Rektor UIN Malang: Pesantren Harus Jadi Pelopor Transisi Energi Berkeadilan
SMARTLIVE – Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Ilfi Nur Diana, menegaskan peran strategis pesantren dalam menjawab krisis lingkungan melalui upaya transisi energi berkeadilan.
Hal tersebut disampaikan dalam diskusi Instagram Live bertajuk “Pesantren Pelopor Transisi Energi Berkeadilan” yang diselenggarakan Institute for Essential Services Reform (IESR) bersama GreenFaith Indonesia. Dalam forum tersebut, Ilfi menekankan bahwa pesantren memiliki posisi penting sebagai pusat perubahan berbasis nilai keagamaan, terutama dalam membangun kesadaran lingkungan di tengah masyarakat.
Menurutnya, sistem pendidikan pesantren yang berlangsung selama 24 jam menjadi ruang efektif dalam membentuk karakter santri, termasuk dalam menanamkan kebiasaan ramah lingkungan dan hemat energi.
“Pesantren memiliki kekuatan besar untuk menjadi pelopor perubahan. Apa yang dibiasakan di pesantren akan tumbuh di tengah masyarakat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, transformasi menuju konsep eco-pesantren tidak harus dimulai dari langkah besar. Praktik sederhana seperti pengelolaan sampah, efisiensi energi, hingga pemanfaatan sumber daya lokal dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun kesadaran ekologis.
Lebih jauh, Ilfi menegaskan bahwa transisi energi bukan sekadar persoalan teknis, melainkan juga menyangkut aspek moral dan spiritual.
Menurutnya, nilai-nilai keagamaan yang diajarkan di pesantren dapat menjadi kekuatan utama dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat menuju pola hidup yang lebih berkelanjutan.
“Transisi energi adalah panggilan moral. Pesantren dengan nilai, keteladanan, dan kekuatan komunitasnya dapat menjadi motor penggerak,” tegasnya.
Diskusi tersebut juga menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, termasuk praktisi energi dan aktivis lingkungan, sebagai bagian dari upaya mendorong kolaborasi lintas sektor dalam mewujudkan transisi energi yang adil dan berkelanjutan di Indonesia. Melalui peran strategis tersebut, pesantren diharapkan tidak hanya mencetak generasi yang religius, tetapi juga memiliki kesadaran tinggi terhadap keberlanjutan lingkungan dan tanggung jawab sosial di masa depan.
