Netwriter can get reward Join NowDaftar / Login Netwriter
19/04/2024
SMARTLIVE

Pidato Guru Besar UI, Definisikan Budaya

  • Maret 17, 2023
  • 6 min read
Pidato Guru Besar UI, Definisikan Budaya

SMARTLIVE – Dikutip dari website Universitas Indonesia, Ada beragam definisi budaya, baik berdasarkan bidang ilmu yang berhubungan dengannya, maupun menurut pandangan para pakar, namun Maman Lesmana dalam pidato pengukuhan guru besarnya, Rabu (15/03), di Balai Sidang Universitas Indonesia (UI), Kampus Depok, mencoba mendefinisikan kata budaya secara lebih sederhana. Hal ini karena definisi budaya yang beragam memunculkan kebingungan di berbagai aspek, seperti dalam kurikulum pembelajaran, kategorisasi rumpun ilmu, hingga kesesuain gelar dengan keahlian lulusannya.

Gelar Sarjana Humaniora (S.Hum.) atau Magister Humaniora (M.Hum.), misalnya, kurang tepat dilekatkan kepada lulusan dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya karena mereka bukan seorang ahli budaya, melainkan ahli dari salah satu unsur ilmu budaya, seperti sastra, bahasa, sejarah, dan sebagainya. Oleh karena itu, lulusan dari Departemen Sejarah lebih nyaman disebut sebagai Sarjana Ilmu Sejarah alih-alih Sarjana atau Magister Humaniora.

Kebingungan dalam mendefinisikan kata budaya ini menyebabkan kegagalpahaman dalam menentukan siapa yang disebut “budayawan”. Apakah budayawan adalah ahli budaya, seperti halnya sosiolog yang ahli di bidang sosiologi atau antropolog yang ahli di bidang antropologi? Siapa yang pantas mendapatkannya dan siapa yang berhak menyematkannya? Apakah institusi, masyarakat, media, atau panitia seminar? Pertanyaan ini muncul karena belum ada kriteria tertentu untuk menyebut seseorang sebagai budayawan.

Menurut Maman, ada guru dan rekan sejawatnya di kampus yang sudah pakar betul dengan ilmu budaya, baik dari aspek teori maupun praktik, tetapi tidak ada yang memanggilnya “budayawan”. Di sisi lain, ada orang yang hanya menulis beberapa fiksi dan esai sastra, tampil di beberapa drama dan aktif di kegiatan pusat kebudayaan tertentu, sudah disebut sebagai “budayawan”.

Kebingungan tersebut akhirnya memicu Maman untuk mencari alternatif definisi yang lebih cocok dan mudah untuk dipahami. Etimologi kata budaya yang berasal dari kata budi dan daya dijadikan alternatif untuk definisi sederhana dari kata tersebut. “Ketika masih kecil, saya pernah mendengar bahwa kata budaya, secara etimologi berasal dari gabungan dua kata, yaitu budi dan daya. Saya tidak tahu itu sumbernya dari mana, tetapi saya percaya bahwa kata itu benar adanya, dan dapat dijadikan salah satu alternatif dalam pemahaman tentang definisi dari budaya,” kata Maman.

Baca Juga:  Penilai PKDP UIN Malang Tetapkan Jumlah Peserta yang Lulus

Maman menemukan adanya unsur semiotika (tanda) pada kedua kata tersebut. Kata budi yang mendahului kata daya menunjukkan posisi kata budi yang lebih penting daripada kata daya. Hal ini sesuai dengan ajaran dalam agama Islam, yaitu laa hawla wa laa quwwata illa billahi (tidak ada daya dan upaya, kecuali atas bantuan Allah). Kalimat ini menunjukkan bahwa unsur religi lebih penting daripada unsur daya.

Kata religi yang ada pada tujuh unsur dalam budaya menurut Prof. Koentjaraningrat adalah budi dalam konteks ini. Adapun unsur lainnya, seperti bahasa, pengetahuan, organisasi sosial, peralatan hidup dan teknologi, ekonomi atau mata pencahrian, dan kesenian adalah daya. Kata budi sering diartikan sebagai nalar, pikiran, dan akal. Manusia memiliki kesamaan budi dan dengan itulah orang berpekerti atau sama dengan bertindak baik. Budi pekerti adalah moralitas yang mengandung pengertian, yaitu adat istiadat, sopan santun, dan perilaku yang membantu orang dapat hidup baik.

Dengan menggunakan definisi budaya tersebut, diperoleh makna dari budayawan, yaitu orang yang berbudaya atau orang yang mendahulukan budi daripada daya, sebab dengan baiknya aspek budi, akan baik pula aspek daya-nya. “Jadi, kalau kita ingin disebut sebagai seorang budayawan, kita harus mendahulukan budi terlebih dahulu, yang dalam agama saya disebut dengan akhlaq al-karimah, dan barulah daya-nya, yaitu penguasaan tentang salah satu unsur, beberapa, atau semua unsur dari keenam unsur budaya lainnya, baik secara akademis maupun non-akademis,” ujar Maman.

Definisi tentang budaya yang dipahami oleh Maman ini sejatinya sama dengan pandangan yang disampaikan oleh Koentjaraningrat. Hanya saja, dalam pandangan Koentjaraningrat, tidak disebutkan unsur mana yang lebih penting. Begitu juga dengan pandangan sosiolog yang membagi budaya dibagi menjadi materil dan non-materil, dan pandangan antropolog yang mengemukakan adanya nilai-nilai yang digunakan untuk melestarikan kelompok sosial. Intinya adalah bahwa semua definisi budaya dapat didikotomikan menjadi budi-daya, religi-non religi, material-non material, dan nilai/aturan/gagasan-kelompok sosial yang menggunakannya.

Baca Juga:  Tren Terkini dalam Ekosistem Halal: Sorotan PLANAR dan MIISE 2023

Baca Juga : Ratusan PNS Diambil Sumpah Janjinya

Orasi ilmiah bertema “Memahami Budaya Secara Sederhana” ini disampaikan Prof. Dr. Maman Lesmana, S.S., M.Hum. pada saat pengukuhannya sebagai Guru Besar Tetap dalam Ilmu Kewilayahan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI. Prosesi pengukuhan yang dipimpin oleh Rektor UI, Prof. Ari Kuncoro, S.E., M.A., Ph.D., ini turut dihadiri oleh pejabat rektor UI tahun 2014, Prof. Dr. Bambang Wibawarta, S.S., M.A., dan Sekretaris Majelis Wali Amanat UI, Dra. Corina D.S. Riantoputra, M.Com., Ph.D.

Prof. Maman menamatkan pendidikan di UI untuk program S1 Ilmu Linguistik (1986) dan S2 Ilmu Susastra (1999). Gelar Doktor diperolehnya pada 2008 dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah dalam bidang Bahasa dan Sastra Arab. Ia merupakan dosen di Departemen Kewilayahan FIB UI dan Program Studi Arab FIB UI. Ia juga merupakan Anggota Dewan Senat Akademik FIB UI periode 2022–2023, Ketua Departemen Kewilayahan FIB UI periode 2016–2018, Ketua Program Studi Arab FIB UI periode 2004–2008, dan Koordinator Program D3 Arab FIB UI periode 2000–2004.

Beberapa karya ilmiahnya yang pernah diterbitkan, antara lain A Critical Reading of Arabic Internet Memes against Patriarchal Systems (2021), Humor and Language Error Arabic-English Informative Discourse (2021), Variations of Arabic Language in Indonesia (2019), The Activities of Arab Women in the Field of Literature (2019), dan Understanding the Characteristics of Indonesian Humourous Riddles (2019). Dua bukunya yang terbit pada 2022, yaitu Analyzing Humor dan Arabic Humanities, kini telah diterjemahkan dalam beberapa bahasa (Spanyol, Itali, Jerman, Rusia, Portugis, Perancis) dan dipasarkan di negara-negara Eropa.

Prof. Maman menamatkan pendidikan di UI untuk program S1 Ilmu Linguistik (1986) dan S2 Ilmu Susastra (1999). Gelar Doktor diperolehnya pada 2008 dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah dalam bidang Bahasa dan Sastra Arab. Ia merupakan dosen di Departemen Kewilayahan FIB UI dan Program Studi Arab FIB UI. Ia juga merupakan Anggota Dewan Senat Akademik FIB UI periode 2022–2023, Ketua Departemen Kewilayahan FIB UI periode 2016–2018, Ketua Program Studi Arab FIB UI periode 2004–2008, dan Koordinator Program D3 Arab FIB UI periode 2000–2004.Beberapa karya ilmiahnya yang pernah diterbitkan, antara lain A Critical Reading of Arabic Internet Memes against Patriarchal Systems (2021), Humor and Language Error Arabic-English Informative Discourse (2021), Variations of Arabic Language in Indonesia (2019), The Activities of Arab Women in the Field of Literature (2019), dan Understanding the Characteristics of Indonesian Humourous Riddles (2019). Dua bukunya yang terbit pada 2022, yaitu Analyzing Humor dan Arabic Humanities, kini telah diterjemahkan dalam beberapa bahasa (Spanyol, Itali, Jerman, Rusia, Portugis, Perancis) dan dipasarkan di negara-negara Eropa.