UB Berdayakan Bank Sampah Dworowati, Siapkan Mesin Pencacah Organik Berkapasitas 200 Kg per Hari
SMARTLIVE — Universitas Brawijaya (UB) mendorong penguatan pengelolaan sampah organik di tingkat masyarakat melalui program pemberdayaan Bank Sampah Dworowati di Desa Ngabab, Kabupaten Malang. Program yang berlangsung selama Juni hingga Agustus 2026 itu dilengkapi pelatihan pengolahan sampah hingga penggunaan mesin pencacah organik portabel dengan target kapasitas pengolahan mencapai 200 kilogram per hari.
Program Pengabdian kepada Masyarakat tersebut dipimpin Yasa Palaguna Umar bersama tim dan mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Brawijaya.
Program ini dijalankan setelah pendataan awal menunjukkan masih rendahnya pemilahan dan pengolahan sampah organik di masyarakat. Dari 30 responden yang terdiri atas rumah tangga, pelaku usaha, dan lembaga, sebanyak 60 persen menyebut sisa makanan sebagai jenis sampah yang paling dominan.
Selain itu, 50 persen responden belum pernah memilah sampah organik dan anorganik, sementara 60 persen belum memiliki wadah sampah terpisah. Praktik pengomposan juga masih terbatas, dengan hanya 16,7 persen responden yang pernah melakukannya.

Pelatihan Berbasis Praktik
Tim UB kemudian menyusun program dengan pendekatan praktik langsung. Hal tersebut disesuaikan dengan hasil pendataan yang menunjukkan 66,7 persen responden lebih memilih pembelajaran melalui praktik, sedangkan 70 persen menyatakan bersedia atau berpotensi mengikuti kegiatan pengelolaan sampah.
Rangkaian program meliputi sosialisasi pemilahan sampah, pelatihan pengomposan, workshop penggunaan mesin pencacah sampah organik portabel, pengenalan aspek keselamatan dan kesehatan kerja, hingga instalasi dan uji fungsi peralatan.
Tim juga memberikan pendampingan dalam pencatatan produksi dan penjualan kompos sebagai bagian dari upaya membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Mesin pencacah organik digunakan untuk membantu mengurangi pekerjaan manual sekaligus menghasilkan ukuran bahan organik yang lebih seragam. Kondisi tersebut diharapkan dapat mendukung proses pengomposan.
Program tersebut menargetkan sedikitnya 20 anggota Bank Sampah Dworowati mendapatkan pelatihan pengelolaan sampah organik.
Target Produksi Kompos 500 Kilogram per Bulan
Selain kapasitas pengolahan hingga 200 kilogram sampah per hari, program pemberdayaan tersebut juga menargetkan produksi kompos secara bertahap mencapai 300 hingga 500 kilogram per bulan, menyesuaikan kemampuan pengelola dan ketersediaan bahan baku.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat peran Bank Sampah Dworowati tidak hanya sebagai tempat pengumpulan sampah, tetapi juga menjadi pusat pengolahan sampah organik yang menghasilkan produk bernilai ekonomi.
Program ini mendapat pendanaan melalui Program BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi bekerja sama dengan Universitas Brawijaya.
Melalui program tersebut, UB mendorong penerapan pengelolaan sampah berbasis masyarakat sekaligus memperkuat praktik ekonomi sirkular di Desa Ngabab.
Keberlanjutan program selanjutnya akan bergantung pada konsistensi pengelola Bank Sampah, partisipasi masyarakat dalam pemilahan sampah, serta pencatatan produksi dan pemasaran kompos secara tertib.
