Model Edukasi Anti-Bullying UIN Malang Dorong Sekolah Ramah dan Aman bagi Siswa
SMARTLIVE — Upaya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan ramah bagi siswa terus didorong melalui pendekatan edukasi yang aplikatif. Mahasiswa KKM Unggulan PSGA 265 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menghadirkan model sosialisasi anti-bullying berbasis edukasi psikologis dan partisipatif yang menyasar siswa sekolah menengah.
Program sosialisasi edukasi bertajuk “Kenali, Cegah, Hentikan Bullying” ini dirancang untuk membantu siswa memahami bentuk-bentuk bullying, dampak psikologisnya, serta membangun keberanian bersikap saat menghadapi perundungan di lingkungan sekolah.
Model sosialisasi ini memadukan materi psikologi, regulasi emosi, permainan interaktif, hingga role play perspektif, sehingga siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mengalami langsung proses memahami dan menyikapi bullying secara sehat.

Konselor Puspaga Kabupaten Probolinggo, Ahmad Hafizi, S.Psi., M.Psi, yang terlibat dalam penyusunan materi, menekankan bahwa bullying kerap dipandang sepele, padahal dampaknya bisa sangat serius bagi perkembangan mental siswa.
“Bullying sering dimulai dari hal kecil seperti ejekan. Jika dibiarkan, dampaknya bisa merusak kepercayaan diri dan kesehatan psikologis korban,” jelas Hafizi, Minggu (1/2).
Salah satu keunggulan program ini adalah pendekatan experiential learning, di mana siswa diajak memahami perbedaan perspektif melalui simulasi sederhana namun reflektif. Metode ini membantu siswa melihat bahwa sikap pasif terhadap bullying sama berbahayanya dengan pelaku perundungan itu sendiri.
Selain pencegahan bullying, materi juga diarahkan untuk membangun lingkungan belajar yang positif, termasuk motivasi melanjutkan pendidikan dan menjaga kesehatan mental sebagai modal meraih masa depan.
Mahasiswa UIN Malang yang terlibat dalam pengembangan program ini menilai bahwa bullying tidak hanya berdampak pada korban, tetapi juga mengganggu iklim belajar secara keseluruhan. Karena itu, intervensi perlu dilakukan sejak dini dengan pendekatan yang sesuai karakter remaja.
Program sosialisasi ini juga dilengkapi dengan komitmen kolektif siswa melalui papan deklarasi anti-bullying, yang berfungsi sebagai pengingat visual dan simbol tanggung jawab bersama di lingkungan sekolah.
Berdasarkan evaluasi awal, pendekatan berbasis permainan dan simulasi dinilai efektif, terutama untuk mendorong partisipasi siswa yang cenderung pasif. Model ini direkomendasikan untuk diterapkan secara berkala dan diperluas ke sekolah lain dengan dukungan lembaga pendidikan dan pemerintah daerah.
Ke depan, tim pengembang mendorong penguatan program melalui pengukuran dampak berbasis data, seperti pretest dan posttest, agar efektivitas edukasi anti-bullying dapat terukur dan berkelanjutan. (Shin)
