Netwriter can get reward Join NowDaftar / Login Netwriter
28/06/2026
SMARTLIVE

Fenomena Selebrasi Skripsi Gen Z Disorot, Warek UIN Maliki: Jangan Sampai Esensi Pendidikan Hilang

rifamahmudah
  • Juni 28, 2026
  • 3 min read
Fenomena Selebrasi Skripsi Gen Z Disorot, Warek UIN Maliki: Jangan Sampai Esensi Pendidikan Hilang

SMARTLIVE,MALANG – Fenomena selebrasi kelulusan mahasiswa yang kian marak di media sosial mendapat perhatian Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang, M. Abdul Hamid. Menurutnya, perayaan pascasidang skripsi merupakan hal yang wajar sebagai bentuk rasa syukur, namun jangan sampai mengaburkan makna utama pendidikan.

Hamid menilai, perubahan cara mahasiswa merayakan kelulusan tidak bisa dilepaskan dari perkembangan budaya digital yang membentuk karakter Generasi Z.

“Hari ini, kelulusan sering kali dianggap belum selesai ketika sidang berakhir, tetapi ketika foto terakhir selesai diunggah ke media sosial. Ini merupakan perubahan budaya yang perlu dipahami secara sosiologis, bukan sekadar dinilai berlebihan,” ujarnya dalam tulisan reflektifnya, Sabtu (27/6/2026).

Ia menjelaskan, mahasiswa pada era 1980-an hingga awal 2000-an juga merasakan kebahagiaan yang sama setelah dinyatakan lulus. Namun, ekspresi kegembiraan kala itu dilakukan secara lebih sederhana karena belum dipengaruhi perkembangan media digital.

Menurut Hamid, masyarakat saat ini mengalami pergeseran dari culture of experience menuju culture of representation, yakni pengalaman yang dianggap belum lengkap sebelum didokumentasikan dan dibagikan melalui media sosial.

Dalam perspektif tersebut, selebrasi pascasidang tidak hanya menjadi ungkapan kebahagiaan, tetapi juga sarana membangun identitas diri di ruang digital.

“Perayaan kelulusan bukan hanya menunjukkan keberhasilan akademik, tetapi juga bagaimana seseorang merepresentasikan dirinya kepada jejaring sosialnya,” katanya.

Meski demikian, Hamid mengingatkan agar mahasiswa tidak terjebak pada euforia dokumentasi hingga melupakan substansi pendidikan.

Menurutnya, kelulusan sejatinya bukan garis akhir perjalanan akademik, melainkan awal untuk mengabdikan ilmu kepada masyarakat.

“Ketika perhatian lebih banyak diarahkan pada bagaimana sebuah momen ditampilkan, ada risiko makna dari momen itu sendiri menjadi berkurang. Pendidikan harus tetap dimaknai sebagai proses membangun ilmu, karakter, integritas, dan tanggung jawab sosial,” tegasnya.

Baca Juga:  Pertimbangkan Hal Ini sebelum Memilih Double Degree

Ia menambahkan, keberhasilan seorang lulusan tidak diukur dari besarnya buket bunga, ramainya unggahan media sosial, maupun banyaknya apresiasi digital yang diterima.

Sebaliknya, ukuran keberhasilan terletak pada kemampuan memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk memberikan solusi bagi berbagai persoalan masyarakat.

Hamid juga menilai Generasi Z memiliki modal besar untuk menjadi agen perubahan karena dikenal kreatif, adaptif terhadap teknologi, cepat belajar, dan mampu membangun jejaring global.

Namun, potensi tersebut akan semakin bernilai apabila dibarengi dengan etika akademik, integritas, serta semangat pengabdian.

“Media sosial seharusnya menjadi ruang untuk menyebarkan inspirasi, membangun kolaborasi, dan memperluas manfaat, bukan sekadar mempertontonkan pencapaian,” ujarnya.

Di akhir refleksinya, Hamid mengajak mahasiswa memaknai kelulusan secara lebih mendalam. Menurutnya, bunga, balon, hingga unggahan media sosial hanya bersifat sementara, sedangkan ilmu pengetahuan, integritas, dan kontribusi kepada masyarakat akan menjadi warisan yang bertahan sepanjang hayat.

“Perayaan sejati bukanlah yang ramai di media sosial, melainkan ketika ilmu yang diperoleh mampu menghadirkan manfaat bagi sesama,” pungkasnya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *