Netwriter can get reward Join NowDaftar / Login Netwriter
08/08/2026
CITILIVE

Mendikdasmen Ungkap 3 Strategi Pemerataan Mutu Pendidikan di Indonesia

Shinta lubis
  • Agustus 8, 2026
  • 3 min read
Mendikdasmen Ungkap 3 Strategi Pemerataan Mutu Pendidikan di Indonesia

CITILIVE – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI Abdul Mu’ti mengungkap tiga strategi pemerintah untuk memperkecil kesenjangan mutu pendidikan di Indonesia. Ketiganya meliputi penguatan sarana dan prasarana, peningkatan kualitas guru, serta penguatan pendidikan karakter.

Hal tersebut disampaikan Abdul Mu’ti saat Silaturahim Mendikdasmen RI bersama Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Malang di Aula Kantor PDM Kota Malang, Jalan Gajayana, Kecamatan Lowokwaru, Sabtu (8/8/2026) malam.

Abdul Mu’ti mengatakan kesenjangan mutu pendidikan masih menjadi tantangan, baik antarwilayah maupun antarsatuan pendidikan. Kesenjangan juga terjadi antara sekolah negeri dan swasta.

“Sekarang ini memang kami di Kementerian berusaha agar sekolah-sekolah di Indonesia ini dapat terus kita tingkatkan kualitasnya,” ujar Mu’ti.

  1. Revitalisasi dan Digitalisasi Sekolah

Strategi pertama dilakukan melalui peningkatan kualitas sarana dan prasarana sekolah. Pemerintah menjalankannya melalui program revitalisasi dan digitalisasi satuan pendidikan.

Mu’ti mengatakan revitalisasi tidak dilakukan secara seragam. Pemerintah memprioritaskan sekolah yang memiliki kebutuhan paling mendesak.

Pada 2026, sasaran revitalisasi antara lain sekolah yang terdampak bencana alam, berada di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta sekolah dengan kondisi bangunan rusak berat.

“Untuk tahun ini sasarannya adalah sekolah yang terdampak bencana alam, kemudian sekolah di daerah 3T dan sekolah yang rusak berat. Ini terus kita lakukan,” katanya.

  1. Tingkatkan Kompetensi dan Kualifikasi Guru

Strategi kedua menyasar kualitas sumber daya manusia, khususnya guru. Pemerintah memberikan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi sekaligus membuka kesempatan bagi guru yang belum memiliki kualifikasi pendidikan D4 atau S1 untuk melanjutkan studi.

Program tersebut diberikan melalui beasiswa pendidikan sebesar Rp3 juta per semester.

“Guru-guru juga terus kita berikan pelatihan dan kita berikan kesempatan mereka yang belum D4 atau S1 untuk dapat menempuh program D4 atau S1 dengan beasiswa dari kami sebesar Rp3 juta per semester,” ungkap Mu’ti.

Baca Juga:  Seminar Makara dan Prasasti Dinoyo Dibuka Langsung Kepala Dinas Pendidikan Suwardjana

Menurutnya, peningkatan mutu pendidikan tidak cukup hanya dengan memperbaiki fasilitas sekolah. Kualitas tenaga pendidik menjadi faktor penting dalam memastikan proses pembelajaran berjalan optimal.

  1. Perkuat Pendidikan Karakter

Strategi ketiga adalah memperkuat pendidikan karakter peserta didik. Pemerintah menjalankan sejumlah program pembiasaan dan penguatan karakter di lingkungan pendidikan.

Program tersebut di antaranya Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, Gerakan Pagi Ceria, serta berbagai program penguatan karakter lainnya.

Mu’ti menilai pembentukan karakter harus berjalan beriringan dengan peningkatan kemampuan akademik siswa.

“Yang ketiga, program penguatan pendidikan karakter melalui tujuh kebiasaan Indonesia Pintar, Pagi Ceria, dan program penguatan karakter yang lainnya,” ujarnya.

Pemerintah Tak Bisa Bekerja Sendiri

Mu’ti menegaskan pemerataan mutu pendidikan merupakan pekerjaan besar yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah pusat dan daerah, sekolah, guru, orang tua, organisasi pendidikan, serta masyarakat perlu membangun kolaborasi.

Menurutnya, pemerintah masih menghadapi kesenjangan mutu pendidikan antarwilayah, antardaerah, antarsekolah, termasuk antara sekolah negeri dan swasta.

“Kami sekarang berusaha bagaimana agar mutu pendidikan ini bisa semakin merata. Karena memang kami masih mengalami tantangan mengenai kesenjangan mutu pendidikan, baik antarkawasan maupun antardaerah, dan juga antara sekolah satu dengan yang lainnya, antara negeri dengan swasta,” tegasnya.

Karena itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah membuka ruang kerja sama dengan berbagai organisasi yang memiliki perhatian terhadap pendidikan, termasuk Muhammadiyah.

“Kita berpendapat bahwa tidak semua hal bisa dikerjakan sendiri. Kita akan bisa melaksanakan banyak hal kalau saling bekerja sama antara satu dengan yang lainnya,” pungkas Mu’ti.

Dengan tiga strategi tersebut, pemerintah menempatkan pembangunan infrastruktur, peningkatan kompetensi dan kualifikasi guru, serta pembentukan karakter peserta didik sebagai satu kesatuan dalam upaya mempersempit kesenjangan dan meningkatkan mutu pendidikan nasional.