Museum Keliling Kenalkan Jejak Sejarah Keris Kepada Siswa SMPN 23 Kota Malang
SMARTLIVE,MALANG — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang mengenalkan sejarah keris dan sejumlah benda cagar budaya kepada siswa SMP Negeri 23 Kota Malang melalui program Museum Keliling, September 2026.
Berbeda dengan materi untuk jenjang sekolah dasar, Museum Keliling untuk siswa SMP diarahkan pada pemahaman sejarah dan nilai budaya di balik artefak. Keris menjadi salah satu materi utama yang diperkenalkan karena memiliki keterkaitan dengan perkembangan tradisi masyarakat di Nusantara.

Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kota Malang Juli Handayani mengatakan, program Museum Keliling menjadi sarana untuk memperkenalkan peninggalan sejarah kepada generasi muda sejak usia sekolah.
“Supaya anak-anak tahu peninggalan sejarah dan berasal dari mana saja,” ujar Juli.
Menurut Juli, pengenalan tersebut tidak sebatas mengenalkan bentuk benda bersejarah. Siswa juga didorong memahami asal-usul serta nilai budaya yang terkandung dalam peninggalan tersebut.
Penanggung jawab Museum Keliling Disdikbud Kota Malang, Rakai Hino Galeswangi, mengatakan materi untuk siswa SMP dibuat lebih mendalam dengan menggunakan benda cagar budaya sebagai media pembelajaran.

“Kita bawa keris dan arca atau benda cagar budaya yang berhubungan dengan keris,” katanya.
Dalam pembelajaran tersebut, Museum Keliling membawa sejumlah artefak, termasuk arca yang pada bagian belakangnya diidentifikasi menampilkan senjata keris. Artefak itu digunakan untuk menunjukkan kepada siswa bahwa tradisi penggunaan keris memiliki jejak sejarah yang panjang.
Rakai menjelaskan, pendekatan melalui artefak membantu siswa melihat hubungan antara tradisi yang masih dikenal masyarakat saat ini dengan kehidupan pada masa lampau.
“Fungsinya supaya anak-anak di tataran sekolah menengah lebih mengenal bahwa nilai tradisi yang ada di wilayahnya itu sudah ada sejak zaman dulu,” jelasnya.
Selain keris, siswa juga diperkenalkan dengan sejumlah arca dan tokoh yang berkaitan dengan perjalanan sejarah kawasan Malang dan Jawa Timur. Di antaranya arca Ganesha serta tokoh yang memiliki keterkaitan dengan sejarah Kerajaan Kediri hingga Singhasari.
Menurut Rakai, pengenalan keris juga mencakup pengetahuan mengenai proses pembuatannya yang berkaitan dengan Warisan Budaya Takbenda (WBTB). Karena itu, benda yang dibawa dalam program Museum Keliling tidak sekadar ditampilkan sebagai koleksi, tetapi menjadi sumber untuk memahami sejarah dan tradisi.
“Harapannya adik-adik, khususnya di SMP 23, supaya bisa melestarikan nilai tradisi dan warisan budaya tak benda, baik yang mereka ketahui maupun yang belum mereka ketahui,” ujarnya.
Siswa Antusias Pelajari Sejarah Lokal

Guru Kesiswaan SMPN 23 Kota Malang, Puji, mengatakan siswa antusias mengikuti materi yang disampaikan tim Museum Keliling. Kehadiran pengelola museum dinilai memberi pengalaman berbeda karena siswa dapat memperoleh penjelasan sejarah sekaligus melihat artefak secara langsung.
“Kami bersyukur dari Museum Mpu Purwa bisa memberikan informasi tentang sejarah di Kota Malang, walaupun hanya sedikit yang disampaikan,” kata Puji.
Ia menyebut rasa ingin tahu siswa terlihat dari interaksi selama kegiatan. Sejumlah siswa aktif mengikuti penjelasan dan mengidentifikasi tokoh maupun latar sejarah dari artefak yang diperkenalkan.
“Keingintahuan mereka berkaitan dengan apa yang disampaikan juga luar biasa. Anak-anak sangat antusias,” ujarnya.
Namun, keterbatasan waktu membuat materi sejarah yang disampaikan belum dapat dibahas secara lebih mendalam. Pihak sekolah pun berharap kegiatan tersebut dapat dilanjutkan melalui kolaborasi dengan Museum Mpu Purwa.
Puji berharap siswa dapat memperoleh kesempatan mengunjungi museum secara langsung sehingga pembelajaran tidak hanya berlangsung di sekolah.
“Kami berharap ke depannya bisa berkolaborasi bersama dengan Museum Mpu Purwa. Mungkin dari beberapa mata pelajaran kami bisa berkunjung ke sana,” pungkasnya.
Program Museum Keliling tersebut menjadi salah satu upaya mendekatkan koleksi museum dan sejarah lokal kepada pelajar. Pembelajaran melalui artefak diharapkan membuat siswa tidak hanya menghafal nama dan periode sejarah, tetapi memahami jejak tradisi serta pentingnya menjaga warisan budaya.
