Prof Puji Handayati: Kartini Masa Kini Tangguh Jaga Integritas di Tengah Badai Ujian
SMARTLIVE – Semangat Kartini bukan sekadar tentang kebaya dan seremonial, melainkan tentang keberanian seorang perempuan untuk menjaga integritas dan dedikasi di tengah badai ujian. Di era modern ini, menjadi “Kartini” berarti tetap teguh melangkah meski diterpa fitnah atau keraguan dari sekitar. Demikian pernyataan tegas yang disampaikan Prof. Dr. Puji Handayati, SE, MM.Ak, CA, CMA, CSRS, CSRA di Hari Kartini (21/4/26). “Karena kesabaran dalam menghadapi tantangan adalah bukti kemuliaan budi yang sesungguhnya,” lanjut Guru Besar Universitas Negeri Malang ini.
Ia pun mengajak para perempuan dari berbagai usia dan latar belakang berbeda untuk tetap terus berkarya dengan hati jernih dan prinsip yang kokoh. Mereka bisa berkarya sesuai dengan kemampuan dan sektor yang dijalani masing-masing. Bisa di dunia pendidikan seperti yang dilakukannya, bisa juga di dunia bisnis dan entrepreneurship, kesenian dan kreatif, sosial, keagamaan, atau pun di lingkup keluarga.

“Berkarya tidak bisa dibatasi dengan profesi. Siapapun bisa melakukannya, termasuk ibu rumah tangga yang tidak bekerja di sektor formal,” ujar Prof Puji yang pernah membina 54 keluarga eks anak jalanan di Kampung Topeng Desaku Menanti, Dusun Baran Kelurahan Tlogowaru, Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Ia membimbing mereka tentang kreasi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pendapatan, serta manajemen pengelolaan keuangan.
“Tidak harus ada uang dulu sebelum pengelolaan. Maka dari itu, ada pembinaan tentang kreasi apa saja yang dapat mereka lakukan dengan segala keterbatasannya.
Terpenting ada semangat dan kemauan untuk berubah, lalu menerapkan ilmu pengelolaan keuangan yang sudah diterima untuk mencapai perubahan kehidupan yang lebih baik,” jelas profesor kelahiran Pasuruan ini. Memberikan pelatihan dan bimbingan terkait dengan pengelolaan keuangan memang menjadi passion dan concern Prof Puji sebagai bagian dari pengabdiannya kepada masyarakat. Ia tidak membedakan peserta dan latar belakangnya, ia bahkan tetap bersemangat berbagi ilmu tanpa pungutan biaya. Seperti yang pernah dilakukannya, memberikan pelatihan dan bimbingan pengelolaan keuangan kepada sekretaris desa dan bendahara desa. Prof Puji ingin terus berkarya di mana pun berada, sebab baginya, kecerdasan yang berpadu dengan keteguhan iman akan melahirkan perubahan nyata yang tidak akan lekang oleh waktu.
Ia ingin berkontribusi pada perubahan positif yang terjadi di masyarakat, tidak hanya di lingkungan kampus di mana ia bekerja dan mengabdi. Menurut Prof Puji, perempuan tangguh tidak lahir dari kemudahan, ia dibentuk oleh badai yang gagal menumbangkannya. Ada banyak tantangan dan ujian yang akan dilewati oleh para perempuan di era ini, namun sejatinya setiap ujian dan tantangan itulah yang menguatkan sosok perempuan untuk tetap terus berdaya, berkarya, dan bermakna. “Selamat Hari Kartini, tetaplah menjadi diri sendiri untuk menjadi Kartini masa kini,” pesannya kepada perempuan Indonesia.
Di Hari Kartini 2026, Prof Puji Handayati sengaja menuliskan puisi untuk seluruh perempuan di Indonesia. Berikut puisinya:
Kartini di Tiang Karang yang Anggun
Bukan sekadar paras yang menawan mata,
Namun ada api yang menyala dalam dada.
Ia melangkah dengan kepala tegak,
Membawa integritas yang takkan retak.
Dedikasinya bukan sekadar kata di bibir saja, Tapi bukti nyata dalam peluh dan kerja. Ia hadir saat dunia memilih untuk berpaling, Tetap berdiri meski badai datang menderu bising.
Baginya, janji adalah sebuah amanah,
Kejujuran adalah akar yang tak pernah lemah. Tak tergoda oleh kilau yang fana,
Sebab harga dirinya lebih mulia dari segalanya.
Perempuan hebat bukan tentang siapa yang ia miliki, Tapi tentang bagaimana ia menghargai diri sendiri. Menjaga marwah di tengah arus yang deras, Berjalan lurus dengan prinsip yang selaras.
Ia adalah kompas di tengah keraguan,
Simbol kekuatan dalam ketulusan.
Padanya kita belajar tentang arti kesetiaan,
Pada tugas, pada mimpi, dan pada kebenaran.
