Hari Pertama Sekolah Bukan Hanya Belajar, Disdikbud Kota Malang Ingatkan Orang Tua Kenali Tanda Anak Jadi Korban Bullying
CITILIVE– Hari pertama masuk sekolah Tahun Ajaran 2026/2027 menjadi momentum penting bagi orang tua untuk tidak hanya mengantar anak ke sekolah, tetapi juga memastikan mereka merasa aman dan nyaman selama mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Sejalan dengan pelaksanaan MPLS Ramah yang menitikberatkan pada pembentukan karakter tanpa perploncoan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi perundungan (bullying).
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang menegaskan bahwa seluruh satuan pendidikan telah diinstruksikan menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan, baik fisik, verbal, sosial, maupun digital.
“MPLS saat ini bukan lagi ajang perploncoan. Fokusnya adalah mengenalkan lingkungan sekolah, membangun karakter, memperkuat rasa saling menghormati, dan menciptakan suasana belajar yang aman bagi seluruh peserta didik,” ujarnya.
Dukung Gernas RANA, SMAN 2 Kota Malang Perkuat Sekolah Ramah Anak dan Antibullying
Meski demikian, Disdikbud mengingatkan bahwa pencegahan bullying tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif orang tua untuk mengenali perubahan perilaku anak sejak dini.
Berikut sembilan tanda yang perlu diwaspadai karena dapat mengindikasikan seorang anak menjadi korban bullying:
- Enggan Berangkat ke Sekolah
Anak yang biasanya antusias tiba-tiba sering mencari alasan untuk tidak masuk sekolah, mengeluh sakit, atau meminta diantar terus hingga ke dalam kelas.
- Perubahan Emosi yang Drastis
Anak menjadi lebih pendiam, mudah menangis, marah tanpa alasan jelas, atau terlihat cemas ketika membahas sekolah.
- Nilai Akademik Menurun
Kesulitan berkonsentrasi akibat tekanan psikologis dapat berdampak pada penurunan prestasi belajar.
- Kehilangan Barang Pribadi
Peralatan sekolah, uang saku, atau barang pribadi sering hilang tanpa penjelasan yang jelas.
21 Dosen UM Masuk 5 Persen Ilmuwan Terbaik Dunia, Kampus Siapkan 4 Fakultas Baru dan Perluas PJJ
- Luka atau Memar yang Tidak Jelas
Orang tua perlu bertanya apabila menemukan luka atau memar yang sulit dijelaskan penyebabnya.
- Menarik Diri dari Lingkungan Sosial
Korban bullying cenderung menghindari teman, memilih menyendiri, dan kehilangan minat mengikuti aktivitas yang sebelumnya disukai.
- Gangguan Tidur dan Nafsu Makan
Kesulitan tidur, mimpi buruk, hingga perubahan pola makan dapat menjadi tanda anak mengalami tekanan.
- Takut Menggunakan Ponsel atau Media Sosial
Bullying tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi juga melalui media sosial. Anak bisa tampak takut membuka ponsel atau terlihat sedih setelah membaca pesan tertentu.
- Kehilangan Kepercayaan Diri
Korban bullying sering merasa dirinya tidak berharga, minder, dan enggan tampil di depan umum.

Disdikbud Kota Malang mengimbau orang tua untuk membangun komunikasi terbuka dengan anak setiap hari, terutama setelah pulang sekolah. Pertanyaan sederhana seperti “Bagaimana kegiatanmu hari ini?” atau “Apakah ada yang membuatmu tidak nyaman di sekolah?” dapat membantu anak merasa aman untuk bercerita.
Selain itu, sekolah juga diminta memperkuat pengawasan selama MPLS dan proses pembelajaran berlangsung melalui peran guru, wali kelas, serta tim pencegahan dan penanganan kekerasan di satuan pendidikan.
“Jika menemukan indikasi perundungan, segera komunikasikan dengan pihak sekolah. Semakin cepat ditangani, semakin kecil dampak psikologis yang dialami anak,” tegasnya.
Melalui pelaksanaan MPLS Ramah 2026, Pemerintah Kota Malang berharap seluruh peserta didik baru dapat menjalani masa adaptasi di lingkungan sekolah dengan aman, nyaman, dan menyenangkan, sehingga mampu tumbuh menjadi generasi yang berkarakter, percaya diri, serta saling menghargai satu sama lain.
