Netwriter can get reward Join NowDaftar / Login Netwriter
21/10/2026
CITILIVE

Sosialisasi Lomba Kampung Mbois 2026, Wali Kota Malang Tekankan Perubahan Perilaku dan Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

rifamahmudah
  • Oktober 21, 2026
  • 4 min read
Sosialisasi Lomba Kampung Mbois 2026, Wali Kota Malang Tekankan Perubahan Perilaku dan Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

CITILIVE,MALANG — Pemerintah Kota Malang melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menggelar Sosialisasi Penyelenggaraan Lomba Kampung Mbois Tahun 2026 di Mini Block Office (MBO) lantai 4, Kota Malang. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong keterlibatan masyarakat dalam mewujudkan lingkungan permukiman yang bersih, sehat, indah, dan berkelanjutan.

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menegaskan, kemajuan kota tidak cukup diukur dari pembangunan infrastruktur maupun pertumbuhan ekonomi. Kualitas lingkungan permukiman, kebersihan wilayah, kesehatan masyarakat, dan kepedulian warga dalam menjaga lingkungan juga menjadi indikator penting kemajuan sebuah kota.

Menurut Wahyu, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri untuk mewujudkan Kota Malang yang bersih, sehat, nyaman, dan berkelanjutan. Diperlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, mulai dari rumah tangga, RT, RW, hingga kelurahan.

“Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. Diperlukan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat,” tegasnya dalam sambutan sosialisasi.

Ia menjelaskan, penyelenggaraan Lomba Kampung Mbois merupakan bagian dari upaya menggerakkan program Dasa Bakti Wali Kota dan Wakil Wali Kota Malang, khususnya Ngalam Rijik dan Ngalam Seger.

Ngalam Rijik diarahkan untuk membangun budaya hidup bersih dan tertib, sedangkan Ngalam Seger mendorong terwujudnya lingkungan yang sehat, hijau, asri, dan nyaman. Kedua program tersebut, kata Wahyu, harus diwujudkan melalui tindakan nyata dan berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan seremonial.

Kampung Mbois bukan sekadar lomba

Wahyu menyebut Lomba Kampung Mbois sebagai salah satu instrumen untuk memperkuat partisipasi masyarakat dalam mengelola lingkungan permukiman. Program ini sekaligus menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah daerah, kecamatan, kelurahan, pengurus RW, kader lingkungan, dan masyarakat.

Kampung Mbois memiliki lima unsur utama, yakni mandiri, bersih, olah sampah, indah, dan sehat. Kelima unsur tersebut harus diwujudkan secara terpadu agar perubahan lingkungan tidak berhenti pada penampilan fisik semata.

Baca Juga:  Tembus Kompetisi Nasional di Bali, Novina Suryaningtyas, Raih Medali dari Poster Bertema Lingkungan

Unsur mandiri menekankan kemampuan masyarakat untuk mengelola dan mengembangkan lingkungan secara berkelanjutan. Unsur bersih diwujudkan melalui kebiasaan menjaga kebersihan dan mengurangi timbulan sampah.

Sementara itu, unsur olah sampah mendorong pemilahan sampah sejak dari sumbernya, pengurangan sampah yang dibuang ke tempat pemrosesan akhir, serta pengembangan pengolahan melalui komposting, pemanfaatan kembali, dan penguatan bank sampah.

Adapun unsur indah mencakup penataan permukiman, penghijauan, dan pemeliharaan fasilitas umum. Unsur sehat diarahkan pada penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, pemeliharaan sanitasi, kebersihan saluran drainase, serta pencegahan pencemaran lingkungan.

Wahyu menekankan, kampung yang bersih secara visual belum cukup apabila masyarakat belum mampu mengelola sampah, menjaga sanitasi, dan mempertahankan lingkungan secara konsisten.

“Lomba Kampung Mbois bukan semata-mata ajang untuk mencari juara atau memperoleh penghargaan. Lomba ini harus menjadi pemicu lahirnya gerakan bersama dan perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola lingkungan,” ujarnya.

Camat dan lurah diminta aktif melakukan pendampingan

Dalam kesempatan tersebut, Wahyu meminta camat dan lurah mengambil peran aktif dalam menyukseskan penyelenggaraan Lomba Kampung Mbois 2026. Pendampingan diperlukan agar masyarakat memahami tujuan program, mekanisme pelaksanaan, dan indikator penilaian.

Ia juga mengajak para ketua RW menjadi penggerak perubahan di wilayah masing-masing melalui penguatan komunikasi warga, pelibatan kader lingkungan, kegiatan pemilahan dan pengolahan sampah, kerja bakti, pemeliharaan drainase, serta penghijauan.

Menurut Wahyu, inovasi lingkungan tidak harus dimulai dengan program besar atau membutuhkan biaya tinggi. Perubahan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana di tingkat rumah tangga, seperti memilah sampah, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, menjaga kebersihan halaman, dan merawat fasilitas umum.

Pemerintah berharap setiap RW mampu mengembangkan ciri khas dan inovasi sesuai dengan potensi wilayahnya. Dengan begitu, kompetisi tidak hanya mendorong penataan kampung menjelang penilaian, tetapi juga membangun budaya menjaga lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga:  Mengetahui Sejarah Permusikan, bisa Melalui Kunjungan ke Museum Musik Indonesia

Keberlanjutan menjadi tolok ukur

Wahyu mengingatkan agar masyarakat tidak hanya berbenah ketika penilaian lomba berlangsung. Menurutnya, keberhasilan program justru ditentukan oleh kemampuan warga mempertahankan kebiasaan baik setelah kompetisi selesai.

“Jangan sampai kebersihan dan keindahan kampung hanya dipersiapkan untuk menghadapi lomba. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kebiasaan baik tersebut terus berjalan setelah lomba selesai,” pesannya.

Melalui sosialisasi yang diselenggarakan DLH tersebut, Pemkot Malang berharap peserta memahami tujuan dan indikator Lomba Kampung Mbois sekaligus memanfaatkan forum itu untuk bertukar gagasan, berbagi praktik baik, dan mengembangkan inovasi pengelolaan lingkungan.

Wahyu optimistis, keterlibatan masyarakat dari tingkat RW hingga kelurahan akan memperkuat upaya mewujudkan Kota Malang yang bersih, sehat, indah, dan nyaman untuk ditinggali.

Gerakan tersebut sekaligus diharapkan memperkuat semangat gotong royong serta menjadikan Ngalam Rijik dan Ngalam Seger sebagai kebiasaan nyata masyarakat, bukan hanya slogan program pemerintah. (Shin)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *