Cuaca Panas dan Terik, Waspadai 5 Masalah Kesehatan Ini!
SPOOTLIVE – Bibir pecah-pecah, kulit terasa kasar, hingga tumit kaki kering dan bersisik kerap dianggap sebagai masalah kulit biasa. Padahal, kondisi tersebut bisa semakin sering muncul ketika cuaca panas dan udara kering melanda selama musim kemarau.
Paparan sinar matahari, kelembapan udara yang rendah, serta kebiasaan kurang minum dapat memengaruhi kondisi kulit. Jika tidak dirawat dengan tepat, kulit bisa terasa semakin kering, gatal, bahkan mengalami iritasi.
Karena itu, menjaga kesehatan kulit selama musim kemarau tidak cukup hanya dengan menggunakan pelembap sesekali. Masyarakat juga perlu memperhatikan asupan cairan, kebiasaan mandi, serta perlindungan kulit saat beraktivitas di luar ruangan.
- Bibir Pecah-Pecah, Jangan Sering Dijilat
Bibir termasuk bagian tubuh yang mudah kehilangan kelembapan karena lapisan pelindungnya relatif tipis. Saat cuaca panas dan kering, bibir dapat terasa kasar, mengelupas, hingga pecah-pecah.

Kebiasaan menjilat bibir justru dapat memperburuk kondisi tersebut. Air liur yang menguap bisa membuat bibir semakin kering.
Untuk mengatasinya, gunakan pelembap bibir atau lip balm yang mengandung bahan seperti petrolatum. Pilih produk dengan perlindungan terhadap sinar matahari saat beraktivitas di luar ruangan.
Hindari menarik kulit bibir yang mengelupas karena dapat menimbulkan luka. Jika bibir terus meradang, berdarah, atau tidak kunjung membaik, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga kesehatan.
- Tumit Kaki Kering hingga Pecah-Pecah
Tidak hanya bibir, tumit kaki juga rentan mengalami kekeringan selama musim kemarau. Kulit tumit yang menebal dapat kehilangan elastisitas sehingga mudah pecah, terutama ketika sering berjalan, berdiri lama, atau menggunakan alas kaki terbuka.

Perawatan sederhana dapat dimulai dengan mengoleskan krim pelembap setelah mandi. Produk yang mengandung urea dalam kadar yang sesuai atau petrolatum dapat membantu melembapkan kulit tumit.
Gunakan alas kaki yang nyaman dan hindari mengikis kulit tumit secara berlebihan. Jika tumit sudah pecah dalam, terasa nyeri, berdarah, atau menunjukkan tanda infeksi, jangan menunda pemeriksaan.
Bagi penderita diabetes atau gangguan sirkulasi darah, luka pada kaki perlu mendapat perhatian khusus dan sebaiknya diperiksakan lebih awal.
- Kulit Bersisik dan Gatal akibat Kehilangan Kelembapan
Kulit kering tidak selalu muncul dalam bentuk pecah-pecah. Sebagian orang mengalaminya sebagai kulit bersisik, terasa tertarik setelah mandi, atau gatal pada lengan dan tungkai.

Mandi terlalu lama menggunakan air panas serta sabun yang terlalu keras dapat menghilangkan minyak alami yang membantu menjaga kelembapan kulit.
Untuk mengurangi risiko tersebut, mandilah menggunakan air suam-suam kuku dengan durasi secukupnya. Gunakan pembersih yang lembut, lalu aplikasikan pelembap ketika kulit masih sedikit lembap.
Jika kulit mengalami kemerahan berat, gatal berkepanjangan, atau muncul luka, kondisi tersebut sebaiknya tidak dianggap sekadar efek cuaca karena bisa berkaitan dengan masalah kulit lainnya.
- Cuaca Panas Juga Meningkatkan Risiko Dehidrasi
Musim kemarau bukan hanya berkaitan dengan kesehatan kulit. Suhu panas dan aktivitas di luar ruangan juga dapat meningkatkan kehilangan cairan melalui keringat.
Ketika asupan cairan tidak mencukupi, seseorang dapat mengalami dehidrasi. Gejalanya antara lain rasa haus, mulut kering, urine berwarna lebih gelap, sakit kepala, hingga tubuh terasa lemas.
Biasakan minum air secara teratur sepanjang hari dan jangan menunggu sampai merasa sangat haus. Kebutuhan cairan setiap orang berbeda, bergantung pada usia, aktivitas, kondisi kesehatan, dan lingkungan.
Saat cuaca sangat panas, batasi aktivitas berat pada jam terik, cari tempat teduh, serta gunakan pakaian yang nyaman. Jika muncul kebingungan, pingsan, atau kondisi tubuh memburuk setelah terpapar panas, segera cari pertolongan medis.
- Jangan Lupakan Tabir Surya
Paparan sinar ultraviolet tetap perlu diwaspadai saat musim kemarau, terutama bagi orang yang banyak beraktivitas di luar ruangan.
Gunakan tabir surya atau sunscreen dengan SPF minimal 30 pada bagian kulit yang tidak tertutup pakaian. Aplikasikan secara merata sebelum beraktivitas dan ulangi sekitar setiap dua jam, atau lebih sering jika berkeringat banyak maupun setelah berenang.
Topi, pakaian pelindung, dan berteduh juga membantu mengurangi paparan sinar matahari langsung.
Perawatan Sederhana yang Bisa Dimulai dari Rumah
Menjaga kesehatan kulit selama musim kemarau tidak harus selalu dilakukan dengan perawatan yang rumit. Beberapa kebiasaan sederhana dapat membantu mempertahankan kelembapan kulit sekaligus mengurangi dampak cuaca panas.
Mulailah dengan mencukupi kebutuhan cairan, menggunakan pelembap secara rutin, menghindari mandi terlalu lama dengan air panas, serta melindungi kulit dari paparan sinar matahari.
Namun, penting untuk mengenali batas perawatan mandiri. Kulit yang pecah hingga berdarah, luka yang sulit sembuh, gatal berat, atau keluhan yang terus berulang memerlukan pemeriksaan tenaga kesehatan.
Dengan perawatan yang tepat dan kebiasaan sehari-hari yang lebih sehat, dampak musim kemarau terhadap kulit dapat diminimalkan. Jadi, jangan menunggu sampai bibir terluka atau tumit pecah-pecah untuk mulai memperhatikan kesehatan kulit.
