Abdul Mu’ti Dorong Pendidikan Muhammadiyah Malang Perkuat Mutu, Bukan Sekadar Fasilitas
SMARTLIVE – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI Abdul Mu’ti mendorong lembaga pendidikan Muhammadiyah di Kota Malang terus memperkuat mutu pendidikan, bukan hanya mengandalkan kelengkapan fasilitas dan bangunan sekolah.
Pesan tersebut disampaikan Abdul Mu’ti dalam Silaturahim Mendikdasmen Republik Indonesia dengan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Malang di Aula Kantor PDM Kota Malang, Sabtu (8/8/2026).
Dalam forum tersebut, Abdul Mu’ti menyoroti perubahan pola masyarakat dalam memilih sekolah. Menurutnya, orang tua kini semakin rasional dalam menentukan pendidikan bagi anak dan cenderung memilih sekolah yang mampu membuktikan kualitasnya.
“Sekarang ini masyarakat itu sudah lebih peduli dengan pendidikan yang bermutu, walaupun membayar mahal, daripada tidak membayar tetapi tidak layak mutu,” ujar Abdul Mu’ti.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi sekolah dan madrasah Muhammadiyah. Kepercayaan masyarakat harus dijawab dengan peningkatan kualitas secara berkelanjutan.
Abdul Mu’ti bahkan menggambarkan kondisi pendidikan di Malang dengan istilah “sekolah yang megah” dan “sekolah yang megahi”. Menurutnya, ada sekolah yang meski belum membuka penerimaan peserta didik baru sudah banyak diminati calon siswa. Sebaliknya, terdapat sekolah yang terus membuka pendaftaran tetapi masih kesulitan mendapatkan peserta didik.
“Memang kualitas pendidikan kita ini masih belum merata. Ini tidak hanya terjadi di lingkungan pendidikan swasta, di lingkungan pendidikan negeri juga masih ada persoalan menyangkut kecenderungan mutu pendidikan,” tegasnya.
Mutu Jadi Penentu Pilihan Orang Tua
Menurut Abdul Mu’ti, fasilitas fisik tetap penting dalam penyelenggaraan pendidikan. Namun, fasilitas tidak cukup menjadi ukuran utama keberhasilan sebuah sekolah.
Kualitas guru, proses pembelajaran, pembentukan karakter, serta kemampuan sekolah memberikan layanan pendidikan yang sesuai kebutuhan masyarakat menjadi faktor yang semakin menentukan.
“Pertanyaannya kenapa seperti itu? Ya jawabannya memang mutu,” katanya.
Ia mencontohkan fenomena sekolah yang memiliki banyak peminat meskipun biaya pendidikannya relatif tinggi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian masyarakat bersedia mengeluarkan biaya lebih besar selama memperoleh pendidikan yang dianggap berkualitas.
Fenomena itu juga terlihat pada pertumbuhan sejumlah sekolah Islam terpadu yang menurut Abdul Mu’ti mampu berkembang karena menawarkan kualitas pendidikan yang menjadi perhatian orang tua.
“Orang concern pada mutu,” ujarnya.
Pendidikan Muhammadiyah Malang Mulai Diminati
Dalam kesempatan yang sama, Ketua PDM Kota Malang Prof. Dr. H. Abdul Haris, M.A., memaparkan perkembangan pendidikan Muhammadiyah di Kota Malang.
Saat ini Muhammadiyah Kota Malang memiliki enam sekolah dasar. Empat di antaranya disebut telah masuk kategori unggulan. Bahkan, sejumlah sekolah sudah mendapatkan calon peserta didik untuk tahun ajaran berikutnya.
“Kalau di SD itu dari enam SD, empat SD sudah termasuk SD yang unggulan. Untuk tahun depan sudah ada yang inden, paling tidak sudah satu kelas,” jelas Abdul Haris.
Perkembangan positif juga terjadi pada jenjang SMP. Dari empat SMP Muhammadiyah, salah satunya telah masuk kategori unggulan dan mulai memperoleh calon peserta didik untuk tahun berikutnya.
Sementara pada jenjang SMK, dua sekolah Muhammadiyah disebut mampu memperoleh peserta didik lebih dari 100 siswa.
“SMK kita punya dua, alhamdulillah dua-duanya bisa mendapatkan siswa yang banyak. Kalau dari sisi kuantitas, dua SMK kita termasuk yang mendapatkan siswa di atas seratus,” katanya.
Pada jenjang madrasah, salah satu dari dua MTs Muhammadiyah juga mampu memperoleh lebih dari 100 peserta didik pada tahun ini. Sementara dua Madrasah Aliyah (MA) masih dalam tahap pengembangan.
Jangan Berhenti pada Capaian Jumlah Siswa
Abdul Mu’ti menilai meningkatnya minat masyarakat terhadap sekolah Muhammadiyah harus menjadi momentum untuk memperkuat kualitas secara berkelanjutan.
Pertumbuhan jumlah peserta didik, menurutnya, tidak boleh berhenti sebagai capaian kuantitatif. Sekolah harus memastikan kepercayaan tersebut diikuti peningkatan kualitas pembelajaran dan layanan pendidikan.
Di tengah perubahan demografi yang membuat jumlah anak usia sekolah semakin terbatas, persaingan antarlembaga pendidikan juga akan semakin ketat.
“Jumlah anak usia sekolah terbatas, maka tentu saja jumlah murid itu akan terbatas,” jelasnya.
Karena itu, sekolah yang mampu menawarkan mutu dan keunggulan yang jelas akan memiliki daya tarik lebih besar bagi masyarakat.
Pesan tersebut menjadi tantangan bagi pendidikan Muhammadiyah Kota Malang untuk mempertahankan tren positif sekaligus memperkuat kualitas guru, pembelajaran, karakter peserta didik, serta keunggulan masing-masing satuan pendidikan.
Dengan demikian, sekolah Muhammadiyah tidak hanya menjadi pilihan karena identitas organisasi, tetapi karena mutu pendidikan yang benar-benar dirasakan dan dipercaya masyarakat.
