai kurang praktis dibawa.
Temuan tersebut kemudian menjadi dasar pengembangan HUSKIVA BAG.
“Kami ingin menghadirkan wadah penyimpanan ikan yang tidak hanya praktis digunakan oleh pemancing, tetapi juga memiliki inovasi dari sisi material. Sabut kelapa kami manfaatkan sebagai bagian dari insulasi termal sehingga material tersebut memiliki nilai guna yang lebih tinggi,” ujar Ulfa.
Tim memanfaatkan sabut kelapa sebagai salah satu material utama sistem insulasi termal. Sebelum digunakan, serat sabut kelapa menjalani proses alkali treatment untuk meningkatkan kualitas material dan efektivitas termalnya.
Sabut kelapa kemudian dipadukan dengan aluminium foil, kain parasut tempel, dan poliester 300D untuk membentuk sistem insulasi berlapis.
Selain mengandalkan material tersebut, HUSKIVA BAG dirancang dengan mempertimbangkan mobilitas pengguna selama melakukan aktivitas pemancingan.
Tas ini memiliki desain ringan dan fleksibel serta dilengkapi handle multifungsi, hook holder untuk menggantung perlengkapan, dan shoulder strap yang dapat disesuaikan. Bagian dalam tas dibuat kedap air untuk memudahkan pembersihan setelah digunakan menyimpan ikan dan es.
“Kami berusaha agar inovasi ini tidak berhenti pada fungsi penyimpanan saja. Dari sisi desain, kami juga mempertimbangkan bagaimana tas ini bisa dibawa dengan lebih mudah dan digunakan dalam aktivitas pemancingan,” kata Ulfa.
Dengan sistem insulasi termal berlapis, HUSKIVA BAG dirancang untuk membantu menjaga kestabilan suhu penyimpanan dan mempertahankan kesegaran ikan hingga 72 jam.
Produk tersebut dikembangkan dalam dua pilihan ukuran. Ukuran medium memiliki kapasitas 23 liter dengan dimensi 40 x 24 x 24 sentimeter, sedangkan ukuran besar memiliki dimensi 60 x 40 x 35 sentimeter.
Pemanfaatan sabut kelapa menjadi salah satu nilai utama inovasi tersebut. Material lokal yang berpotensi menjadi limbah diolah kembali menjadi komponen produk fungsional dengan nilai tambah.
Ulfa berharap HUSKIVA BAG dapat menjadi alternatif bagi pemancing yang selama ini menggunakan wadah penyimpanan yang kurang praktis.
“Harapannya HUSKIVA BAG dapat menjadi alternatif bagi pemancing yang selama ini masih menggunakan berbagai jenis wadah penyimpanan yang kurang praktis. Kami juga ingin menunjukkan bahwa material seperti sabut kelapa masih dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai guna,” tuturnya.
Pengembangan HUSKIVA BAG juga menggabungkan aspek inovasi material dan keberlanjutan. Pemanfaatan kembali sabut kelapa dinilai sejalan dengan upaya pengurangan potensi limbah sekaligus meningkatkan nilai ekonomi sumber daya lokal.
Melalui pendanaan PKM 2026, tim UM berharap pengembangan HUSKIVA BAG dapat terus dilakukan sehingga inovasi tersebut tidak berhenti sebagai karya kompetisi mahasiswa, tetapi berpeluang dikembangkan menjadi produk yang dapat dimanfaatkan secara lebih luas oleh masyarakat.
